PBB Minta Kematian 16 Warga Palestina Diusut Tuntas

Logo PBB (Solopos/Dok)
01 April 2018 04:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, SOLO – Bentrokan yang terjadi antara militer Israel dan Palestina di Jalur Gaza, Jumat (30/3/2018), mengundang simpati banyak negara. Sekitar 16 warga Palestina tewas sementara ratusan lainnya terluka akibat bentrokan tersebut. Persitiwa ini menjadi yang terparah sejak Perang Gaza pada 2014 lalu.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, meminta insiden berdarah itu diusut tuntas. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB mengimbau kedua negara menahan diri tidak saling menyerang untuk menurunkan ketegangan dalam konflik yang terjadi selama ini.

"Israel harus patuh pada hukum internasional. Mereka juga tidak boleh melakukan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Tindakan keras semacam ini semestinya dilakukan sebagai jalan terakhir dari suatu permasalahan. Jika masih ada cara lain, maka tidak perlu ada pertumpahan darah," kata Wakil Kepala Urusan Politik PBB, Taye Brook Zerihoun, seperti dilansir BBC, Sabtu (31/3/2018).

Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansur, mengaku kecewa dengan Dewan Keamanan PBB yang hanya diam saja. Menurutnya, serangan ini merupakan bagian dari pembantaian yang tidak dapat diampuni.

"Kami berharap Dewan Keamanan PBB ikut memikul beban penderitaan warga Palestina. Mereka semestinya bisa meredakan situasi yang mengancam keamanan dan perdamaian internasional ini," kata Riyad Mansur.

Dikutip dari Reuters, bentrokan ini berawal dari unjuk rasa yang dilakukan warga Palestina di perbatasan. Mereka berunjuk rasa selama enam pekan dalam peringatan Hari Tanah yang menyebabkan enam warga sipil tewas dibunuh tentara Israel pada 1976 silam.

Demonstrasi itu menyerukan agar para pengungsi Palestina bisa kembali ke tanah yang telah dikuasai Israel. Rencananya, puncak aksi ini akan dilakukan pada Mei 2018 saat Israel merayakan kemerdekaan yang ke-70.