TKI Muslim di Negeri Ginseng

Moh. Abdul Kholiq Hasan (Istimewa)
15 Juni 2018 06:00 WIB Moh. Abdul Kholiq Hasan (IAIN Solo) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/6/2018). Esai ini karya Moh. Abdul Kholiq Hasan, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan dai duta Dompet Dhuafa di Korea Selatan. Alamat e-mail penulis adalah hasanuniversitas@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Kisah keberhasilan dan kesuksesan pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan menyimpan cerita sisi-sisi lain yang menarik untuk diungkap, terutama ihwal para TKI muslim di Negeri Ginseng itu.

Menjadi seorang muslim di negara yang mayoritas nonmuslim tentu tidak mudah. Banyak godaan dan tradisi kehidupan yang berbeda dengan kebiasaan sebagai muslim, dari pergaulan bebas,  seks bebas, minuman keras, serta sulitnya memperoleh makanan halal.

Secara umum tidak ada masalah berarti bagi muslim yang tingal di Korea Selatan. Kebijakan pemerintah cenderung terbuka terhadap keyakinan dan budaya luar. Banyak kebijakan yang memberikan kelonggaran bagi muslim di Korea Selatan.

Hal itu ditunjukkan banyak masjid yang mendapatkan restu dan izin pemerintah. Akhir-akhir ini pemerintah Korea Selatan membuat kebijakan halal food demi meningkatkan pelayanan bagi turis-turis muslim.

Korea Tourism Organization (KTO) memperkenalkan buku pedoman restoran ramah muslim. Walaupun begitu, tetap saja menjadi tantangan tersendiri bagi muslim yang hidup di tengah masyarakat non muslim seperti Korea Selatan.

Tantangan sebagai muslim semakin terasa berat ketika memasuki Ramadan. Sebagaimana pengakuan Budi, lelaki asal Magetan, Jawa Timur, yang hampir tiga tahun bekerja di Korea Selatan.

Sebagai muslim yang taat, ia dituntut menjalankan ibadah puasa dan juga tetap melaksanakan tugas sehari-hari sebagai pekerja. Puasa Ramadan di Negeri Ginseng saat ini tidak kurang dari 17 jam, pukul 03.28-19.30 waktu setempat.

Para muslim pekerja dalam kondisi menahan lapar dan haus harus tetap bekerja secara profesional. Tidak ada perbedaan jam kerja pada Ramadan atau di luar Ramadan.

Bisa jadi selama Ramadan mereka hanya tidur tiga jam setiap hari karena kegiatan kajian agama berakhir pukul 24.00 dan maksimal pada pukul 03.00 mereka harus makan sahur. Kalaupun menambah jam tidur hanya sejam sehabis kajian setelah Salat Subuh jika tidak ingin telat masuk kerja.

Di tengan menjalankan ibadah puasa, tidak jarang kawan-kawan sepabrik yang nonmuslim memberondong dengan berbagai macam pertanyaan seputar puasa dan kebiasan-kebiasaan muslim lainnya. Kadang ada yang menyodorkan makan siang karena memang kebanyakan pabrik di Korea Selatan menyediakan makan siang.

Dengan sopan tawaran itu ditolak sambil menjelaskan bahwa sedang berpuasa. Sikap santun inilah yang menarik simpati warga Korea Selatan terhadap Islam. Sebenarnya tantangan terberat saat Ramadan, manurut pengakuan para pekerja migran asal Indoensia, bukan pada puasa selama 17 jam, tetapi puasa dari melihat pandangan yang tidak halal.

Tidak jarang dalam perjalanan pergi atau pulang kerja melihat adegan mesra bak sinetron, muda-mudi berciuman di tempat umum. Kebanyakan pekerja migran asal Indonesia di Korea selatan adalah laki-laki yang belum menikah, kalaupun sudah beristri tetap saja statusnya jomblo karena istri tinggal di Indonesia.

Diganti Zuhur

Tantangan lain yang dihadapi TKI di Korea Selatan adalah pelaksanaan salat. Banyak pekerja migran asal Indoensia, terutama yang baru datang di Korea Selatan, merasakan sulit melaksanakan ibadah salat lima waktu.

Di pabrik tidak disediakan musala atau masjid seperti layaknya di pabrik-pabrik di Indonesia. Mereka biasanya memaksimalkan waktu istirahat untuk salat di mes yang memang dekat dengan pabrik.

Seorang TKI bernama Udin bekerja di perusahaan di daerah Daejon. Dia juga aktivis Masjid An-Noor Daejon. Pada awal ketika baru bekerja dia merasa kesulitan ketika ingin menjalankan ibadah salat, apalagi ketika itu dia adalah orang pertama dari Indonesia di perusahaan tersebut.

Dengan sedikit khawatir, apalagi karyawan baru, dia memberanikan diri meminta izin kepada atasan untuk menjalankan ibadah salat. Sang atasan bertanya apa itu salat? Udin mengatakan berdoa. Akhirnya diizinkan.

Ketika Udin melaksanakan salat, orang-orang Korea Selatan tersebut memfoto dan mengambil video dari semua arah. Sekarang urusan salat sudah tidak menjadi masalah. Kisah berbeda dituturkan Aris, amir atau pemimpin Masjid Ar-Rayyan di daerah Mugeuk, Geumwangeup, Eumseong, Chungbuk.

Menurut Aris, mendirikan salat adalah hal yang tidak mudah, apalagi jika di pabrik tersebut sebelumnya tak ada karyawan yang mengerjakan salat. Salat dapat menjadi masalah serius bagi karyawan baru, bahkan kadang harus bersitegang dengan bos.

Mereka sering mengerjakan salat ketika ada kesempatan untuk melaksanakan. Berbeda kasus jika dalam pabrik tersebut sudah ada pekerja senior yang menjalankan salat. Biasanya orang Korea Selatan bisa memahami.

Problem lain adalah pelaksanaan Salat Jumat. Dengan masa kerja pukul 07.30 atau 08.00 sampai pukul 17.00 atau kalau mendapat jatah lembur sampai pukul 21.00, banyak TKI muslim yang tidak dapat melaksanakan ibadah Salat Jumat.

Mereka hanya bisa menjalankan Salat Zuhur. Mereka baru bisa menunaikan Salat Jumat ketika mendapatkan sif kerja malam atau ketika libur pada Jumat. Selain itu mereka tidak bisa menjalankan Salat Jumat.

Ada sebagian pihak memberikan solus, agar mereka tetap mengerjakan Salat Jumat memakai syarat sah minimalis dengan mengikuti mazhab Abu Hanifah yang tidak mengharuskan berjumlah sampai 40 orang seperti pendapat Imam Syafi'i.

Realitasnya sangat sulut dipraktikkan karena tempat dan waktu istirahat yang sangat terbatas dan mesin pabrik yang tidak bisa ditinggalkan. Jika yang satu istirahat maka yang lainnya bergantian memegang mesin pabrik agar terus berjalan. Inilah sebagian risiko yang dihadapi para TKI muslim di Korea Selatan.

.