Mahasiswa Era Post-Truth

Nibros Hassani - Istimewa
08 Desember 2018 13:07 WIB Nibros Hassani Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (4/12/2018). Esai ini karya Nibros Hasani, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Alamat e-mail penulis adalah nibroshassani@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada hari ini, pengguna Internet di Indonesia yang jumlahnya kian meningkat menghadapi tantangan paling rumit dalam sejarah global. Hal ini dipertegas dalam buku The Cult of The Amateur karya Andrew Keen (2007).

Di buku tersebut muncul istilah the wisdom of the crowd (kebijaksanaan; pembenaran dari kerumunan) yang menggambarkan situasi saat ini ketika Internet tidak hanya mengancam demokrasi namun juga dapat mengganti posisi kebenaran yang asli dengan mengaburkan batas antara fakta dan opini.

Term ini kemudian disebut oleh Oxford Dictionary sebagai ”post-truth”; kebenaran suatu fakta tidak begitu dipercayai dan kalah oleh gerak massa yang mengusung narasi kebencian dan emosi (lihat juga: truth decay).

Hari ini masyarakat serta mahasiswa Indonesia ditantang oleh arus informasi sangat deras yang reliabilitas dan keautentikan sumbernya harus dipertanyakan. Banjir informasi itu terjadi hanya dengan satu klik.

Mungkin pernyataan di atas belum tepat karena sejarah menceritakan yang sebaliknya. Manusia telah dimanjakan oleh disinformasi dan fake news sejak dahulu kala. Menurut Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens yang diresensi oleh The Guardian, manusia adalah spesies post-truth (humans are a post-truth species).

Dalam resensi itu diceritakan disinformasi dan mobilisasi keyakinan digunakan sebagai komoditas dan alat untuk survival umat manusia sejak dulu hingga kini. Beberapa pakar menyebut memercayai kebohongan sama dengan memercayai fiksi.

Itu telah digunakan sebagai alat propaganda oleh Jerman dalam sejarah perang (lihat juga Mein Kampf karya Hitler). Joseph Goebbels, maestro propaganda Jerman, benar saat menyatakan kebohongan yang sekali diucapkan tetaplah kebohongan, namun kebohongan yang beribu kali diucapkan menjadi sebuah kebenaran (a lie told once remains a lie, but a lie told a thousand times becomes the truth).  

Kekuatan disinformasi dan propaganda juga ditunjukkan dalam pernyataan perang Golda Meir dan Anat Berko dalam konflik tanah yang dijanjikan. Bagi mereka, orang-orang Palestina tidak pernah ada dengan menggunakan dalih, dalam bahasa Arab tidak ada ”p” tetapi ”f”, sehingga yang ada ialah orang-orang Falastin, bukan Palestine.

Hal ini tentu menjadi permasalahan serius ketika fiksi, hoaks, dan disinformasi justru menjadi pembenar bagi para politikus menjadikan sebagai alat mengakomodasi kepentingan mereka.  Kita semua tahu, di balik disrupsi makna kata Falastin dengan Palestine, berjuta orang terluka, kehilangan rumah, dan meregan nyawa.

 Imajinasi

Di balik propaganda Goebbels, berjuta orang dikerahkan untuk mengikuti perang tiada akhir dan konflik yang terus berkelanjutan. Fiksi dan disinformasi ini dapat menjadi kekuatan, namun di sisi lain juga merugikan.

Misalnya, dalam konteks Indonesia, karena sebuah unggahan berita tsunami di Sulawesi Tengah tempo hari yang dikaitkan dengan azab, beberapa orang bergerak dan berderma harta, namun di sisi lain sebagian orang dirugikan akibat victim blaming yang ditimbulkan oleh warga Internet. 

Pada era post-truth ini, kita semua harus berjuang sangat keras untuk mengasah kemampuan membedakan antara kebenaran dan fiksi. Mahasiswa yang memegang tanggung jawab sebagai pemimpin generasi selanjutnya berperan krusial.

Penyaringan informasi palsu dan disinformasi tersebut seharusnya menjadi lebih mudah dengan keterlibatan kaum akademisi. Sejak duduk di semester awal, mahasiswa dituntut mampu berpikir kritis.

Hal ini juga senada dengan apa yang kita lakukan setiap hari di kampus, yakni berlaku selalu rasional dan ilmiah. Bahwa suatu pengetahuan tidak boleh langsung diterima, namun perlu terus dipertanyakan, diperiksa, dan diuji.

Mahasiswa hari ini juga harus terus berlatih membaca jurnal-jurnal penelitian, bukan mengandalkan platform daring yang tidak reliabel. Situs jurnal kampus dan lembaga yang terpercaya dan berkualitas harus mendapat banyak perhatian mahasiswa dan dijadikan sumber informasi.

Mungkin mahasiswa hari ini bisa mendayagunakan kreativitas untuk mencipta big data yang fungsinya menyaring informasi serbatidak jelas melalui grafis, warna, dan sajian yang menarik.

Fiksi dan disinformasi boleh menjadi kekuatan bagi mahasiswa bila digunakan untuk hal-hal produktif dan menghasilkan karya. Mochtar Lubis menarasukan dengan pengetahuan, dedikasi, dan kejujuran, ilmu pengetahuan dan teknologi bila kita kuasai tidak akan menjadi bumerang.

Pikiran kita mungkin perlu banyak mendapat cerita tentang kisah fiksi super galaxy drive yang membuat imajinasi kita memungkinkan hal tersebut untuk terjadi, dibandingkan terperdaya oleh emosi dan kebencian sesaat namun berakibat fatal.

Super galaxy drive adalah bukti, bahwa melalui fiksi, NASA dan anak-anak Amerika Serikat nanti mampu menjangkau bulan, dan seperti kata Mochtar Lubis, menjelajah jauh ke pedalaman jagat.

       

Kolom 6 hours ago

Jelalatan