Kisah Pilu Warga Palestina Rayakan Lebaran

Demo warga Palestina atas pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem, Senin (14/5 - 2018). (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)
16 Juni 2018 10:06 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, GAZA – Kekejaman tentara Israel yang membunuh 125 warga Palestina selama unjuk rasa di perbatasan Gaza mencuatkan kisah pilu saat perayaan Idulfitri.

Kesulitan ekonomi dari tahun-tahun pengucilan, perang, dan persaingan politik dalam negeri juga menggelapkan suasana hati warga di wilayah berpenduduk dua juta orang dan dikelola Hamas tersebut. Kawasan itu disebut ekonom Gaza memiliki tingkat pengangguran 49,9 persen.

"Ini adalah Idulfitri tersulit dalam hidupku," kata Worod al-Jamal, yang anak lelakinya berusia 15 tahun Haitham tewas akibat tembakan Israel dalam unjuk rasa pada 7 Juni, pada Kamis pada malam hari libur, sebagaimana diwartakan Antara dari Reuters, Kamis (14/6/2018).

Dia menunjukkan kepada wartawan celana jin, sepatu, dan kaus baru, yang dibeli putranya dua hari sebelum kematiannya. Membeli pakaian baru untuk anak-anak adalah bagian dari tradisi liburan.

Puluhan keluarga lain di Gaza juga berduka cita tahun ini. Memperdalam kemiskinan hanya menambah rasa putus asa.

"Situasinya buruk... Daya beli sangat lemah dan penjualan tahun ini berada pada titik terendah dalam beberapa tahun, "kata Omar al-Bayouk, yang toko pakaiannya, seperti banyak toko lain di Gaza, hampir tidak ada pelanggan menjelang liburan.

Di kamp pengungsi Nusseirat Gaza, Abdel-Rahman Nofal, 15, berbelanja dengan ayahnya untuk pakaian baru.

"Saya membeli sepasang sepatu tetapi saya hanya akan bisa memakai satu sepatu. Yang lain, akan saya simpan di rumah, "kata remaja itu, yang kaki kirinya diamputasi setelah dia terluka oleh tentara tembakan Israel di salah satu protes.

Israel mengatakan bahwa banyak dari 125 orang hang tewas adalah militan yang menggunakan warga sebagai tameng manusia dan pasukannya memukul mundur serangan di pagar perbatasan dengan Gaza.

Sumber : Antara