Inilah 10 Kota Paling Toleran di Indonesia

Festival Tatung di Singkawang - telegraph.co.uk
08 Desember 2018 11:10 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Indeks kota toleran Indonesia 2018 telah diumumkan. Bisnis.com merangkum 10 besar dari 94 kota paling menerima keberagaman. Ada banyak penilaian mengapa kota tersebut layak dicap paling toleransi.

Surabaya menduduki peringkat ke-10 dengan skor 5,823 karena kepala daerahnya berhasil memobilisasi guru agama untuk menggenjot sikap saling menyayangi antarwarganya.

Posisi ke-9 ditempati Binjai (5,830) disebabkan tidak ada regulasi daerah yang bersifat diskriminatif kepada suku, ras, dan agama. Pemerintah juga sering menghadiri acara keagamaan demi menjaga kerukunan. Berdasarkan sejarah, Kota Rambutan ini tidak pernah mengalami kerusuhan meski warganya heterogen. 

Peringkat selanjutnya Tomohon dengan skor 5,833. Pemerintah setempat juga selalu ada dalam kegiatan keagamaan dan tidak membuat kebijakan diskriminatif. Umat Islam sebagai minoritas bisa hidup bersama tanpa dikucilkan.

Kupang menduduki peringkat ke-7 (5,857). Selama puluhan tahun warga berbeda agama bisa hidup berdampingan. Dengan lahan terbatas, masing-masing tempat ibadah memberikan lahan untuk beribadah umat lain ketika ada acara keagamaan.

Bekasi menjadi satu-satunya kota penyangga Jakarta yang toleran dengan peringkat ke-6 (5,890). Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi secara tegas bisa mengatasi masalah tidak toleran. Rahmat juga dengan cepat bisa meredam konflik horizontal.

Ambon menempati posisi ke-5 (5.960) karena peran pemerintah yang membuat bidup rukun meski masyarakat hidup heterogen. 

Selanjutnya Manado di posisi ke-4 (6,030) dengan kehidupan masyarakat yang saling menjaga ketahanan. Saat umat Islam merayakan Idul Fitri, penduduk non-Islam menjadi penjaga ibadah mereka.

Pematang Siantar berada di posisi tiga besar (6.280). Mereka menampilkan setiap umat gotong royong membersihkan tempat ibadah. Konflik besar berkepanjangan juga tidak pernah ada di sana. 

Salatiga menempati posisi ke-2 (6,477). Pemerintah setempat memiliki sistem deteksi dini apabila ada indikasi perpecahan antaragama. 

Singkawang adalah kota [paling] toleran 2018 (6,513) karena tidak pernah mengalami konflik. Saat perang Sampit pecah, Singkawang menjadi tempat singgah. 

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan bahwa aktivitas penuh perhatian membuat hidup makin harmonis di tengah keragaman etnis, agama, dan identitas primordial lainnya.

“Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, toleransi akan memberikan muatan bahwa keragaman agama, bahasa, budaya, etnis, dan sub sosial kultural lainnya merupakan kekayaan bersama bangsa Indonesia. Kebhinekaan itu menyatukan bukan menceraiberaikan. Perbedaan bukanlah dalih untuk  berkonflik antarnegara,” katanya di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Kolom 6 hours ago

Jelalatan