Garuda Indonesia Yakinkan Penerbangan Normal Meski Karyawan Mogok Massal

Sejumlah pesawat terparkir di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (20/3/2018). - ANTARA/Wira Suryantala
03 Mei 2018 04:00 WIB Rio Sandy Pradana Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memastikan kegiatan operasional akan berjalan normal kendati Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) mengancam melakukan mogok massal.

Direktur Umum & SDM Garuda Indonesia Sari Suharso menyadari serikat pekerja memiliki komitmen dan kesadaran bersama atas keberlangsungan bisnis perusahaan. Sinergi bersama antara manajemen dan serikat pekerja dapat berdampak signifikan dalam upaya perbaikan kinerja perusahaan.

"Kegiatan operasional penerbangan akan tetap berlangsung secara normal. Manajemen Garuda telah melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengantisipasi kondisi tersebut," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (2/5/2018).

Suharso menyatakan akan mengedepankan komitmen keselarasan hubungan industrial yang baik di mana manajemen juga berharap serikat kerja dapat terus mendukung iklim kerja yang kondusif bagi perusahaan, khususnya di tengah-tengah tantangan persaingan bisnis yang semakin ketat. Dia menuturkan direktorat kargo tetap dibutuhkan karena maskapai mengembangkan berbagai model bisnis dalam memaksimalkan potensi pasar.

Mengenai sorotan serikat kerja terkait pengangkatan direksi Garuda Indonesia sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Suharso, menerangkan bahwa penentuan susunan dan struktur direksi merupakan kewenangan penuh pemegang saham dan Kementerian BUMN.

Sebelumnya, dalam konferensi pers yang digelar Rabu (2/5/2018), Sekarga dan APG menyebut kondisi internal perusahaan sedang mengalami gonjang-ganjing. Kinerja sejumlah direksi dinilai tidak optimal sehingga berdampak terhadap kondisi keuangan dan operasional yang buruk serta hubungan industrial yang kurang kondusif.

Sekarga meminta pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, dan pemegang saham untuk merestrukturisasi jumlah direksi dari 8 orang menjadi 6 orang. Selain itu, mengganti direksi dari kalangan profesional di bidang penerbangan dari kalangan internal perusahaan.

Jika dalam waktu satu bulan tidak ada respons dari perseroan, maka Sekarga dan APG bakal melakukan mogok kerja. Serikat pekerja membeberkan lima masalah di tubuh manajemen emiten berkode GIAA itu.

Pertama, kegagalan dalam penjadwalan kru pada November 2017 yang mengakibatkan pembatalan dan penundaan sejumlah penerbangan yang masih terjadi hingga saat ini.

Kedua, jabatan direktur kargo tidak diperlukan. Alasannya, GIAA bukan maskapai khusus kargo yang harus memiliki pesawat khusus angkut barang dan keberadaan direktur kargo dianggap membebani biaya operasional tanpa diimbangi peningkatan kinerja bidang kargo.

Ketiga, pendapatan usaha yang tidak mampu mengimbangi kenaikan beban usaha dinilai menjadi tanggung jawab Direktur Marketing dan IT dalam membuat strategi penjualan produk. Keempat, nilai saham perseroan terus merosot sejak go public pada 2011 yang sebesar Rp750 per lembar menjadi Rp292 per lembar saham dalam penutupan perdagangan pada Rabu (25/4/2018).

Kelima, Direktur Personalia disebut banyak mengeluarkan peraturan perusahaan yang bertentangan dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tanpa berunding dengan serikat pekerja. Di antaranya perubahan jam kerja dan mengganti fasilitas antar jemput pilot dengan uang, sehingga berisiko menurunkan tingkat keselamatan penerbangan.