Rencana Donald Trump Damaikan Palestina dengan Israel Ditolak

Mahmoud Abbas (Reuters/Mohamad Torokman)
01 Mei 2018 16:20 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, RAMALLAH – Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyatakan rakyat Palestina menolak rencana perdamaian dengan Israel yang digulirkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Ketika membuka sidang empat-hari Dewan Nasional Palestina (PNC), Parlemen Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di pengasingan, Mahmoud Abbas mengatakan rakyat Palestina percaya AS tak bisa menjadi pihak yang mendamaikan Palestina-Israel karena sikap bias pro-Israel-nya.

Pertemuan PNC, yang pertama sejak 2009, diselenggarakan guna membahas hubungan yang tegang dengan Israel dan AS setelah keputusan Trump untuk mengakui kota suci Jerusalem sebagai ibu kota Israel, serta perujukan internal Palestina antara Parta Fatah, pimpinan Abbas, dan Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS), yang telah menguasai Jalur Gaza sejak 2007.

Sebagaiamana dilansir Antara dari Xinhua, Selasa (1/5/2018), Trump sedang merumuskan rencana baru perdamaian bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel setelah keputusannya mengenai Jerusalem dan instruksinya memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem pada Mei.

Abbas, yang juga Ketua Komite Pelaksana PLO, mencela rencana mendatang Trump sebagai "akhir dari proses perdamaian di Timur Tengah".

Abbas menyatakan takkan ada perdamaian antara Israel dan Palestina tanpa Jerusalem sebagai ibu kota negara masa depan Palestina.

Ia menambahkan, "takkan ada negara Palestina tanpa Jalur Gaza dan takkan ada negara hanya di Jalur Gaza." Ketua Parlemen Palestina Salim Zanoun memimpin upacara pembukaan pertemuan PNC itu pada Senin, dengan mengumandangkan lagu nasional Palestina dan memberi penghormatan kepada orang Palestina yang meninggal dalam konflik dengan Israel.

Zanoun menyerukan penyelenggaraan pemilihan umum untuk memilih presiden dan anggota baru Parlemen, dan pada saat yang sama mendesak HAMAS agar segera mengakhiri perpecahan internal Palestina, yang telah berlangsung selama 11 tahun.

"Jika Washington ingin menyediakan sesuatu, Washington harus menyatakan AS mendukung pilihan penyelesaian dua-negara dan Jerusalem Timur adalah ibu kota jika Negara Palestina Merdeka berdiri. Semau yang bertentangan dengan ini, kami takkan menerimanya," kata Abbas.

 

Sumber : Antara