Faktor Kekalahan Djarot-Sihar, Mirip Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta

Pasangan Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus memberikan keterangan soal hasil hitung cepat lembaga survei Pilkada Sumut 2018 di Medan, Rabu (27/6 - 2018). (Antara / Septianda Perdana)
28 Juni 2018 17:32 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kekalahan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) dalam Pilkada Sumatra Utara (Sumut) menjadi kekalahan kedua Djarot dua tahun berturut-turut. Tahun lalu, politikus PDIP itu berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan mengalami kekalahan serupa.

Kini Djarot kalah dari Edy Rahmayadi yang menggandeng Musa Rajekshah (Eramas) dengan perbandingan suara 42,8% berbanding 57,2%. Kekalahan ini punya kemiripan saat Ahok-Djarot dikalahkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Isu dan gaya kampanye sang calon juga menunjukkan kemiripan.

Selama kampanye, Eramas menunjukkan citra Islami untuk menggaet pemilih di kalangan warga beragama Islam yang merupakan 66,09% dari penduduk Sumut. Di luar angka itu, 30,01% penduduk Sumut merupakan gabungan pemeluk Kristen dan Katolik. Jika hal ini memang menjadi salah satu faktor penentu pilihan warga, maka Sihar sebagai representasi penduduk beragama Kristen sudah kalah angka.

Sementara itu, Edy-Musa mempunyai program gerakan salat subuh berjamaah dan diteruskan menjelang hari pencoblosan. Diakui atau tidak, pola kampanye tersebut mirip dengan Pilkada DKI Jakarta 2017. Ketika menjelang hari tenang, Anies Baswedan hadir dalam salat subuh berjamaah berjuluk Aksi 112 yang diorganisasi Forum Umat Islam (FUI).

Isu paslon "muslim-muslim" untuk pasangan Eramas tidak bisa dibendung karena penyebutan nama pasangan itu tidak melanggar hukum meski berbau sentimen agama.

Djarot-Sihar sebenarnya juga memiliki jurus untuk bertahan dan melakukan serangan balik meski diterjang isu terkait agama. Akan tetapi, hal itu tidak banyak membantu.
Apalagi kemudian isu pribumi Sumut juga muncul sepanjang masa kampanye.

Di sisi lain, Djarot boleh jadi berpengalaman di birokrasi, namun jabatan birokrasi itu dia emban di luar Sumut sehingga sulit baginya meyakinkan warga Sumut untuk memilihnya. Djarot merupakan orang Jawa, sedangkan Edy merupakan keturunan Melayu-Deli.

Karena itulah Edy tampak lebih percaya diri sebagai "putra daerah" dengan menggunakan logat daerah asalnya dalam beberapa kesempatan debat. Faktor terakhir ternyata cukup efektif untuk menggaet suara masyarakat pemilih tradisional Sumatera Utara sehingga menjadi faktor diferensiasi yang diperoleh Eramas. Hasil quick count pun menunjukkan keunggulan Eramas dengan selisih cukup besar.

Kolom 7 hours ago

Puser Parto