10 Kota Paling Toleran di Indonesia: Salatiga No 2, Ini Alasannya

Gerbang tol Salatiga. (Solopos/M. Feri Setiawan)
07 Desember 2018 20:00 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTAIndeks kota toleran Indonesia 2018 telah diumumkan. Dalam 10 besar dari 94 kota dinilai paling bisa menerima keberagaman, tiga di antaranya ada di Pulau Jawa, yakni, Surabaya, Bekasi, dan Salatiga. Ada banyak penilaian mengapa kota tersebut layak disebut paling toleran.

Surabaya menduduki peringkat ke-10 dengan skor 5,823 karena kepala daerahnya berhasil memobilisasi guru agama untuk menggenjot sikap saling menyayangi antarwarganya.

Posisi ke-9 ditempati Binjai (5,830) disebabkan tidak ada regulasi daerah yang bersifat diskriminatif kepada suku, ras, dan agama. Pemerintah juga sering menghadiri acara keagamaan demi menjaga kerukunan. Berdasarkan sejarah, Kota Rambutan tidak pernah mengalami kerusuhan meski warganya heterogen.

Peringkat selanjutnya adalah Tomohon dengan skor 5,833. Pemerintah setempat juga selalu ada dalam kegiatan keagamaan dan tidak membuat kebijakan diskriminatif. Umat Islam sebagai minoritas bisa hidup bersama tanpa dikucilkan.

Kupang menduduki peringkat ke-7 (5,857). Selama puluhan tahun warga berbeda agama bisa hidup berdampingan. Dengan lahan terbatas, masing-masing tempat ibadah memberikan lahan untuk beribadah umat lain ketika ada acara keagamaan.

Bekasi menjadi satu-satunya kota penyangga Jakarta yang toleran dengan peringkat ke-6 (5,890). Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi secara tegas bisa mengatasi masalah tidak toleran. Rahmat juga dengan cepat bisa meredam konflik horizontal.

Ambon menempati posisi ke-5 (5.960) karena peran pemerintah yang membuat bidup rukun meski masyarakat hidup heterogen. Selanjutnya Manado di posisi keempat (6,030) dengan kehidupan masyarakat yang saling menjaga ketahanan. Saat umat Islam merayakan Idul Fitri, penduduk non Islam menjadi penjaga ibadah mereka.

Pematang Siantar berada di posisi tiga besar (6.280). Mereka menampilkan setiap umat gotong royong membersihkan tempat ibadah. Konflik besar berkepanjangan juga tidak pernah ada di sana.

Salatiga menjadi menempati posisi ke-2 (6,477). Pemerintah setempat memiliki sistem deteksi dini apabila ada indikasi perpecahan antaragama.

Nomor 1, Singkawang menyabet gelar sebagai kota toleran 2018 (6,513) karena tidak pernah mengalami konflik. Bahkan saat perang Sampit pecah, Singkawang menjadi tempat singgah.

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan bahwa aktivitas penuh perhatian membuat hidup makin harmonis di tengah keragaman etnis, agama, dan identitas primordial lainnya.

“Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, toleransi akan memberikan muatan bahwa keragaman agama, bahasa, budaya, etnis, dan sub sosial kultural lainnya merupakan kekayaan bersama bangsa Indonesia. Kebhinekaan itu menyatukan bukan menceraiberaikan. Perbedaan bukanlah dalih untuk berkonflik antarnegara,” katanya di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Sumber : Bisnis/JIBI