Senangnya Pria Rohingya Rayakan Lebaran 2018 Pakai Celana Panjang

Pria Rohingya merayakan Lebaran 2018 di Bangladesh (Wahingtonpost.com)
19 Juni 2018 04:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, DHAKA Ada yang berbeda dengan perayaan Idulfitri 2018 bagi warga Rohingya. Mereka yang terusir dari kampung halaman di Rakhine, Myanmar, merayakan Idulfitri di pengungsian Cox's Bazaar, Kutupalong, Bangladesh. Mereka menyambut perayaan Idulfitri yang jatuh pada hari Sabtu (16/6/2018), dengan penuh suka cita.

Meski hidup dalam kesulitan, ada satu hal yang membuat kaum pria dari Rohingya gembira. Mereka akhirnya bebas mengenakan celana panjang yang selama ini dilarang. Seorang warga Rohingya, Abdul Aziz, 28, mengatakan, tidak pernah tahu rasanya memakai celana panjang. Sebab, selama ini warga Rohingya hanya boleh mengenakan sarung tradisional yang disebut longyis. Sarung itu berfungsi seperti seragam untuk mengidentifikasi status mereka. Pria Rohingya yang nekat memakai celana bakal ditangkap dan didenda oleh pemerintah Myanmar.

Kini, larangan memakai celana panjang tak lagi berlaku bagi warga Rohingya. Mereka sangat senang akhirnya bisa merasakan nikmatnya memakai busana tersebut. "Akhirnya saya merasakan hidup dengan prinsip demokrasi. Saya bisa merasakan nikmatnya memakai celana panjang," kata Abdul Aziz seperti diwartakan The Washington Post, Minggu (17/6/2018).

Abdul Aziz dan sejumlah pria Rohingya lainnya mengenakan celana jin biru yang dipadukan dengan kemeja putih untuk salat id. "Saya tidak pernah memiliki celana pendek maupun panjang dalam hidup saya. Baru kali ini saya bisa membelinya di pasar lokal dari hasil upah yang diberikan atas pekerjaan saya," sambung dia gembira.

Perayaan Lebaran 2018 terasa sangat berbeda bagi pengungsi Rohingya yang masih bertahan di Bangladesh. Mereka yang sudah tak tahan hidup dalam kesulitan melakukan aksi demonstrasi sesuai menunaikan salat id. Dikabarkan Channel News Asia, warga Rohingya menuntut keadilan dan proses pemulangan ke Myanmar (repatriasi) dipercepat dan dilakukan secara bermartabat.

Warga Rohingya menuntut status kewarganegaraan dari pemerintah Myanmar dan jaminan perlindungan keamanan yang dijanjikan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka juga menggelar doa bersama memohon perlindungan Tuhan dari bencana banjir dan tanah longsor akibat pergantian musim.