Kunjungi Pengungsi Rohingya, Priyanka Chopra: Masa Depan Anak-Anak Dipertaruhkan

Priyanka Chopra saat mengunjungi pengungsi Rohingya di Bangladesh (Instagram/priyankachopra)
22 Mei 2018 15:30 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, DHAKA Kehidupan warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh belum banyak berubah. Sejak terusir dari Myanmar, mereka bertahan hidup dalam keterbatasan di Cox's Bazar, Kutupalong, Bangladesh. Hampir sembilan bulan mereka meninggalkan kampung halaman di Rakhine, Myanmar, dan menetap di perbatasan.

Sampai saat ini, pemerintah Myanmar tak kunjung mewujudkan janjinya memulangkan pengungsi Rohingya dari Bangladesh. Harapan warga Rohingya memulai kehidupan penuh damai di Myanmar harus kembali tertunda. Krisis kemanusiaan yang dialami warga Rohingya ini menuai simpati warga dunia, termasuk aktris Bollywood, Priyanka Chopra.

Priyanka Chopra sangat prihatin melihat kondisi warga Rohingya yang masih menetap di Cox's Bazar, Kutupalong, Bangladesh, Senin (21/5/2018). Priyanka Chopra mendapat kesempatan bertemu langsung pengungsi Rohingya berkat perannya sebagai duta UNICEF, organisasi bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan jangka panjang kepada anak-anak di negara berkembang.

Aktris berusia 35 tahun itu sangat prihatin melihat kondisi pengungsi Rohingya. Priyanka Chopra menyebut kehidupan mereka sangat mengerikan. Dia meminta warga dunia memberikan bantuan, khususnya untuk anak-anak tak berdosa yang paling banyak menjadi korban.

"Saya sedang di Cox's Bazar, Bangladesh, untuk melakukan kunjungan bersama UNICEF. Tempat ini merupakan salah satu pengungsian terbesar di dunia. Orang-orang yang tinggal di sini merupakan korban pembersihan etnis yang dilakukan militer Myanmar di Rakhine. Lebih dari 700.000 orang mencari perlindungan di tempat ini dan 60 persen dari mereka adalah anak-anak," terang Priyanka Chopra melalui laman Instagram-nya seperti dilansir Deccan Chronicle, Selasa (22/5/2018).

Priyanka Chopra menerangkan kehidupan anak-anak Rohingya di Cox's Bazar, Kutupalong, sangat memprihatinkan. Mereka hidup dalam keterbatasan yang tak kunjung berakhir. "Anak-anak tinggal di tempat yang mengerikan tanpa tahu kapan semua penderitaan ini berakhir. Mereka harus bertahan dari segala macam bahaya yang mengancam. Aku melihat kekosongan di mata mereka. Anak-anak ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka butuh pertolongan. Masa depan mereka dipertaruhkan," tegasnya.

Krisis berkepanjangan yang dialami warga Rohingya juga menarik simpati pemerintah Amerika Serikat. Mereka mendesak pemerintah Myanmar mengambil langkah konkret guna menjamin hak warga Rohingya. Mereka juga meminta Myanmar menerima kembali ratusan ribu warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus 2017 lalu.

"Kami mendesak pemerintah Myanmar mengambil langkah konkret agar warga Rohingya bisa kembali ke kampung halaman dengan aman. Kami siap memberikan bantuan jika diperlukan," ujar Administrator Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID), Mark Green, seperti diwartakan Reuters.

Mark Green sangat iba melihat kehidupan tragis warga Rohingya yang serba kekurangan. Oleh sebab itu, pemerintah Amerika Serikat bakal menyiapan dana sebesar US$44 juta atau sekitar Rp620 miliar sebagai bantuan tambahan untuk pengungsi Rohingya.