Sulitnya Warga Palestina Beribadah di Masjid Al Aqsa

Muslim Palestina beribadah di Masjid Al Aqsa (Youtube)
26 Mei 2018 15:30 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, YERUSALEM – Ramadan adalah bulan suci yang sangat dinantikan seluruh umat Islam, tak terkecuali di Palestina. Tapi, impian menjalani ibadah dengan tenang dan damai sepanjang Ramadan bagi muslim Palestina sulit diwujudkan. Apalagi, Yerusalem yang disebut sebagai Kota Suci bagi tiga agama, Islam, Nasrani, dan Yahudi, telah diakui Amerika Serikat sebagai ibu kota Israel.

Hidup dalam kesulitan selama bertahun-tahun ternyata tak membuat muslim Palestina putus asa. Buktinya, mereka masih menggantungkan asa untuk dapat leluasa beribadah di Masjid Al Aqsa, Yerusalem, meski penjagaan tentara Israel sangat ketat.

Sejumlah tentara Israel disiagakan di Yerusalem, khususnya di dekat Masjid Al Aqsa. Mereka bertugas memeriksa warga Palestina yang hendak menunaikan ibadah di masjid bersejarah itu. Saking ketatnya, beberapa orang sampai harus kucing-kucingan dengan tentara Israel saat hendak memasuki wilayah Yerusalem.

Walau demikian, ketatnya penjagaan tentara Israel tak menyurutkan semangat muslim Palestina untuk beribadah. Berbagai cara mereka lakukan demi beribadah di Masjid Al Aqsa. "Kami hanya bisa masuk Masjid Al Aqsa pada hari Jumat sepanjang Ramadan. Di bulan lain, kami tidak bisa masuk ke sana," kata seorang muslim Palestina, Fatima Bader, 19, seperti dikutip dari The Atlantica, Sabtu (26/5/2018).

Dilansir Aljazeera, ratusan ribu warga Palestina antre di pos pemeriksaan Qalandiya, gerbang utama tepi barat Yerusalem, setiap hari Jumat. Mereka rela mengantre berjam-jam demi menunaikan ibadah di Masjidil Aqsa. Mereka berharap bisa diberi kebebasan beribadah di Masjidil Aqsa selama Ramadan.

Seperti diketahui, warga Palestina terus melakukan protes sejak Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel di Yerusalem diresmikan 14 Mei 2018. Mereka meminta hak atas Yerusalem yang selama ini menjadi sengketa kedua negara. Berbagai aksi protes itu berakhir pada bentrokan yang melukai warga sipil Palestina. Sampai saat ini, sekitar 113 orang Palestina meninggal dunia akibat bentrokan dengan tentara Israel.