Jokowi Diserang Isu PKI, Sandiaga Mengaku Prihatin

Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didampingi Amien Rais memberikan keterangan pers mengenai berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet, di Jl Kertanegara, Jakarta, Rabu (3/10 - 2018). (Antara / Galih Pradipta)
08 Desember 2018 18:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengaku prihatin mendengar Presiden Jokowi terus diserang dengan isu PKI. Dirinya menyebut isu-isu tersebut tidak substantif yang dilempar selama masa kampanye dan bisa memecah belah bangsa.

Sandiaga mengungkapkan simpatinya kepada Jokowi yang seringkali curhat karena digosipkan memiliki keturunan dari keluarga PKI. Padahal kata Sandiaga dalam Pilpres 2019 ini yang seharusnya jadi fokus utama ialah isu ekonomi.

"Saya juga prihatin dan saya bersimpati pada Pak Presiden dan kita lihat bahwa Pilpres ini tentang ekonomi, ini referendum ekonomi dan kecuali ekonomi ini berkaitan dengan ideologi komunis tapi menurut saya ini bukan," kata Sandiaga di Mall Metro Cipulir, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (8/12/2018), dilansir Suara.com.

Isu ekonomi yang selalu disampaikan Sandiaga sudah seyogyanya ditujukan untuk masyarakat itu sendiri. Sandiaga ingin memastikan kalau tenaga-tenaga kerja Indonesia tidak kehabisan lahan karena banyaknya tenaga kerja asing.

Justru kata Sandiaga kalau masyarakat terus disuguhkan dengan isu-isu yang tidak substantif dengan kelangsungan hidup masyarakat, malah akan memancing perpecahan bangsa.

"Kita ingin industri investasi dan job fair buat siapa? Ya buat pekerja Indonesia, nah itu lebih esensial menurut saya dan kita harus fokus di bidang ekonomi. Hal yang lain di luar bidang ekonomi saya khawatir akan memecah belah kita," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluruskan banyaknya isu yang menyebutkan dirinya anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan akhir-akhir ini banyak spanduk-spanduk yang menyebut seperti itu.

“Saya sudah 4 tahun ini sabar, sabar, sabar. Saya diam, enggak menjawab apa-apa, saya diam. Tetapi sekarang saya harus menjawab,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada pembukaan Jambore Kebangsaan Bela Negara Keluarga Besar FKPPI, di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta, Jumat (7/12/2018) siang.

Dijelaskan Jokowi, PKI itu dibubarkan tahun 1965-1966. Sementara dirinya lahir tahun 1961. Dengan demikian, saat PKI dibubarkan dirinya masih berusia 4 tahun. Ia mempertanyakan isu tersebut, apakah ada balita PKI?

“Cara-cara berpolitik yang tidak beretika seperti itu harus dihentikan. Itu merusak cara-cara kita dalam berdemokrasi dan mencerdaskan kehidupan berbangsa bernegara,” ujar Presiden Jokowi, sebagaimana dilansir Setkab.go.id, Jumat (7/12/2018).

Sumber : Suara.com