Membaca pada Hari Raya

Hanputro Widyono (Istimewa)
24 Juni 2018 05:00 WIB Hanputro Widyono (KT Makamhaji) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (18/6/2018). Esai ini karya Hanputro Widyono, anggota Karang Taruna Bitaris di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Alamat e-mail penulis adalah hanputrowidyono@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--”Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar.” Bukan, itu bukan suara para pendemo. Itu kumandang takbir yang mengudara dari corong masjid-masjid. Jenis suaranya berbagai-bagai.

Ada suara anak-anak yang cempreng tapi penuh keceriaan. Ada suara takbir remaja yang berharap mendapat perhatian gadis tetangga desa. Ada juga suara berat lelaki paruh baya yang penuh ketakziman.

Semuanya tampak bergembira menyambut datangnya hari raya Idulfitri keesokan harinya. Pada pukul 21.00 WIB, Kamis (14/6), masjid masih ramai dan makanan pun berlimpah, tapi saya memutuskan untuk pulang.

Kawan-kawan menuduh saya pulang sebab mau menonton pertandingan pembuka Piala Dunia 2018. Saya biarkan saja tuduhan itu. Rasanya saya tak mungkin menjelaskan alasan yang lebih tepat, bahwa saya pulang untuk bersiap-siap membaca.

Alasan itu terlalu biasa, tidak seistimewa menonton pembukaan Piala Dunia 2018. Lagi pula, saya tak mungkin menjelaskan secara luas bahwa saya dan teman-teman di Bilik Literasi Solo, Kelab Buku Semarang, dan Kelas Bahasa Indonesia, Pare, Kediri telah bermufakat untuk membaca pada hari raya.

Permufakatan itu terjadi sejak 12 Mei 2018 di Omah Petroek, Karangklethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya dan kawan-kawan hendak menantang diri, melawan malas dan lena dalam berlibur, atau menjadi orang sibuk hingga mesti cuti membaca.

Sampai di rumah, saya lekas menyambar La Bete Humaine (2018) yang masih terbungkus plastik sekalipun saya mendapatkannya pada 6 Juni 2018. Keputusan itu tidak perlu menunggu sidang, cukup sebaris kalimat dari Setyaningsih, kawan saya di Bilik Literasi Solo, yang datang lewat pesan pendek.

”Teman2 yang beriman, buku Lebaran boleh dibuka sejak jam 9 malam di malem Lebaran (14 Juni 2018). Pastikan waras jiwa dan raga di kampung halaman. Selamat menjadi pembaca, apapun yang terjadi di 2 hari Lebaran.” Begitu pesan pendek tersebut yang saya kutip secara verbatim.

Sreek, bungkus plastik saya sobek. Kolofon buku garapan Emile Zola saya buka. Blaik, 560 halaman! Novel itu mesti saya khatamkan selama dua hari yang ramai. Sesungguhnya itu waktu yang lebih dari cukup.

Nalar matematika saya mulai berhitung: dengan kecepatan membaca sekitar 50 halaman sejam berarti perlu 11 jam untuk menandaskannya, tapi ini Lebaran, je. Rumah ramai didatangi tetangga dan sanak saudara.

Tugas saya adalah membuat minuman dan mencuci gelas-gelas yang telah terpakai. Keluarga saya cukup konvensional untuk menghormati tamu-tamu dengan menyuguhkan minuman-minuman nonkemasan, seperti teh panas, sirup prambos, atau es.

Kalau diperkirakan, bakal ada seratusan orang mbanyu mili mampir ke rumah dalam sehari. Membayangkan saja membuat diri ini minder dan ingin segera menghilang di balik layar.

Di luar, takbir masih terdengar. Saya mulai mencoba membaca. Halaman pertama lancar jaya. Memasuki halaman kedua, suara Robbie Williams menyergap masuk meminta perhatian. Suara Robbie pertanda upacara pembukaan Piala Dunia 2018 telah dimulai.

Konsentrasi membaca goyah, tapi saya tetap bersikukuh menekuri halaman demi halaman hingga akhirnya semua lini pertahanan membaca runtuh saat peluit tanda pertandingan antara Rusia melawan Arab Saudi dimulai.

Bukan Representasi

Membaca, sejauh yang saya ketahui, bersifat sangat individual. Pembaca langsung dihadapkan pada teks yang telah lepas dari penulisnya. Kebebasan menjadi hak mutlak pembaca untuk bersepakat, menolak, atau mengkritik isi teks.

Saking privatnya dialog yang terjalin antara pembaca dan teks, hasil pembacaan itu bisa sangat berbeda-beda. Rumus–rumus bakal sulit diterapkan. Tak perlu heran jika mahajana menganggap membaca sebagai sebentuk aktivitas yang eksklusif, membutuhkan ruang dan waktu khusus.

Semestinya membaca tak perlu eksklusif. Anggap saja membaca tak ada beda dengan aktivitas menyapu, mencuci, atau main gim. Keeksklusifan hanya bakal membawa pembaca menjadi individu-individu sombong dan sok paling mengerti. Hal demikian tentu tak kita dambakan.

Seusai Salat Idulfitri, kembali saya menekuri La Bete Humaine. Novel berlatar Prancis tahun 1869-an itu menyajikan narasi perkeretaapian dan kisah tragis keluarga, skandal seks, pembunuhan, dan lain sebagainya. Gaya bahasa terjemahan Djokolelono begitu lancar dan enak dinikmati.

Rumah masih sepi, belum ada tetangga yang mampir. Di dapur, kesibukan sudah terasa. Ibu saya menyiapkan sarapan. Jika tak butuh bantuan, biasanya ibu membiarkan saya membaca. Hari itu, sekitar pukul 07.30 WIB, ibu memanggil saya dan memperingatkan,”Macane mengko maneh!”

Barangkali membaca pada hari raya Idulfitri menjadi pemandangan ganjil buat ibu saya, dan mungkin juga bagi banyak orang lainnya, sekalipun itu tak melanggar hukum. Pada hari raya-hari raya sebelumnya, saya memang belum pernah melakukan demikian ini.

Ini pengalaman pertama yang mendebarkan dan menengangkan. Detik demi detik berlalu tanpa kata-kata yang terbaca. Orang-orang mulai berdatangan. Kesibukan saya sebagai ”orang belakang” mewujud dalam suguhan minuman.

Kakak sepupu saya berkelakar saat melihat kesibukan saya membuat minuman. ”Wah, wedangmu laris ngono, Trok!” kata dia. ”Iya, nek meh diitung, dhuwite isa tak nggo bakdan taun ngarep,” balas saya. Kami dan beberapa orang lain yang mendengar candaan itu ikut tertawa.

Dari pagi hingga menjelang Salat Jumat, jelas saya tak bisa membaca. Sialnya, saat tamu-tamu mulai sepi dan bisa membaca di kamar, tak lama kemudian saya terlelap.

Membaca pada malam hari hampir tak bisa diharapkan. Godaan menonton Piala Dunia 2018 terasa sangat besar, apalagi sanak saudara asyik meriung di rumah saya. Pada hari kedua Lebaran, pola aktivitas tak banyak berubah, sekalipun jumlah tamu lebih sedikit.

Pada saat terakhir saya hanya mampu membaca La Bete Humaine sebanyak 210 halaman. Kegagalan mengkhatamkan novel menjadi derita tersendiri. Pada hari raya banyak orang yang memilih cuti dari aktivitas membaca.

Mereka memilih meriung bersama keluarga, menonton film dan sepak bola, maupun berlibur ke tempat-tempat wisata. Saya tak hendak mengatakan kegagalan saya membaca pada hari raya itu representasi daya membaca orang Indonesia. Sungguh, sama sekali bukan.