Jika Merapi Meletus, Awan Panas Diprediksi Mengarah ke Kali Gendol

Puncak Gunung Merapi terpantau pada Jumat (1/6/2018) siang. (Twitter - @bpptkg)
07 Juni 2018 03:30 WIB I Ketut Sawitra Mustika Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Jika Gunung Merapi jadi meletus efusif, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memperkirakan arah material erupsi termasuk awan panas akan menuju ke Kali Gendol atau ke arah barat dan barat laut gunung.

"Untuk skenario adanya tumbuh kubah lava, kita membuat skenario apabila dinding kawah 48, yang sekarang rapuh, kemungkinan runtuh. Untuk arah bukaan atau arah erupsi berikutnya adalah efusif [meleleh] dan mengarah ke Kali Gendol. Tapi, ada kemungkinan juga ke arah barat dan barat laut," ujar Kepala BPPTKG Hanik Humaida saat jumpa pers, Rabu (6/6/2018).

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso menambahkan kemungkinan runtuhnya dinding kawah sudah menjadi perhatian BPPTKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Karena itulah bagian tersebut dimasukkan ke dalam rencana kontingensi penanganan dampak letusan.

BPPTKG terus memantau kondisi dinding kawah dengan menggunakan kamera beresolusi tinggi, analisa morfologi kawah dan menggunakan drone. Dengan segala usaha tersebut, Agus berharap jika ada ancaman nyata dari runtuhnya dinding kawah, BPPTKG bisa langsung merespons dengan cepat.

Ia menyatakan, BPBD kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah telah menyesuaikan rencana kontingensinya dengan perkiraan yang telah disusun BPPTKG.

Sementara untuk wilayah DIY, sambungnya, BPPTKG akan melakukan update, sebab dinding lava akibat letusan 1997 juga dalam keadaan rapuh akibat suhu yang tinggi. Instansi yang berada di bawah naungan Badan Geologi itu akan segera membuat kajian untuk mengukur kelabilan dinding lava 1997.

Runtuhnya dinding kawah, tambahnya, kemungkinan besar terjadi jika ada desakan kubah lava baru. "Kolapsnya [dinding kawah] perlu dilihat, kalau hanya material lama akan jadi guguran biasa, tapi tidak ada awan panas. Namun, jika itu ada tekanan magma (baru) dari dalam dengan kolapsnya itu akan akan ada awan panas," jelasnya.

Meski runtuhnya dinding kawah jadi perhatian BPPTKG, Agus menyebut untuk kenaikan status Gunung Merapi lebih didasari dari pemantauan data-data seismik dan deformasi. Status akan dinaikkan ketika aktivitas kegempaan dan deformasi menunjukkan perubahan yang signifikan.

Hingga saat ini status Gunung Merapi masih tetap waspada. Aktivitas kegempaan didominasi gempa embusan, guguran dan mutltiphase yang menandakan adanya pelepasan gas yang cukup tinggi. Sementara data deformasi tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan.