Rupiah Anjlok, Jokowi Sebut Eksportir Senang

Ilustrasi uang (Antara/Sigid Kurniawan)
10 Mei 2018 06:30 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, ROKAN HILIR -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan para eksportir senang dengan kondisi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, khususnya para eksportir CPO. Kendati demikian, kondisi ini tidak menyenangkan semua pihak.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan peremajaan 25.423 hektare sawit rakyat di Rokan Hilir, Riau, Rabu (9/5/2018). Jokowi mengatakan gejolak nilai tukar mata uang Garuda juga dialami mata uang lainnya.

"Tapi apapun ini memang semua negara mengalami semua negara mengalami yang pertama karena adanya perang dagang isu negara besar dan kenaikan suku bunga AS," tuturnya.

Meski pemerintah tidak akan intervensi kebijkan moneter Bank Indonesia, Jokowi mengaku pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Bank Sentral terkait kondisi terkini nilai tukar rupiah yang sudah menembus Rp14.000/dolar AS ini.

Pada kesempatan yang sama, Darmin Nasution menganggap pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp14.000/ dolar AS bukan berarti menunjukkan mata uang Garuda bermasalah. Menurutnya, memang tidak semua negara mengalami pelemahan sama seperti Indonesia, tetapi sejumlah negara terutama negara besar mengalami pelemahan seperti Indonesia.

"Saya tidak mau bilang [merekomendasikan kenaikan suku bunga], saya cuma bilang dalam situasi begini pilihannya tidak banyak lagi," katanya.

Senada dengan Jokowi, Darmin mengatakan kondisi ini membuat senang para eksportir, sehigga memang tidak tepat bahwa semua pihak mengalami kesulitan. Apalagi jika kondisi saat ini disandingkan dengan apa yang terjadi pada krisis 1999. Dia menambahkan tidak bisa dibandingkan secara linier. "Saya bekas Gubernur BI lho, saya merasakan betul," tegasnya.