Rupiah Menguat Rp13.995/dolar AS, Jokowi: Alhamdulilah

Ilustrasi menghitung uang rupiah. (Bisnis/Dwi Prasetya)
29 Mei 2018 17:00 WIB David Eka Issetiabudi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons kondisi nilai tukar rupiah yang melanjutkan penguatannya pada Senin (28/5/2018) yang ditutup pada level Rp13.995/ dolar AS. Jokowi mengapresiasi kebijakan-kebijakan moneter yang telah diantisipasi dan dilakukan oleh Bank Indonesia.

Presiden kembali menyebut bahwa kondisi gonjang ganjing nilai tukar mata uang Garuda disebabkan oleh efek global. "Ya alhamdulillah, kemerin kita lihat sudah mulai di bawah Rp14.000/ dolar AS," katanya seusai menghadiri Penutupan Pengkajian Ramadan 1439 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018, Selasa (29/5/2018).

Kendati sudah menunjukan penguatan, Jokowi tetap memerintahkan para pembantunya untuk menyiapkan langkah langkah konkret agar dapat membantu bank sentral mengendalikan rupiah. "Kepada Menko Perekonimian, Menkeu untuk menyiapkan langkah-langkah yang memang ada di wilayah pemerintah yang konkret, yang real," tambahnya.

Kemarin kurs rupiah ditutup menguat 130 poin atau 0,92% di Rp13.995 per dolar AS, setelah dibuka dengan apresiasi 30 poin atau 0,21% di Rp14.095/ dolar AS. Sebelumnya, dalam konferensi pers Penguatan Koordinasi Untuk Stabilisasi dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Jakarta, Senin (28/5/2018), Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan empat langkah kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Pertama, respons kebijakan suku bunga secara preemptive dan front loading untuk memperkuat serta menstabilkan nilai tukar rupiah. Hal ini juga dilakukan agar tetap konsisten dalam menjaga inflasi di kisaran 3,5% plus minus 1% pada 2018-2019.

Kedua, melanjutkan, memperkuat, dan mengoptimalkan intervensi ganda (dual intervention) yang telah dilakukan sejak 2013. BI, lanjut Perry, tidak hanya menstabilkan kurs rupiah tapi juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Ketiga, terus mengarahkan agar likuiditas tercukupi, khususnya di rupiah dan pasar swap antar bank. Bank sentral bakal memastikan likuiditas perbankan cukup dan memenuhi berbagai kebutuhan likuiditas dari perbankan.

Keempat, komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional. Langkah ini diyakini dapat menghindari perkiraan nilai tukar yang kecenderungannya terlalu melemah. Bank sentral juga menjadwalkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan, Rabu (30/5/2018) untuk merumuskan kebijakan tersebut.