Balon Udara di Wonosobo dan Wonogiri Ganggu Pilot Pesawat

Ilustrasi menerbangkan balon (drhelmspickett.com)
17 Juni 2018 10:30 WIB Cahyadi Kurniawan Nasional Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Kementerian Perhubungan menerima sejumlah laporan dari pilot pesawat tentang balon udara yang beterbangan di beberapa wilayah. Penerbangan balon udara sangat tidak dianjurkan karena mengancam keselamatan penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, mengatakan berdasarkan rilis informasi yang dia diterima pada H-1 Lebaran, balon udara itu terlihat di Wonosobo, Wonogiri, dan sejumlah daerah lainnya. "Sejumlah pilot melaporkan ada warga yang menerbangkan balon udara. Apakah satu objek dilihat beberapa pilot atau bagaimana saya belum tahu," ujar dia di sela-sela inspeksi ke Bandara Adi Soemarmo, Boyolali Sabtu (16/6/2018).

Penerbangan balon udara, lanjut Agus, perlu menjadi perhatian karena membahayakan keselamatan penerbangan. Dalam Pasal 411 UU No. 1/2009 disebut barangsiapa melakukan kegiatan membahayakan penerbangan diancam pidana maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp500 juta.

"Kami juga berupaya memperbaiki bandara, operator, pesawat, navigasi untuk mendapatkan pengakuan dunia justru ada kabar masyarakat menerbangkan balon udara. Kami imbau masyarakat tidak lagi menjajal balon itu karena membahayakan penerbangan."

Menurut Agus, balon udara bisa terbang hingga ketinggan 10 km di atas permukaan air laut dan itu adalah jalur internasional. "Kalau dunia komplain, apa kita enggak kerepotan? Kami susah payah menaikkan level of service ternyata ada masyarakat menerbangkan balon udara. Kami mengimbau masyarakat agar beralih ke kegiatan lain yang lebih positif ketimbang menjajal balon udara. Masyarakat merupakan bagian dari stakeholders untuk ikut menjaga keamanan penerbangan dan sebagai penerima manfaat dari jasa penerbangan," imbau dia.

Agus menambahkan pada H-1 Lebaran juga Indonesia menerima hadiah berupa pencabutan larangan terbangan (flight ban) dari Uni Eropa. Artinya seluruh maskapai penerbangan Indonesia yang berjumlah 62 maskapai kini bisa terbang melayani masyarakat dari dan ke Eropa.

"Pada malam takbiran, Indonesia sudah lepas dari banned Eropa. Kemarin sudah konferensi dengan Menteri Perhubungan dan Menteri Luar Negeri," ujar dia.

Ia menerangkan sejak dilarang terbang pada 2007, baru ada tujuh maskapai yang diizinkan terbang di Eropa selama 11 tahun terakhir. Oleh karena itu perlu terobosan agar seluruh maskapai Indonesia dicabut larangannya salah satunya perbaikan dengan penyesuaian-penyesuaian regulasi mengikuti standar internasional dan meningkatkan kapasitas inspektur.

"Inspektur harus lebih advance ketimbang yang diawasi. Yang diinspeksi bisa operator dari maskapai, aircraft, manufacturing, dan air navigation system," beber Agus.