Kesaksian Pengungsi Rohingya Hidup dalam Ketakutan

Pengungsi Rohingya di Malaysia (Reuters)
06 April 2018 01:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, SOLO – Penderitaan warga Rohingya tak kunjung berakhir. Ratusan ribu pengungsi yang menetap di Bangladesh mulai mencari tempat baru. Mereka menaiki perahu untuk mencari tempat tinggal baru yang akhirnya berlabuh di Langkawi, Malaysia, Selasa (3/4/2018).

Beruntung, sebanyak 56 pengungsi yang menumpang perahu tersbut diperbolehkan memasuki wilayah Malaysia. Kepala Staf Angkatan Laut Malaysia, Laksamana Datuk Seri Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin, menegaskan pemerintah Malaysia menerima pengungsi Rohingya atas dasar kemanusiaan.

"Sebagian besar penumpang adalah anak-anak dan wanita. Semuanya dalam kondisi lelah dan kelaparan," katanya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (5/4/2018).

Dari sekian banyak, salah satu pengungsi yang tiba dengan selamat di Malaysia adalah Abdullah. Pria berusia 34 tahun itu bernasib sama seperti ratusan ribu warga Rohingya lainnya yang terusir dari Rakhine, Myanmar.

"Kami hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Kami menjadi kaum minoritas yang tertindas. Rumah kami dihancurkan. Saudara kami dibunuh. Kami hidup terlunta-lunta mencari perlindungan ke berbagai negara," kata Abdullah seperti diwartakan The Strait Times.

Kekerasan yang dilakukan militer Myanmar membuat warga Rohingya ketakutan dan terpaksa mencari tempat berlindung ke negara tetangga, salah satunya Bangladesh. Di sana, kehidupan mereka tak banyak berubah. Mereka hidup dalam keterbatasan. Namun, mereka tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa tinggal dalam kondisi serba sulit.

Beruntung, banyak negara yang mau menampung bahkan berencana memberikan suaka kepada pengungsi Rohingya. Sebab, selama ini orang Rohingya dianggap bukan bagian dari warga negara Myanmar. Pemerintah Myanmar menganggap mereka sebagai imigran gelap dari Bengali.