Ini Penyebab Rupiah Melemah

Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Januari-Mei 2018. - Bisnis/Husin Parapat
29 Juni 2018 16:30 WIB Ilman A. Sudarwan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Tekanan dolar terhadap mata uang emering market dan kenaikan suku bunga BI 7 days (reverse) repo rate (BI-7DRR) dinilai sebagai faktor pemicu melemahnya nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah pada hari ini Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, salah satu faktor utama yang menyebabkan depresiasi rupiah hari ini adalah menguatnya nilai mata uang dolar AS ke arah indeks 95. Hal itu merupakan masalah terbesar yang membuat kurs mata uang di emerging market melemah, termasuk rupiah.

Selain itu, dia juga menilai naiknya suku bunga kebijakan BI 7 days (reverse) repo rate (BI-7DRR) sebanyak 50 bps belakangan ini juga turut memberi dampak negatif. Ditambah lagi dengan adanya kabar rencana kembali naiknya suku bunga kebijakan ke arah total 100 bps dalam waktu dekat.

“Hal ini menyebabkan tekanan jual di pasar saham dan obligasi,” katanya kepada Bisnis Jumat (29/6/2018).

Dia menuturkan, di pasar saham tekanan jual disebabkan oleh tingginya valuasi Indeks Harga Saham Gabungan terhadap pasar emerging market dan pasar di Asia Pasifik. Namun, dengan adanya ekspektasi kembali naiknya BI-7DRRR, menyebabkan tumbuhnya ekspektasi akan jatuhnya prospek earnings.

“Hal ini menyebabkan tekanan jual berlanjut karena valuasi saat ini menjadi relatif mahal,” ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan kurva yield di pasar obligasi saat ini mengindikasikan bahwa bila suku bunga kebijakan kembali naik, maka yield harus naik tajam. Artinya, harga harus jatuh 3%-5% lagi dari titik yang ada saat ini.

“Artinya, tekanan jual akan berlanjut sampai harga murah, semua ini berdampak pada tekanan rupiah akibat efek konversi ke USD,” ucapnya.

Selain itu, lanjut  Adrian, faktor naiknya harga minyak dunia juga menyebabkan ekspektasi investor memburuk terhadap kondisi defisit APBN. OPEC juga tampaknya mengalami kebuntuan untuk mencapai konsensus disertai dengan turunnya cadangan minyak di negara maju.

Hal ini diperparah dengan prospek CAD Indonesia yang diperkirakan akan terus melebar pada tahun ini. “Dan ini terjadi pada saat prospek pertumbuhan ekonomi semakin suram akibat naik tajamnya suku bunga kebijakan,” katanya.

Menurut  Adrian, isu perang dagang juga kemungkinan akan berimbas pada prospek pelemahan kurs Yuan. Dia menuturkan dengan mekanisme competitive depreciation kemudian akan berpotensi pelemahan terhadap rupiah terus berlanjut.

Dia menambahkan apabila melihat yield di pasar obligasi menunjukkan pasar sudah melakukan pricing-in atau antisipasi terhadap kenaikan suku bunga kebijakan sejumlah 50 bps.