Kisah Remaja Palestina Adang Tentara Israel Pakai Ketapel

Warga Palestina terjatuh saat menggelar demo, Jumat (27/4 - 2018). (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)
01 Mei 2018 10:20 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, GAZA – Berbeda dari remaja umumnya yang hanya berkewajiban mengenyam ilmu di bangku sekolah, Mohammed, 16, punya pekerjaan lain. Setiap Jumat dan sepanjang akhir bekan, ia pergi ke perbatasan Gaza untuk membela negaranya.

Di wilayah yang telah dibarikade oleh tentara penjajah Israel itu, Mohammed berbaur bersama lebih dari 10.000 rakyat Palestina lainnya, termasuk kawan-kawan sebayanya, kaum perempuan, dan orang tua, bahkan mereka yang telah kehilangan anggota tubuh karena perang, dalam Pawai Akbar Kepulangan atau "the Great Return March".

Mohammed selalu hadir dalam pawai sejak aksi tersebut dimulai pada 30 Maret 2018 atau dikenal dengan Hari Tanah Palestina (the Land Day).

Aksi protes rakyat Palestina akan terus berlanjut hingga 15 Mei 2018, bertepatan dengan Hari Nakba (hari bencana) yang menandai terusirnya 750.000 jiwa Palestina dari kampung halaman mereka oleh penjajah Israel pada 1948.

Pawai itu adalah wujud semangat Mohammed dan rakyat Palestina lainnya untuk menuntut kembalinya Tanah Air dan hak-hak mereka yang telah dirampas oleh Israel.

"Kami ingin minum, makan, dan bekerja. Kami tak punya kehidupan. Tak ada apa pun buat kami di sini," kata Mohammed kepada Al Jazeera.

Di wilayah tempat digelarnya pawai itu, barikade dipasang oleh tentara Israel guna menahan gerak warga Palestina agar tak sampai di daerah pencaplokan.

Tak cukup dengan kawat berduri yang diletakkan sekitar 250 meter dari mereka, ratusan penembak jitu Israel juga disiapkan dengan senjata berpeluru aktif (live bullet) dan gas air mata berisi racun yang dapat mematikan syaraf.

Mereka tak segan melontarkan gas air mata dan menembakkan peluru-peluru mematikan ke arah warga Palestina yang hanya mengandalkan katapel dan batu, ban-ban yang dibakar, serta cermin yang diarahkan ke matahari untuk mengganggu penglihatan para penembak Israel.

"Mereka melawan kami dengan senjata canggih, tapi kami punya katapel. Mereka punya bom-bom tapi kami punya batu-batu," kata Mohammed sembari menyiapkan katapel dan sebongkah batu di tangannya.

Rakyat Palestina punya beberapa versi katapel. Katapel milik Mohammed hanya seutas tali sepanjang kira-kira 1,5-2 meter yang di kedua ujungnya disambung dengan sepotong kain atau bahan lainnya sebagai tempat untuk meletakkan batu yang akan dilempar.

Perlawanan rakyat Palestina dengan katapel juga dilakukan oleh seorang warga Palestina yang cacat. Walau telah kehilangan dua kakinya, lelaki yang tidak diketahui namanya tersebut tak henti melontarkan batu-batu ke arah tentara Israel. Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan dirinya terus bergerak mencari bongkah-bongkah batu yang dijumpai di sekelilingnya.

Kawan-kawannya membantu lelaki itu memecah bebatuan yang berukuran besar menjadi beberapa bongkah sebagai proyektil yang menakutkan bagi tentara Israel. Meski tak mampu berdiri dengan sempurna, lelaki Palestina itu memutar-mutar tali katapel di atas kepalanya sebelum dengan sekuat tenaga melepaskan batu yang melesat ke arah tentara Israel.

Sementara itu, sekelompok pemuda Palestina lainnya membuat katapel dengan ukuran lebih besar yang terbuat dari batang kayu yang kokoh, yang ditanam di atas tanah. Tali pelontar juga dibuat lebih panjang agar batu yang dilontarkan lebih jauh dan kencang.

Sedangkan anak-anak Palestina dan kaum perempuan menggunakan katapel serupa namun dengan ukuran lebih kecil sehingga bisa digunakan seorang diri.

Batu tentu bukan lawan sebanding bagi peluru tajam dan gas air mata. Tak pelak, sejak protes itu digelar, 45 warga Palestina gugur dan 6.000 orang terluka, sementara tak satu pun korban dari pihak Israel zionis.

 

Sumber : Antara