News
Jumat, 3 Agustus 2018 - 23:45 WIB

Fakta Pelanggaran HAM Densus 88 Diungkap

Redaksi Solopos.com  /  Haryono Wahyudiyanto  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

<p><strong>Solopos.com, JAKARTA–</strong> <a title="Penyerang Novel Baswedan Belum Terendus, Kontras, &quot;Sidik Jari Punya Siapa?&quot;" href="http://news.solopos.com/read/20170615/496/825801/penyerang-novel-baswedan-belum-terendus-kontras-sidik-jari-punya-siapa"><strong>Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)</strong></a> memublikasikan hasil investigasi mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan <a title="Densus 88 Antiteror Tangkap Penjual Bubur Ayam Sukoharjo" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180628/490/924874/densus-88-antiteror-tangkap-penjual-bubur-ayam-sukoharjo"><strong>Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri</strong></a> saat menangani terduga teroris.</p><p>Penelitis Kontras, Feri Kusuma, mengatakan tim Densus 88 kerap berlaku semena-mena ketika menggerebek terduga teroris. "Dalam investigasi kami, tim Densus 88 kerap menembak terduga teroris di area vital yang mematikan. Polisi mengklaim korban adalah teroris&nbsp; dan melakukan perlawanan. Padahal, korban baru diduga teroris,&rdquo; kata Feri dalam diskusi <em>Menyikapi Perpres Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme</em> di Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, seperti dilansir <em>Suara.com</em>, Jumat (3/8/2018).</p><p>Ia mengatakan pembunuhan orang oleh Densus 88 yang baru berstatus terduga teroris adalah pelanggaran HAM. Itu seperti yang terjadi saat Densus 88 menangani terduga teroris di Tulungagung, Jawa Timur.</p><p>Feri menjelaskan dua terduga teroris di Tulungagung langsung ditembak mati oleh tim Densus 88. Padahal, fakta yang didapat Kontras, seorang terduga teroris tersebut tidak melakukan perlawanan. "Dia dieksekusi dalam jarak yang sangat dekat, dan saya dapat fotonya langsung dari teman jurnalis yang meliput,&rdquo; tuturnya.</p><p>Selain itu, Feri juga mencontohkan peristiwa penggerebekan teroris saat malam pergantian tahun 2013 &ndash; 2014, di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kala itu, polisi mengklaim terjadi baku tembak dengan terduga teroris kelompok Dayat selama delapan jam. Namun, Feri menuturkan mengherankan bila baku tembak terjadi selama itu.</p><p>"Tidak mungkin terjadi kontak senjata selama delapan jam, karena kualitas persenjataan polisi hanya mampu digunakan sampai lima jam. Di lokasi, saat investigasi, kami dapatkan tak ada kontak senjata, tak ada bom. Faktanya, rumah itu langsung disergap,&rdquo; tuturnya.</p><p>Oleh karena itu, Feri menilai terdapat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Densus 88 dalam menangani terduga teroris.</p>

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Kata Kunci :
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif