GAGASAN : Metrik Olahraga

06 Januari 2018 05:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (29/12/2017). Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO--Pemeringkatan perguruan tinggi, terutama universitas di seluruh dunia, terlepas dari persoalan siapa setuju dan siapa tidak setuju, tentu memiliki sisi strategis yang bernilai positif.

Pemeringkatan memiliki arti pemetaan daya saing dan prestasi secara institusional pada tataran nasional, regional, bahkan global. Dari pemeringkatan tersebut setiap universitas digiring untuk berpacu meningkatkan daya saing.

Hasil pemeringkatan dapat dijadikan sebagai tumpuan akselerasi perwujudan universitas yang semakin berkemajuan, sebagai sebuah ”menara api” di tengah masyarakat yang berpengharapan.

Pada awalnya pemeringkatan sekadar mengacu pada basis kekuatan fungsi manajerial umum universitas, terkait dengan tata kelola sumber daya, berdasarkan nilai-nilai produktivitas karya dan reputasi dengan segenap indikator teknisnya.

Belakangan muncul pemeringkatan yang berbasis pada special interest indicator yang memberi ruang pilihan lebih luas tiap universitas unggul dalam dimensi tertentu. Produk sukses pemeringkatan sebagai contoh sebut saja UI Green Metric.

UI Green Metric merupakan sistem pemeringkatan perguruan tinggi pertama di dunia yang basis penilaian utamanya adalah komitmen perguruan-perguruan tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup di kampus.

Ini sebuah basis pemeringkatan yang sangat bisa diterima oleh perguruan tinggi di seluruh dunia karena mengacu pada pilar utama misi global pembangunan berkelanjutan yang berwawasan kelestarian lingkungan.

Terdapat enam indikator yang meliputi statistik kehijauan kampus (15%), pengelolaan sampah (18%), energi dan perubahan iklim (21%), penggunaan air (10%), transportasi (18%), dan pendidikan (18%). Pada 2017 UI Green Metric diikuti oleh 516 perguruan tinggi dari empat benua di dunia.

http://cms.solopos.com/?p=881381&;page=2">Selanjutnya adalah: Ada 49 pergurun tinggi berpartisipasi

49 Perguruan tinggi

Di tingkat nasional, terdapat 49 perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam pemeringkatan ini (ui.aci.id/berita/ui-greenmetric). Contoh lain yang sudah mulai diluncurkan dan dapat menjadi inspirasi dan kebanggaan adalah UNS Javanese Culture Metric yang merupakan sebuah sistem pemeringkatan institusi dan individu yang dinilai memiliki kepedulian terhadap budaya Jawa dalam skala luar biasa.

Pemeringkatan ini sedang dalam proses dan setidaknya terdapat 30 perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang berpotensi masuk dalam sistem pemeringkatan. Setelah UI Green Metric dan UNS Javanese Culture Metric tentu saja ada beberapa metrik atau ukuran lain yang sangat layak untuk digagas dan diperjuangakan sebagai basis pemeringkatan.

Salah satu yang sangat memiliki prospek adalah sport metric. Setidaknya ada beberapa sudut pandang takaran kelayakan pemeringkatan universitas di dunia berbasis pada sport metric. Green metric mengacu pada komitmen perguruan tinggi dalam mewujudkan kelestarian lingkungan kampus dan sekitarnya.

Sport metric berbasis pada komitmen dan kontribusi perguruan tinggi untuk memajukan misi global dan universal keolahragaan multidimensi, yakni sport as means to promote education, health, development, and peace sebagaimana termaktub dalam  Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 58/5 paragraf ke-7 tahun 2003.

Dalam tataran yang demikian, metrik olahraga bukan sekadar pemeringkatan yang didasarkan pada perolehan medali hasil pertandingan dan perlombaan sebagaimana yang selama ini sangat dikenal dalam olahraga, mulai PON, SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

Terdapat dimensi lain yang lebih besar dan mendasar yang justru harus dimainkan oleh perguruan tinggi di dunia untuk memiliki nilai yang tinggi dalam membangun muruah kepedulian terhadap olahraga. Pertanyaan kuncinya adalah dengan indikator apa sport metric itu dikembangkan agar bisa diterima oleh hampir seluruh perguruan tinggi di dunia ini?

Pertama, olympism values yang sejak 1896 ”dititipkan” menyatu dengan proses lahirnya olimpiade modern yang pertama sebenarnya tidak sebatas pada nilai-nilai dalam ranah kompetisi pertandingan dan lomba formal cabang olahraga.

http://cms.solopos.com/?p=881381&;page=3">Selanjutnya adalah: Nilai utama adalah persahabatan

Persahabatan

Nilai-nilai olympism yang utamanya meliputi persahabatan (friendship), keunggulan (excellence), dan rasa hormat (respect) menjadi paket karakter universal global yang akan diterima sebagai tantangan bersama tiap universitas yang notabene sebagai mesin penggerak peradaban.

Kedua, keterpelajaran atau keterdidikan olahraga (sport literacy) menjadi sebuah gerakan spesifik literasi yang berbasis pada misi pencapaian hasil pendidikan melalui dan di dalam olahraga.  Inti keterdidikan olahraga dibangun berdasarkan formulasi awal yang telah dirintis oleh Physical Education Outcomes Committee of The National Association of Physical Education and Sport (NAPES).

Keterdidikan tersebut memiliki lima indikator yakni membangun publik yang memiliki berbagai keterampilan dasar yang diperlukan untuk melakukan aktivitas hidup yang produktif; bugar secara jasmaniah; berpartisipasi dalam aktivitas jasmani; mengetahui implikasi dan manfaat dalam aktivitas jasmani; dan menghargai aktivitas jasmani dan sumbangannya kepada gaya hidup yang sehat.

Ketiga, berpijak pada arah internasionalisasi sport development index (SDI) yang digunakan untuk menakar hasil komprehensif pembangunan olahraga di tiap kabupaten, kota, provinsi, bahkan negara.

Inti SDI sebagaimana dunia menerima human development index (HDI) untuk menakar hasil dan pemeringkatan pembangunan setiap negara. SDI merupakan indeks pembangunan olahraga yang memiliki dimensi partisipasi publik dalam olahraga, kebugaran jasmani publik, sumber daya manusia olahraga, dan ruang terbuka olahraga untuk publik.

Satu hal yang pantas didukung adalah bahwa SDI tersebut adalah karya bangsa Indonesia yang memiliki kelayakan untuk dielaborasi dalam nilai global sport metric. Tentu saja persoalan penentuan indikator tersebut bersifat dinamis melalui berbagai tahap perolehan kesepakatan dalam skala internasional.

UI Green Metric awalnya dimulai dengan kegiatan jaringan universitas melalui konferensi-konferensi tahunan serta aneka workshop teknis yang dilakukan di beberapa negara peserta UI Green Metric. UI Green Metric pada 2012 juga telah diterima sebagai anggota International Rangking Expert Group (IREG) Observatory secara resmi pada konferensi ke-6 IREG pada April 2012 di Taipei.

http://cms.solopos.com/?p=881381&;page=4">Selanjutnya adalah: Ukuran pemeringkatan yang mengadu

Ukuran

Sport metric merupakan ukuran pemeringkatan yang mengadu universitas seluruh dunia untuk menjadi masyarakat ilmiah yang menaruh kepedulian pada nilai strategis olahraga. Bagi perguruan tinggi di Indonesia, hal tersebut menjadi sebuah peluang terbuka untuk mengundang semua perguruan tinggi agar mengambil peran maksimal melalui fungsi tridarma pergurun tinggi masing-masing.

Tridarma itu terutama kegiatan riset dan pengabdian kepada masyarakat dengan tema strategis keolahragaan. Hal ini sekaligus menepis mindset yang berkembang selama ini bahwa urusan olahraga cukup diserahkan ke perguruan tinggi yang memiliki fakultas/jurusan keolahragaan.

Perguruan tinggi di Indonesia dengan segenap potensi yang dimiliki berpeluang secara bersama-sama hadir sebagai inisiator membidani lahirnya sport metric sebagai basis pemeringkatan universitas berskala Asia Tenggara, Asia, Asia Pasifik, bahkan dalam skala global.

Ujung tombaknya adalah beberapa universitas yang berada dalam klaster satu pemeringkatan aneka versi selama ini. Semangat besarnya adalah bahwa harus ada gebrakan dari bangsa kita untuk menghadirkan basis pemeringkatan dengan kreasi menu khusus.

Ini untuk mengimbangi derasnya pemeringkatan yang basisnya diciptkan oleh bangsa lain. Hal yang besar sangat boleh jadi awalnya berangkat dari mimpi yang besar. Pemeringkatan perguruan tinggi dengan berbasis sport metric bukan sekadar mimpi dalam konotasi bunganya orang tidur pada siang bolong.

Sport metric sebagaimana diuraikan di atas bernilai humanis, taktis, strategis, global, dan universal yang berpeluang besar menjadi nyata sebagai tantangan permanen universitas seluruh dunia dalam membangun reputasi.