Militan Rohingya Bantai Warga Hindu di Myanmar

Tentara Arsa (Aljazeera)
24 Mei 2018 00:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, RAKHINE Militan Rohingya dilaporkan membantai penduduk beragama Hindu di Rakhine, Myanmar, pada pemberontakan 2017 lalu. Laporan yang dirilis Amnesti Internasional itu menyebut pembantaian terjadi pada 25 Agustus 2017. Hari itu merupakan waktu yang sama saat gerilyawan Rohingya menyerang pos polisi di perbatasan yang menjadi awal krisis Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Dalam laporan Amnesti Internasional sebagaimana dirilis BBC, Rabu (23/5/2018), kelompok militan yang menamakan diri sebagai Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (Arsa), disebut telah membunuh sekitar 99 warga Hindu. Namun, anggota Arsa membantah terlibat dalam pembantaian itu.

Amnesti Internasional telah melakukan investigasi dengan mewawancarai sejumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh. Hasil investigasi itu menyebutkan bahwa pembunuhan massal dilakukan di desa-desa bagian utara Muangdaw, bersamaan dengan serangan terhadap pos polisi di perbatasan Myanmar.

Laporan investigasi itu menjelaskan serangan yang dilakukan Arsa kepada penduduk Desa Ah Nauk dan Kha Maung Seik yang mayoritas beragama Hindu. "Dalam aksi brutal itu, anggota Arsa menahan sejumlah penduduk beragama Hindu. Mereka kemudian melakukan pembantaian di luar desa," demikian penjelasan singkat pada laporan tersebut.

Seorang perempuan yang mengaku sebagai korban kekejaman tentara Arsa mengklaim pembantaian itu sangat tidak manusiawi. "Mereka membantai para pria sedangkan kami diminta menutup mata. Mereka membawa pisau, sekop, dan linggis. Kami bersembunyi di semak-sema dan hanya bisa melihat pembantaian itu. Ayah, kakak, paman, semua orang yang saya cintai dibantai," kata wanita yang disembunyikan identitasnya itu.

Militer Myanmar menanggapi serangan tersebut dengan melakukan pembantaian besar-besaran. Pembantaian yang dilakukan militer Myanmar terhadap warga Rohingya dikecam oleh warga dunia. Bahkan, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), menyebut tindakan ini sebagai bentuk dari upaya pembersihan etnis. Akibatnya, sekitar 700.000 warga Rohingya terpaksa melarikan diri ke negara tetangga, salah satunya Bangladesh.

Sampai saat ini, warga Rohingya masih bertahan di tempat pengungsian Cox's Bazar, Kutupalong, Bangladesh. Mereka hidup dalam kesulitan akibat krisis Rakhine yang meledak 25 Agustus 2017 lalu.