Ekonomi Agama dan Problem Ekonomi

Ahmad Ubaidillah - Istimewa
07 Desember 2018 19:59 WIB Ahmad Ubaidillah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (5/12/2018). Esai ini karya Ahmad Ubaidillah, dosen Ekonomi Syariat di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan, Jawa Timur. Alamat e-mail penulis adalah ubaidmad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Tidak dapat disangkal bahwa banyak gerakan keagamaan yang memiliki agenda ekonomi. Gerakan ini muncul guna merekonstruksi sistem ekonomi yang dinilai tak sesuai dengan ketentuan agama mereka masing-masing.

Landasan berpikiranya adalah sistem ekonomi saat ini, terutama kapitalisme, dianggap gagal menyejahteran umat manusia. Oleh sebab itu, kita kerap kali mendengar ekonomi Kristen, sosialisme Buddha, ekonomi Hindu, atau ekonomi Islam.

Agenda utama ekonomi dari gerakan yang dibawa pemikir keagamaan tersebut terlihat berbeda dengan ekonomi konvensional (kapitalisme dan sosialisme).  Setiap agenda ekonomi yang mereka usung memliki warisan dan ciri filosofis yang berbeda serta wacana yang unik.

Ekonomi keagamaan hampir tidak mau saling bertukar gagasan dan metode. Kita bisa membaca ribuan halaman literatur yang membahas ekonomi Islam, misalnya, yang tidak mau ”menyapa”  referensi yang mengkaji ekonomi Kristen, dan begitu juga sebaliknya.

Ekonomi semacam ini mempunyai tujuan menggantikan pemikiran ekonomi sekuler. Berkaitan dengan ketidakmauan saling menyinggung ajaran masing-masing ekonomi ini, Timur Kuran  dalam tulisan yang berjudul Fundamentalism dan the Economy mengamati setidaknya ada dua faktor.

Pertama, setiap doktrin ekonomi keagamaan itu menonjolkan kebaikan dan superioritas agama masing-masing. Kedua, setiap dontrin ekonomi keagamaan, terutama fundamentalistis, menampilkan bentuk ekspresi yang berbeda dan orang luar dapat menembus hanya dengan pelatihan.

Identitas

Sikap saling menjauhkan diri masing-masing doktrin ini sangat bertentangan dengan kesadaran yang diakui dan keterbukaan nyata terhadap pemikiran ekonomi sekuler. Dontrin ekonomi fundamentalis meminjam tradisi intelektual yang secara pura-pura mereka maksudkan untuk menggantikan sosialime marxian dan berbagai tradisi sekuler yang mempromosikan sistem ekonomi pasar.

Ekonomi keagamaan lebih senang menampilkan identitas ketimbang menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi umat mansia. Hampir semua ilmuwan setuju bahwa pemanasan global adalah fakta, namun menurut Yuval Noah Harari, sejarawan Israel dalam buku 21 Lessons for the 21st Century, tidak ada konsensus mengenai reaksi ekonomi terbaik untuk mengatasi ancaman ini.

Tulisan-tulisan suci kuno bukan panduan yang baik untuk ekonomi modern dan garis patahan utama, misalnya antara kapitalis dan sosialis, tidak sesuai dengan divisi antara agama-agama tradisonal.

Harari mengakui kebenaran tentang rabi-rabi dan ayatollah di negara Israel dan Iran, misalnya, yang memiliki pernyataan langsung tentang kebijakan ekonomi pemerintah, dan bahkan di negara-negara sekuler seperti Amerika Serikat dan Brasil.

Para pemimpin agama memengaruhi opini publik mengenai hal-hal mulai dari perpajakan hingga peraturan lingkungan, namun pada kenyataannya dalam sebagian besar kasus ini agama tradisonal hanya memainkan biola kedua (peran asisten) dari teori-teori sains modern.

Menyesatkan

Harari memberikan contoh. Ketika Ayatollah Khamenei membuat keputusan penting tentang ekonomi Iran, dia tidak akan menemukan jawaban yang diperlukan dalam Alquran karena orang Arab abad ketujuh hanya tahu sedikit tentang masalah dan peluang ekonomi industri modern dan pasar keuangan global.

Dia dan para pembantunya harus menengok Karl Marx, Milton Friedman, Friedrich Hayek, dan sains ekonomi modern untuk mendapatkan jawaban. Setelah memutuskan menaikkan suku bunga, menurunkan pajak, memprivatisasi monopoli pemerintah, atau menandatangani perjanjian tarif internasional, Khamenei kemudian menggunakan pengetahuan dan otoritas religiusnya untuk membungkus jawaban ilmiah dalam pakaian dari ayat Alquran dan menyampaikan kepada masyarakat sebagai kehendak Allah.

Pakaian ini menyesatkan. Ketika kita membandingkan kebijakan ekonomi Iran yang Syiah, Arab Saudi yang Sunni, Israel yang Yahudi, India yang Hindu, dan Amerika Serikat yang Kristen, baru kita bisa melihat bahwa tidak ada banyak perbedaan di antara mereka. Harari juga mengkritik para pemikir muslim, Yahudi, Hindu, dan Kristen yang selama abad ke-19 dan abad ke-20 mencerca materialisme modern, melawan kapitalisme yang tanpa jiwa, dan melawan akses-akses negara birokrasi.

Mereka, para pemikir keagamaan itu, berjanji bahwa jika saja mereka diberi kesempatan, mereka akan menyelesaikan semua masalah modernitas dan membangun sistem sosioekonomi yang sama sekali berbeda berdasarkan nilai-nilai spiritual abadi dari keyakinan mereka.

Saat mereka diberi beberapa kesempatan dan peluang, satu-satunya perubahan nyata yang mereka buat terhadap bangunan ekonomi modern hanya mengecat ulang dan menempatkan bulan sabit, salib, bintang daud berukuran besar di atap. Mereka tidak membongkar dan mengganti fondasi ekonomi modern dengan ekonomi berbasis keagamaan mereka masing-masing.

Tidak Relevan

Dalam urusan ekonomi, keahlian para ahli agama yang telah lama diasah dalam menafsirkan kembali teks-teks suci yang membuat agama menjadi tidak relevan. Dalam kasus Khamenei, tidak peduli kebijakan ekonomi mana yang dia pilih, dia selalu bisa mengaitkannya dengan Alquran.

Akibatnya, Alquran terdegradasi dari sumber pengetahuan sejati menjadi sumber otoritas belaka. Ketika kita menghadapi dilema ekonomi yang sulit, kita membaca Marx dan Hayek secara cermat, dan gagasan ekonomi mereka membantu kita memahami sistem ekonomi dengan lebih baik, melihat sesuatu dari sudut pandang baru, dan memikirkan solusi potensial.

Setelah merumuskan suatu jawaban, kita beralih ke Alquran dan kita membaca secara cermat untuk mencari beberapa surat yang, jika ditafsirkan dengan cukup imajinatif, dapat membenarkan solusi yang kita dapatkan dari Marx atau Hayek. Tidak peduli apa solusi yang kita temukan di sana, jika kita ahli Alquran yang baik, kita selalu dapat membenarkannya.

Hal yang sama berlaku untuk agama Kristen. Seorang Kristen dapat menjadi kapitalis semudah menjadi sosialis dan meskipun beberapa hal yang dikatakan Yesus benar-benar berbau komunisme, namun selama perang dingin kapitalis Amerika Serikat yang saleh terus membaca khotbah di atas bukit tanpa banyak memerhatikan.

Intinya, tidak ada yang namanya ”ekonomi Kristen”, ”ekonomi Islam”, atau ”ekonomi Hindu”. Bukannya tidak ada ide ekonomi dalam Alkitab, Alquran, atau Weda. Hanya saja ide-ide ini tidak mutakhir, tidak relevan untuk menjawab tantangan ekonomi modern.