Pabrik Kertas Keluarga Lukminto Jual 750 Juta Lembar Saham, Tertarik?

Jajaran direksi PT Sri Rejeki Isman Tekstil Tbk. berfoto bersama seusai public expose kinerja dan RUPS di Hotel Aston Solo, Jumat (18/5 - 2018). (Solopos/Hijriyah Al Wakhidah)
20 Mei 2018 09:00 WIB Hijriyah Al Wakhidah Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Keluarga almarhum H.M. Lukminto bakal makin kuat di industri manufaktur. Satu unit usaha yang dikembangkan keluarga Lukminto di industri kertas, PT Sriwahana Adityakarta, segera melantai di bursa saham.

Pabrik kertas dengan produk utama paper box, paper cone, dan paper tube tersebut berlokasi di jalan raya Solo-Jogja KM 16 Bendosari, Sawit, Boyolali, dengan luas pabrik mencapai 42.000 meter persegi.

Perusahaan dengan Komisaris Utama Lenny Imelda Lukminto, salah satu putri almarhum Lukminto, ini kini tengah berproses untuk melakukan initial public offering (IPO). Perusahaan ini akan menjaring modal dari masyarakat mengikuti PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), yang sudah lebih dulu terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Juni 2013.

Sebagai salah satu langkah awal, PT Sriwahana Adityakarta yang nantinya bakal berkode emiten SWAT, menggelar paparan publik dan penawaran perdana saham di Diamond Restaurant, Jumat (18/5/2018). Paparan publik ini sebagai bentuk tanggung jawab perseroan dalam tahapannya menuju perusahaan terbuka.

Berdasarkan informasi yang diterima Solopos.com, PT Sriwahana Adityakarta akan melepas 22% saham dengan jumlah maksimal 750 juta lembar saham. Dalam proses IPO ini, PT Sriwahana Adityakarta menggandeng PT NH Korindo Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Direktur NH Korindo Sekuritas, Amir Suhendra, mengatakan IPO PT Sriwahana Adityakarta menawarkan jumlah saham sebanyak 750 juta lembar saham dan saham yang akan dicatatkan maksimal sebanyak 3,105 miliar lembar saham. Saham akan ditawarkan pada rentang nilai Rp120-Rp200/lembar.

“Jadwal untuk pencatatan atau listing di BEI akan dilakukan Juni mendatang,” kata Amir.

Presiden Direktur PT Sriwahana Adityakarta, Alim Susanto, menyampaikan go public adalah langkah awal bagi perseroan untuk mencapai tahapan bisnis  yang lebih baik. “Dana yang akan diterima setelah go public ini akan digunakan perseroan sebagai tambahan modal kerja untuk menjamin kepastian suplai bahan baku bagi industri corrugated Sriwahana yang saat ini baru menggunakan 30% dari total kapasitasnya,” kata Alim di sela-sela public expose, Jumat.

Untuk mendukung pertumbuhan penjualan, perseroan melalui anak usahanya akan fokus pada integrasi bisnis kertas hulu ke hilir, fokus pada penjualan carton box area Jawa Tengah dan ekspor kertas, peningkatan servis bagi pelanggan, dan peningkatan sumber daya manusia sebagai penggerak usaha.

Alim mengatakan PT Sriwahana Adityakarta sudah berusia 18 tahun, langkah go public disebut sebagai langkah pendewasaan dengan tantangan utama adalah memenuhi pasokan kertas untuk area Jawa, khususnya Jateng, Jabar, Jatim.

Dalam paparannya, Direktur Pemasaran PT Sriwahana Adityakarta, Dian Anggriani Sandjojo, mengatakan market produk kertas terutama carton box baik di pasar global maupun domestik sangat tinggi. Di Asia, konsumsi carton box mencapai 52% dari konsumsi secara global.

Sedangkan di pasar Indonesia, pasokan carton box disuplai pabrik-pabrik kertas yang berkembang di Jabar dan Jatim. Di Jateng, potensi pasar carton box mencapai 30.000 ton/bulan dengan jumlah suplai baru berkisar 22.000 ton/bulan.

“Selisih potensi dan suplai ini yang akan jadi peluang bagi kami, ini artinya market masih tersedia cukup besar.”

Dian memaparkan tahun ini perusahaan menargetkan produksi carton box sebanyak 1.500 ton/bulan dan akan dinaikkan jadi 2.000 ton/bulan pada 2019. Sedangkan produk paper cone, tahun ini kapasitasnya 8,5 juta pieces/bulan dan akan dinaikkan jadi 10 juta pieces/bulan.

Untuk produk paper tube, tahun ini kapasitasnya 58 ton/bulan akan dinaikkan jadi 70 ton/bulan. Terpisah, Kepala BEI Solo, M. Wira Adibrata, mengatakan dengan rencana IPO PT Sriwahana Adityakarta, jumlah perusahaan yang go public di Soloraya bakal bertambah jadi empat perusahaan.

Sebelumnya, sudah ada tiga perusahaan yang sudah terdaftar sebagai emiten di bursa saham. Selain PT Sri Rejeki Isman (SRIL) yakni perusahaan tekstil yang juga milik keluarga Lukminto, ada juga PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food (AISA) (produsen makanan di Sragen), dan Indo Acidatama (SRSN), perusahaan industri agro kimia yang berbasis di wilayah Kebakkramat, Karanganyar.