News
Rabu, 8 Februari 2017 - 10:15 WIB

Harga Cabai Menggila, Masyarakat Diimbau Konsumsi Cabai Olahan

Redaksi Solopos.com  /  Rohmah Ermawati  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pedagang cabai (JIBI/Harian Jogja/Dok)

Kenaikan harga cabai terus direspons banyak pihak.

Solopos.com, SOLO — Masyarakat diimbau beralih menggunakan cabai olahan menyusul kenaikan harga cabai yang dipicu minimnya pasokan.

Advertisement

Ketua Klaster Cabai Wonogiri, Suratno, menyampaikan secara bertahap harga cabai rawit merah terus merangkak naik sejak akhir tahun lalu.

Hujan deras disertai angin kencang membuat banyak tanaman cabai rusak dan membuat panen tak maksimal.

Advertisement

Hujan deras disertai angin kencang membuat banyak tanaman cabai rusak dan membuat panen tak maksimal.

Dia mengatakan saat ini harga cabai rawit merah dari petani telah tembus Rp110.000/kg, rawit putih senilai Rp60.000/kg, dan merah keriting naik menjadi Rp40.000/kg.

“Pasokan sangat berkurang banyak pada pekan lalu karena cuaca sangat ekstrem, yakni hujan lebat disertai angin kencang dan tidak ada sinar matahari. Banyak tanaman cabai yang rusak dan tidak berbuah,” ujar Suratno, Selasa (7/2/2017).

Advertisement

Hal ini karena tanaman cabai rusak, seperti roboh karena angin sehingga butuh perawatan sebelum bisa berbuah lagi.

Suratno menjelaskan cuaca buruk pada Januari-Februari sudah diprediksi sebelumnya. Musim tanam cabai pun dilakukan pada awal atau pertengahan musim hujan supaya produksi bisa terus berjalan. Namun cuaca ekstrem membuat petani gagal panen.

“Cuaca bagus di Wonogiri, ada sinar matahari baru tiga hari terakhir, sebelumnya meski siang tetap mendung dan hujan deras,” kata dia.

Advertisement

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Solo, Bandoe Widiarto, mengatakan pasokan cabai dari daerah penghasil yang ada di Jateng sangat kecil karena pengaruh cuaca.

Pasokan saat ini lebih banyak mengandalkan Malang dan Kediri. Namun karena harus berbagi pasokan dengan daerah lain sehingga harganya terus meningkat.

“Cuaca sulit untuk dikendalikan, tidak seperti distribusi dan transportasi yang bisa direkayasa. Namun kemungkinan Maret harga mulai turun seiring dengan adanya panen. TPID Solo mengimbau ke masyarakat untuk beralih dari cabai segar ke cabai olahan,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo ini.

Advertisement

Mindset harus diubah sehingga kalau ada komoditas yang harganya mahal bisa mencari alternatif lain supaya harga komoditas tersebut tidak melambung tinggi. Hal ini karena ketika permintaan turun, kenaikan harga bisa ditekan.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Solo, Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre III Surakarta, dan distributor mengenai peluang adanya pasar murah apakah pasokan cabai memungkinkan supaya masyarakat bisa memperoleh harga yang terjangkau.

Masyarakat juga diharapkan mulai menanam cabai di pekarangan rumah untuk mengurangi ketergantungan pasokan di pasar. Saat ini bersama dengan Tim Penggerak PKK dan dinas terkait, BI akan mengedukasi masyarakat melalui gerakan gemar menanam cabai.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif