GAGASAN : Pelayanan Medis Olahraga

13 Januari 2018 05:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (18/10/2017). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, dosen di Program Studi Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id.

Solopos.com, SOLO--Pencinta sepak bola Indonesia pantas berduka. Penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda meninggal dunia setelah terlibat insiden dalam lanjutan pertandingan Liga 1.

Choirul Huda bersama rekan-rekannya di Persela pada Minggu (15/10) sore bertanding melawan Semen Padang di Stadion Surajaya, Lamongan, Jawa Timur, pada laga pekan ke-29 Liga 1.

Pertandingan dimulai pukul 15.00 WIB. Pemain kelahiran Lamongan itu meninggal pada usia 38 tahun di RSUD dr. Soegiri, Lamongan. Insiden terjadi satu menit sebelum turun minum. Choirul Huda bertabrakan dengan rekannya sendiri, bek Ramon Rodrigues.

Keduanya saat itu sama-sama berusaha menghalau bola dari jangkauan pemain Semen Padang. Saat mencegah serangan pemain Semen Padang Marcel Sacramento, Choirul Huda yang mencoba menangkap bola terkena kaki Ramon. Setelah benturan keras tersebut Choirul Huda sebenarnya masih sadar. Dia berlutut memegangi dadanya dan kemudian tidak sadarkan diri.

Choirul Huda dan Persela tak terpisahkan. Ia menjadi kiper utama klub tersebut sejak 2002. Meski saat ini usianya sudah 38 tahun, kiper asli Lamongan itu sering kali menjadi pilihan utama, siapa pun pelatihnya. Ia nyaris tanpa pesaing di bawah mistar gawang Persela.

http://cms.solopos.com/?p=861050&;page=2">Selanjutnya adalah: Ia jadi pilihan utama karena kemampuannya mumpuni

Pilihan Utama

Ia jadi pilihan utama karena kemampuannya mumpuni dan pemain asli Laskar Jaka Tingkir. Choirul Huda tercatat sebagai pemain paling loyal di Persela. Ia tak pernah pindah ke klub lain sejak memulai karier profesionalnya di Persela pada 1999. Tertarik membela klub lain pun tidak terpikirkan oleh dia.

Meninggalnya Choirul Huda menjadikan peringatan untuk semua pihak tentang pentingnya pertolongan pertama. Memaksimalkan edukasi medis kepada semua pihak harus dipahami dalam setiap kegiatan olahraga. Meninggalnya pemain dalam pertandingan yang disebabkan medis kurang cepat benar-benar jadi peringatan semua pihak.

Kementerian Pemuda dan Olahraga bisa memelopori gerak cepat mencegah kejadian serupa terulang kembali, paling tidak mengimbau kepada otoritas cabang olahraga agar punya standar penanganan urusan medis,  misalnya sepak bola punya regulasi dan prosedur tentang penanganan masalah kesehatan dan kewajiban setiap tuan rumah menyediakan pelayanan medis standar.

Cabang olahraga yang berpotensi terjadi benturan badan pasti memiliki risiko tinggi sehingga perlu rujukan penanganan yang sesuai standar internasional, seperti kapan tim medis masuk lapangan, kapan tim medis harus merujuk ke rumah sakit, dan standar penanganan pertama di lokasi.

Pemain sepak bola meninggal di lapangan dalam pertandingan liga Indonesia karena benturan antarpemain bukan kali ini saja. Yang pertama adalah Eri Erianto pada 3 April 2000 di laga Persebaya melawan PSIM Yogyakarta  di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, Jawa Timur.

http://cms.solopos.com/?p=861050&;page=3">Selanjutnya adalah: Eri berbenturan dengan pemain PSIM dan tak sadar diri

Tak Sadar

Di laga tersebut Eri berbenturan dengan pemain PSIM. Ia sempat tidak sadar diri. Eri lalu dilarikan ke RSUD dr. Soetomo namun nyawanya tidak tertolong. Persebaya memberikan kehormatan dengan memensiunkan nomor punggung 19 milik Eri dan menamai mes pemain sebagai Wisma Eri Erianto.

Yang kedua adalah Jumadi Abdi di laga PKT Bontang melawan Persela Lamongan pada 7 Maret 2009. Jumadi mengalami cedera parah setelah benturan keras di bagian perut karena terkena kaki pemain Persela Denny Tarkas yang diangkat terlalu tinggi.

Jumadi langsung dilarikan kerumah sakit dan menjalani operasi, namun sembilan hari setelah di rawat Jumadi meninggal dunia ada bagian usus halus yang sobek. Yang ketiga Akly Fairuz penyerang Persiraja Banda Aceh cedera parah setelah berbenturan dengan kiper PSAP Sigli, Agus Rohman.

Di laga yang berlangsung pada 10 Mei 2014 itu, Akly ditandu keluar lapangan. Malam harinya kondisi Akly belum membaik sehinga dilarikan ke rumah sakit. Akly mengalami luka dalam di bagian perut dan kantong kemih bocor. Kondisinya makin memburuk hinggak pada 16 Mei 2014 Akly mengembuskan napas terakhir.

Sepak bola memang olahraga yang memaksa tubuh bekerja hingga mencapai batas kemampuan. Dalam satu laga tak jarang dua tim sama-sama ngotot untuk mengejar kemenangan sehingga timbul benturan-benturan ringan atau benturan berat yang berbahaya.

Masalahnya adalah beberapa alat pengamanan yang boleh dikenakan pemain tentu tak menjamin 100% keselamatan. Alat-alat tersebut hanya melindungi bagian tubuh tertentu yang paling rawan terkena bahaya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, FIFA lalu membuat standar medis yang harus disediakan pada setiap pertandingan sepak bola.

http://cms.solopos.com/?p=861050&;page=4">Selanjutnya adalah: Yang pertama adalah standar medis untuk tenaga kesehatan

Standar Medis

Yang pertama adalah standar medis untuk tenaga kesehatan, baik yang disiapkan oleh klub maupun yang disediakan penyelenggara pertandingan. FIFA membuat standar medis yang harus disediakan pada setiap pertandingan sepak bola.

Pada dasarnya setiap klub wajib memiliki minimal seorang dokter dan seorang fisioterapis dengan standar FIFA. Tidak bisa sembarangan. Dokter-dokter di lapangan harus memiliki sertifikat pelatihan penanganan medis sepak bola dari FIFA atau dari asosiasi di negara tersebut.

Tenaga medis adalah satu-satunya orang yang memiliki hak menangani urusan medis pemain atau ofisial yang mengalami cedera atau mengalami gangguan kesehatan. Selain dokter, selama pertandingan berlangsung semestinya tidak boleh ada pihak mana pun yang melakukan tindakan medis.
Setiap tenaga medis yang merupakan bagian dari klub wajib untuk hadir di lapangan pada setiap pertandingan. Penyelenggara pertandingan, biasanya tim kandang, juga harus menyediakan satu orang dokter lain sebagai dokter pertandingan.

Ia akan bertindak ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga dalam urusan kesehatan pemain. Selain seorang dokter, penyelenggara pertandingan juga harus menyediakan tenaga medis lain yang selalu siap membawa tandu dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Mereka harus selalu siaga memberikan bantuan kepada tim dokter saat menangani pemain yang cedera. Para tenaga medis juga harus memiliki kualifikasi sesuai standar FIFA. Dari segi peralatan, FIFA dengan sangat jelas menginstruksikan alat-alat medis yang harus disiapkan oleh tim medis pertandingan maupun dokter tim.

FIFA mendefinisikan peralatan itu dalam satu tas yang disebut FIFA Medical Emergency Bag (FMEB). Beberapa peralatan yang harus tersedia di dalam tas ini adalah alat infus, ventilation bag, blood pressure monitor, dan beberapa alat-alat kesehatan lainnya.

http://cms.solopos.com/?p=861050&;page=5">Selanjutnya adalah: Di dalam stadion sepak bola mobil ambulans harus selalu siap…

Mobil Ambulans

Di dalam stadion sepak bola mobil ambulans harus selalu siap mengantarkan siapa pun yang mengalami masalah kesehatan ke rumah sakit terdekat yang dirujuk untuk pertandingan tersebut. Stadion juga harus menyediakan ruangan tersendiri untuk melakukan segala penanganan medis.

Terdapat beberapa peraturan yang harus dipenuhi ruang medis ini, di antaranya adalah masalah kebersihan, zona terlarang bagi orang lain selain tim medis, hanya boleh digunakan untuk aktivitas medis, akses yang mudah dijangkau dari lapangan dan ruang ganti, dan beberapa peraturan lainnya.

Di Liga Inggris kehadiran praktisi medis berkualitas atau fisioterapis pada pertandingan merupakan tanggung jawab tuan rumah dalam pertandingan yang dimainkan di bawah yurisdiksi liga. Harus dipastikan praktisi medis terdaftar dan mendapat lisensi dari General Medical Council dan setidaknya satu paramedis yang dilatih dalam pengobatan darurat di dalam lapangan harus hadir sepanjang pertandingan.

Kehadirannya harus dari satu jam sebelum pertandingan sampai satu jam setelah pertandingan. Setiap klub yang berpartisipasi akan mendapatkan pelayanan fisioterapis yang memenuhi syarat. Bila klub memliki tenaga medis sendiri atau dengan konsultan, satu atau lebih terapis, maka fisioterapis yang dipekerjakan oleh klub harus terdaftar di dewan profesi kesehatan dan lembaga fisioterapi di Inggris.

Setiap asisten fisioterapis yang bekerja di klub sepak bola harus terdaftar di dewan profesi kesehatan dan fisioterapis. Contoh prosedur yang diterapkan adalah pemain sepak bola yang cedera di bagian kepala tidak diperbolehkan melanjutkan bermain atau berlatih tanpa izin dari praktisi medis yang berkualifikasi.

Federasi sepak bola indonesia harus mendorong klub peserta Liga Indonesia untuk meninjau apakah penangan urusan kesehatan dalam sutuasi gawat darurat susai prosedur tetap internasional atau tidak. Harapannya adalah tidak terjadi lagi pemain sepak bola meninggal karena standar medis yang belum terpenuhi.