News
Selasa, 2 Juni 2020 - 20:24 WIB

Bank Dunia Prediksi Ada 9,6 Juta Orang Miskin Baru di Indonesia

Nindya Aldila  /  Bisnis  /  Adib Muttaqin Asfar  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi kemiskinan. (Antara-Aprillio Akbar)

Solopos.com, JAKARTA -- Bank Dunia memprediksi ada 9,6 juta orang miskin baru di Indonesia akibat perlambatan ekonomi seiring pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda berhenti. Menurut prediksi itu, penurunan pertumbuhan ekonomi di Indonesia menyebabkan kemiskinan naik 3,6 persen.

Hal itu diungkapkan oleh ekonom senior World Bank, Ralph van Doorn. Dalam paparan virtual bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (2/6/2020), dia mengkhawatirkan kemiskinan Indonesia.

Advertisement

Angka Rt Covid-19 di Bawah 1, Jateng Belum Berminat Normal Baru

Estimasi awal menunjukkan bahwa pandemi dapat meningkatkan jumlah orang miskin baru di Indonesia sebesar 2,1 persen hingga 3,6 persen. Artinya, akan ada tambahan 5,6 juta hingga 9,6 juta orang miskin.

Prediksi ini mirip dengan hasil prediksi yang dilakukan oleh lembaga riset SMERU. Lembaga itu memprediksi tingkat kemiskinan akan mencapai 12,37 persen dengan kondisi tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen.

Advertisement

Kasus Baru Positif Covid-19 Indonesia Naik Lagi, Padahal Tes Lebih Sedikit

Menurutnya, upaya pemerintah Indonesia saat ini belum cukup untuk mengatasi munculnya orang miskin baru akibat pandemi. Dia menilai paket bantuan kepada rumah tangga yang telah diajukan oleh pemerintah tidak mencukupi.

"Kami agak khawatir paket kebijakan untuk membantu rumah tangga tidak akan mencukupi untuk meringankan dampak ekonomi pandemi ini," katanya.

Advertisement

22 Lab Tak Lapor, Tes Spesimen Covid-19 Hari Ini Jauh di Bawah Target

Sebelumnya, Doorn menyebutkan Bank Dunia juga memprediksi bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh hanya 0 persen pada tahun ini. Angka tersebut sangat anjlok dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 di kisaran 5% sehingga berpotensi menambah 9,6 juta orang miskin baru.

Prediksi anjloknya pertumbuhan ekonomi ini lantaran penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua bulan, April hingga awal Juni. Bahkan pelemahan ekonomi akan jatuh lebih dalam menjadi minus 3,5 persen jika PSBB diteruskan hingga empat bulan.

Gaji Pekerja China Lebih Tinggi, Kedubes Berdalih Indonesia Belum Mampu

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif