Good Bye Lebaran

Naimatur Rofiqoh (Istimewa)
27 Juni 2018 02:00 WIB Na\'imatur Rofiqoh (Ilustrator) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (23/6/2018). Esai ini karya Na'imatur Rofiqoh, ilustrator buku anak yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimatur@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Menjelang Lebaran lalu, saya pun mudik, mengikuti arus ombyaking manungsa Indonesia. Dua setengah jam perjalanan ramai lancar via Wonogiri, berhasillah saya mengalami perpindahan geografis dari Kota Solo ke Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

Sampai rumah jebul saya tidak mengalami culture shock yang mendalam. Sekarang jalan di depan rumah sudah diaspal mulus. Mobil gres dan motor-motor anyar war-wer ngulon-ngetandijalanan perdesaan. Untung kok belum ada yang nekat beli N-Max, lho...

Saya juga tak perlu berpamit pada warganet bakal terputus sementara dari pergaulan di media sosial yang disebabkan sinyal Internet belum masuk desa. Jaringan Internet di desa saya itu stabil, lancar terus.

Rasanya sudah lama sekali zaman mengirim pesan pendek dengan akhiran ”empat kali empat sama dengan enam belas, sempat gak sempat tolong dibalas” atau ”lz cpt gpl” itu.

Pada malam takbiran saya dibikin takjub oleh suara gitar dan melodi dangdut membarengi lisan-lisan berjemaah melantun “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar...” dari pengeras suara musala.

Di truk bak terbuka, para pemuda bertakbir seirama musik latar mengelilingi desa. Wih, apa mereka tidak khawatir dituduh bidah, memadu yang religius dan sekular begitu...?

Yang paling menandai nuansa Lebaran sejak tahun-tahun berlalu adalah tradisi bermaafan yang melanda lewat tulisan dan lisan. Lebaran sungguh jelmaan lain dari hari maaf nmasional.

Pada hari itu, rupa-rupa bahasa maaf menghujan dari dan kepada siapa saja. Ada yang berserah pada bahasa Arab ”Taqabbalallahu minna wa minkum...” Ada juga yang bersetia pada ”Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir dan batin.”

Pada hari-hari permulaan Ramadan, mata juga telanjur bertemu ucapan selamat dan permohonan maaf dari kardus kemasan air minum dalam kemasan botol plastik atau gelas plastik, pusat-pusat perbelanjaan yang menawarkan diskon, rupa-rupa iklan di telelevisi. Para tokoh politik, pejabat rupa-rupa lembaga, sekolah, perusahaan, negara pun mengucap maaf dengan cara serupa.

Sejak telepon genggam masih bertombol klutheg-klutheg sampai tinggal layar diseblak-seblak, jebul bahasa maaf saat Lebaran tak begitu mengalami inovasi yang radikal. Duh Gusti, sanggupkah saya memaafkan bahasa maaf yang serupa sejak tahun-tahun berlalu, sedangkan kita sudah makin kreatif melantunkan dosa tahun demi tahun.

Ucapan selamat Lebaran dan mohon maaf telanjur menjadi terlampau kolosal, sulit merasuk ke dalam diri. Ucapan-ucapan maaf itu berhasil melahir, tapi gagal membatin. Lebaran dan maaf dalam bahasa berubah menjemukan. Barangkali sebab itulah seorang teman mengirim kalimat permintaan maaf lugas di grup Whatsapp: ”Sorry ya, Cuuuuuuk!” Walah!

Perkara bahasa maaf itu masih terbawa juga saat saya sekeluarga dan serombongan tetangga melakoni tradisi Lebaran di desa. Tiap Lebaran, barangkali sejak puluhan dekade lampau, orang-orang muda mendatangi rumah para sesepuh desa, sowan untuk melebur dosa.

Istilah di desa saya ”sejarah”. Semasa kecil ”sejarah” ke lingkungan ini bisa berlangsung sejak pagi sampai sore. Pada masa yang lebih lampau, kata Mbah Kasiranto, saat saya sowan ke rumahnya, 18 Juni 2018, ”sejarah” itu berlangsung lebih lama dan sakral.

Permintan maaf tak pernah sederhana. Seusai salam dan dipersilakan masuk, satu-satu para tamu menyalami Simbah, lalu terucaplah akad maaf, ”Ngaturaken sedaya kalepatan, Mbah. Sowan kula mriki, mbok bilih wonten tindak kula sakpecak, ucap kula saklimah, wulatan kula sajlerengan ingkang asal idine sarak lan ingkang mboten asal idine sarak. Ngaturaken sedaya kalepatan lair batin.

Jabat tangan itu baru dilepas setelah Simbah memberi jawaban,”Ya, Ndhuk. Sanadyan aku wong tuwa, yen ana kaluputane ya nyuwun sepura. Wong tuwa ora bisa nyangoni apa-apa. Isane mung ndongakke apa sing mbok seja bisa kelakon, lan wong tuwa mung nyangoni donga kuwat slamet lair batin. Muga-muga dosamu lan dosaku lan dosane sak kluwargamu, Gusti Allah paringngapura, lebur dosa ana dina riyaya iki.

Dulu, satu demi satu orang bakal mengucap dan mendapat jawaban panjang yang sama, bocah-bocah kecil, remaja, dewasa. Seusai ritual akad maaf berlangsung, barulah tetamu duduk, menjumput satu atau dua hidangan Lebaran yang tersaji: rengginang, kerupuk ikan, untir-untir, kuping gajah, kacang bawang, ketela goreng, gadhung, menyeruput orson yang tidak anyep, lalu obrolan berlanjut secukupnya, bocah-bocah cilik bungah mendapat sangu, barulah rombongan berpamitan.

Pamitan dilakukan oleh pemimpin rombongan dalam pakem Lebaran yang sampai hari ini masih sama,”Mbah, sarehne sampun kasil anggen kula silaturahmi, kula sakanca badhe nerusaken lampah.”

Semasa kecil, adegan ini benar-benar yang paling membosankan. Bagi saya kala itu, Lebaran hanya berarti beberapa hal duniawi. Punya baju baru, makan jajanan enak dan banyak, dapat sangu. Tak sedikit pun kekhusyukan dapat saya rasakan dalam bahasa Jawa yang ndakik-ndakik itu.

Kata bapak saya, dulu generasi enom mesti belajar lama pada para simbah yang sudah sepuh untuk bisa fasih mengucap kulanuwun, akad maaf, berpamit. Saat diri ini sudah menapak 24 tahun, kok ya, malah ada kerinduan terselip untuk mengalami bahasa maaf serupa dulu.

Betapa bahasa yang barangkali hanya tinggal dimiliki oleh orang-orang ndesa ini, meski dilantunkan dalam cara serupa tahun demi tahun, meresapkan ketulusan yang melampaui bahasa ndakik-ndakik yang terucap.

Meski panas dan sumuk, tak jua orang-orang menyurut buat mempersingkat waktu dan kata. Ada kabar yang masih saling terbagi dan doa kecil tersembul di sela kriukan rengginang dalam kaleng Khong Guan atau tawa gurih bocah-bocah.

Tergesa-Gesa

Jebul, kerinduan itu tak menemui pelunasan. Tahun ini, ketua rombongan ”sejarah”, Pak Atim, memutuskan untuk menyesuaikan diri dengan laju zaman. Para simbah pun jebul sangat terbuka pada perubahan. Tradisi ”sejarah” pada 16 Juni 2018 itu jadi berlangsung dalam protokol yang singkat, padat, dan dalam tekat melawan ”selak panas!”.

Kulanuwun, salaman dua detik, lalu mak brabat, pamit. Bahasa maaf dalam kalimat-kalimat Jawa yang panjang itu sudah tidak saya dapatkan, kecuali di rumah Mbah Kasiranto yang sempat berbagi cerita ”sejarah” pada masa lalu.

Rengginang, untir-untir, kuping gajah, marning, kerupuk ikan pun sudah mulai tereliminasi dari panggung suguhan Lebaran. Biskuit Monde, Monde EggRolls, wafer Tango, Oreo Selectionyang wuih memanjakan lidah dengan aneka rasa Oreo yang nyuss itu, permen Fox, Chocholatos, Recheese Nabati, Roka Wafer Ball, Okky Jelly Drink,dan aneka minuman kemasan dalam ukuran secukupnya dengan jemawa menempati ruang utama Lebaran.

Hidangan-hidangan yang mangkin canggih itu juga hanya bisa tercuil sedikit. Sekarang, dari rumah para simbah yang berharap sedikit diriung agak lama, bukan secuil doa yang mengiring tubuh saat pamit, tapi kalimat ”Lha, kok kesesa mawon...”, ”Kok tergesa-gesa saja”, alias grusa-grusu...

Oalah, Mbah, Mbah, wong kecepatan Internet sudah sampai generasi keempat, lho, masak minta maaf saja kok masih pakai lama-lama... Belum siang saat saya dan rombongan sampai di rumah terakhir. Bocah-bocah cilik kini sudah dapat sangu dalam amplop Lebaran lucu-lucu.

Yang remaja sibuk bergaya dan berpotret di jalanan beraspal yang lengang. Yang sebaya dengan saya bergandeng mesra dengan suami atau istri, mengelus perut membuncit, atau memanjakan putra pertama yang sedang unyu-unyu-nya. Di jagat maya, saya intip potret-potret indah #OOTDLebaran #HappyEidMubarak meminta maaf lahir dan batin pada dunia.

Lebaran makin profan saja rasanya... Sepotong semangka segar tiba-tiba menghampiri saya, bareng suara ramah menjawil telinga, “Mbak Iqoh, kapan rabi?” Saya tersenyum manis. Kalau ini, saya sudah punya jawabannya,”Njing Sapar, Lik... Saparingane Gustiii...

 

 

Kolom 12 hours ago

Spekulasi