GAGASAN : Gagal Paham Pendidikan Karakter

02 Maret 2018 05:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (24/2/2018). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail ma122@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO—Acara tahunan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNBK) yang berlangsung pada 5-8 Februari 2018 telah usai. Lima isu strategis agenda kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah dirumuskan.

Kelima isu itu meliputi perbaikan tata kelola guru, pembiayaan pendidikan, revitalisasi pendidikan vokasi sejurus dengan pembangunan ekonomi nasional, membangun pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran, dan terakhir penguatan pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah sebagai model lingkungan kebudayaan.

Lima isu strategis pendidikan tersebut bukan hanya menjadi, meminjam kata-kata Presiden Joko Widodo,  “pekerjaan rumah” bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tetapi juga layak menjadi perhatian semua pemangku kepentingan pendidikan nasional mulai dari pemerintah daerah, pengelola/penyelenggara sekolah swasta, maupun masyarakat luas yang peduli dengan dunia pendidikan.

Pendidikan berurusan dengan hajat hidup publik sehingga terlalu mahal bila diserahkan hanya kepada pemerintah. Dalam esai ringkas ini, tidak mungkin lima isu strategis di atas diperbincangkan. Saya memilih satu isu yang paling krusial, yaitu penguatan pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah sebagai lingkungan kebudayaan.

Agenda penguatan pendidikan karakter disebut krusial karena benar-benar sudah berada di tepi jurang kegagalan. Betapa tidak. Beberapa hari sebelum hajatan RNBK berlangsung, tepatnya 1 Februari 2018, guru SMAN 1 Torjun, Madura, meregang nyawa akibat dianiaya salah seorang muridnya.

Tragedi ini menambah panjang daftar kekerasan di sekolah. Bukan hanya kekerasan guru terhadap murid maupun murid dengan murid sebagaimana sering diberitakan media, tetapi juga yang ini: kekerasan murid terhadap guru. Peristiwa demikian tidak bisa dianggap remeh dan dibiarkan berlalu begitu saja.

http://cms.solopos.com/?p=898070&;page=2">Selanjutnya adalah: Langkah konkret untuk menghentikan

Konkret

Perlu langkah konkret untuk menghentikan. Untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi tindakan kekerasan di sekolah diperlukan pembacaan secara saksama akar penyebab kekerasan itu. Setelah diketahui akar penyebab, meskipun masih sebatas hipotesis, baru dapat dirumuskan langkah-langkah penyelesainnya.

Secara hipotetis dapat dikatakan bahwa kegagalan pendidikan karakter selama ini berawal dari kekeliruan dalam memaknai konsep ”karakter” maupun istilah lain yang saling beririsan seperti budi pekerti, moral, watak, dan etika.

Secara leksikal, karakter berarti tabiat; sifat-sifat kejiwaan, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Kekeliruan berawal dari sini, yaitu ketika istilah karakter lebih dipahami sebagai kata benda, bukan sebagai kata kerja.

Karakter dianggap sebagai sesuatu yang sudah jadi, bukan sebagai suatu proses pergumulan, suatu proses pencarian orientasi bertindak. Karakter yang dipahami sebagai kata benda tadi kemudian menghasilkan semacam kodifikasi jenis-jenis karakter yang harus diajarkan dan disosialisasikan kepada peserta didik.

Berawal dari pemahaman bahwa karakter adalah suatu kata benda maka Kemendikbud mengodifikasi 18 karakter yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, dan tanggung jawab.

Pada tingkat kebijakan, kodifikasi karakter semakin diperkuat dengan munculnya Perpres No. 87/017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Meski secara kebijakan sudah kukuh, namun sejauh ini belum ada suatu rumusan yang menjelaskan bagaimana menderivasi atau menurunkan nilai-nilai karakter itu pada tingkat operasional.

http://cms.solopos.com/?p=898070&;page=3">Selanjutnya adalah: Rumusan operasional ini membuka ruang

Operasional

Ketiadaan rumusan operasional ini membuka ruang bagi masing-masing satuan pendidikan untuk menafsirkan sesuai selera masing-masing. Selama ini muncul pemahaman umum yang menjadi arus utama bahwa pendidikan karakter merupakan mata pelajaran.

Dua mata pelajaran itu adalah mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Konsekuensinya guru pengampu kedua mata pelajaran itu dianggap sebagai penjaga gawang sekaligus penanggung jawab utama proses implementasi pendidikan karakter di sekolah.

Guru-guru pengampu mata pelajaran selain itu menganggap diri mereka lepas tangan dari tugas mendidik karakter. Ringkasnya, pendidikan karakter seolah-olah telah dimasukkan dalam kotak sempit bernama Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Tampaknya gejala gagal paham pendidikan karakter juga segera menyeruak seiring munculnya gagasan penguatan pendidikan karakter dengan jalan menjadikan sekolah sebagai model lingkungan kebudayaan.

Sebagaimana diberitakan Solopos edisi 9 Februari 2018, dengan penambahan kata-kata kebudayaan seolah-olah menjadikan pengampu mata pelajaran Pendidikan Seni dan Budaya sebagai penanggung jawab penerapan penguatan pendidikan karakter di sekolah.

Menjadikan sekolah sebagai model lingkungan kebudayaan bukan berarti menambah mata pelajaran Pendidikan Seni dan Budaya atau memperbanyak pentas seni di sekolahan, tetapi harus dimaknai sebagai penguatan budaya sekolah.

Budaya itulah yang menceminkan dan mengejawantahkan 18 nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sesungguhnya kunci keberhasilan pendidikan di sekolahan ditentukan oleh ketangguhan pimpinan dan kualitas budaya sekolah yang dikembangkannya.

http://cms.solopos.com/?p=898070&;page=4">Selanjutnya adalah: Perubahan mesti diawali dari cara pandang

Perubahan

Semua jenis perubahan mesti diawali dari perubahan cara pandang dalam memaknai suatu konsep atau gejala, tidak terkecuali dalam praktik pendidikan karakter. Di muka telah disinggung kekeliruan dalam memahami arti kata “karakter”.

Karakter lebih dipahami sebagai suatu kata benda, sebagai sesuatu yang sudah jadi, menjadi semacam kodifikasi atau kumpulan nilai-nilai. Cara pandang baru yang ditawarkan di sini adalah memandang karakter sebagai suatu kata kerja, sebagai proses pencarian orientasi hidup dan bertindak.

Perubahan cara pandang ini pada urutannya berpengaruh pada perubahan model pengajaran dan pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Pendidikan karakter tidak cukup hanya dipahami sebagai proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan ke dalam kepribadian peserta didik sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan peserta didik.

Pengertian inilah yang sampai saat ini menjadi arus utama di kalangan pengambil kebijakan maupun pelaku pendidikan di Indonesia. Coba kita cermati kalimat ”proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan ke dalam kepribadian”.

Kalimat ini mengandaikan bahwa nilai-nilai karakter yang mau ditransformasikan seolah-olah sudah jadi sehingga tugas pendidik adalah tinggal memindahkan nilai-nilai itu kepada peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pasif, tinggal menerima dan menginternalisasi nilai-nilai karakter yang sudah dikodifikasi generasi terdahulu.

Dari situ dapat diambil suatu pelajaran bahwa akar kegagalan praktik pendidikan karakter selama ini berawal dari kegagalan dalam memahami arti karakter, yang pada urutannya bermuara pada kegagalan dalam praktik pendidikannya. Dalam situasi demikian yang dibutuhkan bukanlah peraturan baru, tetapi suatu cara pandang baru yang mampu membangun harapan yang lebih cerah.

http://cms.solopos.com/?p=898070&;page=5">Selanjutnya adalah: Karakter dipandang sebagai suatu kata kerja

Kata Kerja

Bila karakter dipandang sebagai suatu kata kerja, suatu proses pencarian orientasi kehidupan baru, maka model pembelajaran dan pendidikan dilakukan secara interaktif dialogis yang membuka ruang seluas mungkin bagi peserta didik untuk melakukan eksplorasi diri sehingga terbuka kemungkinan munculnya nilai-nilai karakter baru yang lahir dari pergumulan peserta didik.

Peran guru sebagai mentor atau fasilitator. Pendidikan karakater harus dipahami sebagai proses penanaman nilai-nilai karakter secara dialogis interaktif dengan mengaktualisasikan pengembangan nilai-nilai kepribadian pada diri peserta didik dalam seting sosial kehidupannya.

Model pendidikan karakter seperti inilah yang tepat diterapkan saat ini karena membuka peluang lebih besar dalam menjamin keberhasilan praktik pendidikan karakter. Mengapa cara pandang baru ini lebih menjanjikan?

Pertama, model ini menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif dalam memahami dan memaknai karakter sesuai dengan suasana batin (baca: hati nurani) dan dinamika zaman yang melingkunginya.

Secara psikologis, keterlibatan aktif peserta didik dalam memaknai karakter membuat proses belajar menjadi semakin bermakna dalam membangun orientasi kehidupannya. Bukankah secara leksikal karakter mengandung arti tabiat/sifat-sifat kejiwaan/watak/akhlak/budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Bertolak dari pengertian ini, maka terbuka peluang masing-masing peserta didik untuk menghayati nilai-nilai karakter yang sama secara berbeda-beda.

Kedua, pendidikan karakter tidak lagi ditempatkan dalam kotak-kotak sempit mata pelajaran tertentu dan menjadi tanggung jawab guru-guru tertentu. Dengan cara pandang baru ini semua mata pelajaran dan semua pendidik harus memuatkan nilai-nilai karakter secara eksplisit mulai dari perencanaan pembelajaran, proses pelaksanaan, sampai pada model evaluasi.

Cara paling sederhana untuk memulai penguatan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran adalah dengan memberi ruang dan waktu kepada peserta didik di setiap akhir pelajaran untuk melakukan sharing dan refleksi atas materi yang baru diterimanya.

Refleksi demikian sangat bagus untuk membuka peluang peserta didik mencerna dan memaknai materi yang diterima, sehingga setiap materi pelajaran laksana air yang menyegarkan tubuh dan membuka pikiran baru.

Tawaran cara pandang baru dalam memahami arti karakter dan pendidikan karakter ini layak dipertimbangkan, terutama bagi mereka yang suka bertualang mencoba hal-hal baru yang penuh tantangan.

Bagi mereka yang sudah menemukan “kemapanan”, dipersilakan mengabaikan saja. Pada akhirnya, terpulang kepada kita masing-masing mau meniti jalan mana?