Komnas HAM Papua: Pekerja Berbaris dengan Tangan Terikat, Lalu Diberondong

Prajurit TNI bersiap naik helikopter menuju Nduga, Papua, Rabu (5/12 - 2018), untuk mengatasi kelompok bersenjata yang diduga menewaskan 31 pekerja proyek jalur Trans Papua. (Antara/Iwan Adisaputra)
06 Desember 2018 19:36 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kepala Kantor Perwakilan Komisi Nasional (Komnas) HAM Provinsi Papua Frits B Ramandey mengatakan sebanyak 25 orang pekerja konstruksi di Distrik Yigi dipaksa berbaris dan tangannya diikat kemudian diberondong peluru atau ditembak secara beruntun. Hal itu berdasarkan keterangan dari pada saksi korban yang selamat.

Frits di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Kamis (6/12/2018), mengaku sudah bertemu dua korban selamat yang saat itu sempat diikat. Mereka diikat bersama-sama dengan pekerja lain sebelum ditembaki oleh kelompok bersenjata.

Berdasarkan kesaksian saksi korban yang disampaikan kembali oleh Frits, saat insiden penembakan terhadap 25 orang tersebut, 11 orang berhasil meloloskan diri. Namun mereka dikejar dan hanya empat orang yang selamat setelah lari terpisah masuk ke dalam hutan belantara.

Sebagian pekerja berhasil lari dari lokasi penembakan pertama karena mereka pura-pura terjatuh saat penembakan. Saat anggota kelompok bersenjata bersorak-sorak, pekerja yang pura-pura tertembak langsung bangun dan lari.

Sejumlah korban penembakan juga mengaku tangan mereka diikat. Mereka dipaksa berjalan kaki dari lokasi penyerangan mulai pukul 15.00 WIT hingga pagi ke tempat eksekusi di Gunung Mbua.

"25 orang itu diikat, lalu perintah dari pimpinannya untuk mereka diberondong dengan cara yang sadis. Ini tidakan yang tidak manusiawi. Tidak ada orang yang tidak punya alasan untuk memberi alamat kutuk terhadap mereka ini," kata Frits.

Sebelumnya, Polda Papua melalui pernyataan pers yang diterima Bisnis/JIBI, Selasa (4/11/2018) siang, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya para korban dan mengecam tindakan biadab yang tidak manusiawi dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata.

Kelompok kriminal bersenjata telah sering melakukan tindakan tidak manusiawi sejak sebelum pilkada 2018 lalu. Mereka pernah melakukan penyanderaan terhadap para guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma, Kabupaten Nduga.

"Para pekerja tersebut membangun jembatan untuk menghubungkan suatu daerah guna memperlancar pembangunan, namun karena aksi tidak manusiawi Kelompok Kriminal Bersenjata tersebut pembangunan jembatan menjadi terhambat," sebut pernyataan resmi Polda Papua tersebut.

Sumber : Antara