Rupiah Terpuruk, Istana: Negara Lain Lebih Buruk

Ilustrasi menghitung uang rupiah (Bisnis/Rachman)
24 Mei 2018 17:03 WIB Amanda Kusumawardhani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Ahmad Erani, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, menyatakan pelemahan rupiah yang saat ini melanda Indonesia bukanlah sebuah ancaman karena proses mitigasi ekonomi berjalan dengan baik. Dia menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah tidak seburuk seperti yang dialami oleh negara-negara yang relatif memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Tadi kita cek pelemahan nilai rupe di India itu 5,8%, lebih tinggi 2% [pelemahan] dibandingkan Indonesia. Itu india, yang pertumbuhan ekonominya lebih tinggi. [Indonesia] tidak berdarah- darah seperti kasus di Argentina, Turki, Brazil, bahkan Rusia, yang [depresiasi mata uangnya] jauh lebih tinggi daripada Indonesia,” ucapnya di Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Menurutnya, sejak tahun 1980, hampir tidak ada negara yang tidak terkoneksi satu dengan lainnya karena globalisasi ekonomi menjadi praktek sehari hari. Bahkan, negara yang dulu dianggap sebagai bangsa yang selektif melakukan transaksi antara negara seperti China.

“Hari ini [China] sedemikian pekatnya berinteraksi dengan Eropa dan Amerika. Pemegang bond terbesar di Amerika Serikat adalah China,” ujarnya.

Menurutnya, sejak tahun 1980, hampir tidak ada negara yang tidak terkoneksi satu dengan lainnya karena globalisasi ekonomi menjadi praktek sehari hari. Bahkan, negara yang dulu dianggap sebagai bangsa yang selektif melakukan transaksi antar negara seperti China.

Tak hanya itu, pelemahan rupiah yang cukup dalam juga semakin menekan defisit neraca transaksi berjalan. Kendati demikian, Erani menjelaskan sumber defisit tersebut berasal dari neraca perdagangan. Salah satunya dari kenaikan impor bahan baku industri.

“Yang memang itu sekarang dalam posisi industri di Indonesia sedang melakukan ekspansi kegiatan ekonomi. Nantinya ketika ada defisit nilai perdagangan, terutama dari bahan baku, akan segera bisa diserap dalam bentuk kenaikan ekspor,” ujarnya.

Lebih lanjut, pelemahan rupiah sebenarnya bisa dilihat dari dua sisi mata uang yakni sebagai sebuah risiko atau hal yang positif. Untuk risiko, pelemahan rupiah berisiko meningkatkan pembayaran utang baik pemerintah maupun swasta.

Sebaliknya, pelemahan rupiah diakuinya bisa dilihat sebagai fasilitas untuk mendorong ekspor karena memacu daya saing produk Indonesia di pasar internasional.