News
Jumat, 7 Oktober 2011 - 20:40 WIB

Poppy Dharsono: Saat-saat terakhir Bapak terlihat bahagia

Redaksi Solopos.com  /  R. Bambang Aris Sasangka  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - HADIRI ACARA -- Mantan Mensesneg Moerdiono (kanan), hadir dalam peringatan HUT pendiri Grup Sahid, Sukamdani Sahid Gitosardjono (kiri) di Jakarta, beberapa waktu lalu. (JIBI/Bisnis Indonesia/dok)

HADIRI ACARA -- Mantan Mensesneg Moerdiono (kanan), hadir dalam peringatan HUT pendiri Grup Sahid, Sukamdani Sahid Gitosardjono (kiri) di Jakarta, beberapa waktu lalu. (JIBI/Bisnis Indonesia/dok)

Solo (Solopos.com)-Terkait meninggalnya mantan Mensesneg Moerdiono, sang istri, Poppy Dharsono, menyatakan sudah beberapa bulan terakhir dirinya terus mendampingi Moerdiono yang tengah mendapatkan perawatan di Singapura. “Saat-saat terakhir Bapak terlihat bahagia. Harapannya, semua urusan duniawi sudah bisa diselesaikan semua. Namun kehendak Tuhan lain,” tutur Poppy yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili Jawa Tengah itu, kepada Espos yang menghubunginya, Jumat (7/10/2011) malam.

Advertisement

Moerdiono meninggal dunia di RS Gleneagles Singapura pukul 19.40 waktu Singapura. Moerdiono sudah dirawat di Rumah Sakit Gleneagles Singapura sejak dua bulan yang lalu. Moerdiono dilahirkan di Banyuwangi, 19 Agustus 1934. Dia menjabat Menteri Sekretaris Negara Kabinet Pembangunan IV (1983-1988), Mensesneg Kabinet Pembangunan V (1988-1993), dan Mensesneg Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).

Pendidikan tingginya diawali di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang tahun 1957 dan Lembaga Administrasi Negara (1967). Dia lantas memulai kariernya menjadi staf Sekretariat Negara (1966), Asisten Menteri Sekretaris Negara Urusan Khusus (1972) dan Menteri Sekretaris Kabinet (1981-1983).

Moerdiono aktif juga sebagai Ketua PB Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PB Pelti) dan Ketua Panitia Koordinasi Kerja Sama Teknik Luar Negeri. Moerdiono menerima penghargaan Bintang Yudha Dharma Nararya (1986), Bintang Mahaputera Adipradana (1987), dan Doktor Honoris Causa dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 1994.

Advertisement

ybw/berbagai sumber

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif