Ruang Kota dan Identitas

Udji Kayang Aditya Supriyanto - Istimewa
04 Desember 2018 20:35 WIB Udji Kayang Aditya Supriyanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (1/12/2018). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, editor buku dan penulis lepas yang tinggal di Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada suatu Kamis siang saya bersama tiga rekan kerja keluar dari kantor Balai Pustaka seusai menunaikan suatu pertemuan yang kami rancang sebelumnya. Kami berbincang sejenak di taman Balai Pustaka.

”Ini kantor sudah bagus, Dji. Dulu masih kayak kantor kelurahan kawasan tertinggal,” ungkap salah seorang rekan kerja saya. Balai Pustaka kini sudah pindah dari kantor lama di Jl. Gunung Sahari Raya, Kemayoran, ke kantor baru di Jl. Bunga, Matraman, Jakarta.

Di kantor baru Balai Pustaka terdapat taman, kafe, dan ruang komunitas yang lebih bagus daripada kantor terdahulu. Konon, Balai Pustaka sedang berusaha dirawat kembali. Indonesia sudah terlalu banyak menanggung dosa sejarah, menelantarkan Balai Pustaka jangan sampai menambahi dosa.

Seusai berbincang-bincang kami langsung bergerak mencari pelipur perut lapar. Kami makan di warung mi ayam (di sinilah, sejak saya tinggal di Jakarta, kali pertama saya bertemu mi ayam layak makan di Jakarta) dan nasi goreng yang tidak jauh dari kantor Balai Pustaka.

”Ini warung legendaris, Dji. Dulu aku sering mampir di sini. Gerejaku kan dulu di situ tuh. Tapi, karena rama-rama di sana dulu ceramahnya galak, ya sama saja dengan ustaz-ustaz zaman sekarang yang ceramahnya keras itu, akhirnya aku pindah dan dapat rama-rama SJ [Serikat Jesuit], kan terkenal pintar-pintar tuh,” kata rekan saya itu. Cerita-cerita itu, sekalipun personal, bagi saya penting untuk belajar memahami kota yang saya tinggali sekarang.

”Kayaknya aku pernah ke sini deh,” saya berkomentar pendek. Rekan kerja saya yang berusia sebaya (tepatnya lebih muda setahun daripada saya ) menimpali,”Gue percaya sih, Dji, kalau lu main ke daerah sini. Lu tuh kalau jadi anak Matraman, apalagi anak Cikini gitu, cocok emang. Kalau jadi anak Kemang, baru deh nggak ada cocok-cocoknya.”

Sontak, kami tertawa. Pernyataan itu menyisakan keheranan di benak saya,”Masak gue gabisa kayak anak Kemang gitu? Which is, literally, gue kan kinda millenials juga, anjir...”

Karakter

Ruang-ruang kota di Jakarta telah mendefinisikan karakter personal atau komunitas secara spesifik. Bagi orang luar, mereka mungkin hanya disebut ”anak Jakarta”. Di Jakarta, identitas anak Jakarta terbelah, ada anak Menteng, anak Kemang, anak Matraman, dan sebagainya.

Keterbelahan Jakarta bukan baru-baru ini saja. Sejak lama ada ruang-ruang kota di Jakarta yang secara spesifik dan unik mendefinisikan khalayaknya. Kita bisa mengingat Misbach Yusa Biran mengisahkan anak Pasar Senen lewat buku Keajaiban di Pasar Senen (1971) dan menjadikan itu latar dalam buku Oh, Film (1973).

Dengan jenaka, Misbach mengisahkan tokoh dan peristiwa di Pasar Senen: ruang para seniman radikal, konyol, dan wagu. Hari ini, bahkan pada saat buku Misbach ditulis pun, ruang dan peristiwa Pasar Senen sudah berubah.

Siapa pun yang mengilas balik Pasar Senen pada 1950-an, pasti merasakan identitas spesifik yang terdefinisikan ruang masa silam. Sedasawarsa kemudian kita bertemu ruang lain di Jakarta. Catatan terlambat, baru hadir sedasawarsa berikutnya, di Majalah Matra, Mei 1995.

Matra memuat pernyataan Radhar Panca Dahana yang pantas kita pungut kembali. Radhar menjelaskan Blok M telah menjadi sebuah dunia yang kadang tidak bisa kita sadari: apakah ia nyata atau maya. Seperti sebuah kuali tempat semua jenis manusia diramu zaman menjadi komune atau kerumunan yang centang-perenang. Tak teridentifikasi, tapi ada.

Radhar pernah (dalam term pilihannya) ”menggelandang” di Blok M dan karena itulah ia memahami betul ruang itu. Jika Pasar Senen era 1950-an diidentifikasi Misbach sebagai ruang seniman, Blok M punya kasus lain: tak terindetifikasi secara spesifik, tapi ada, dan orang sana tetap bisa bilang,”Gue anak Blok M.”

Radhar memahami kawasan perbelanjaan ternama ini mengalami semacam pergeseran atau metamorfosis pada perilaku atau psikososial dari komunitas yang mendiaminya: kaum urban yang belum stabil posisi dan kedudukannya, baik secara sosial, ekonomis, maupun politis...

Dari dunia yang mengilhami sejumlah besar karya fiksi, opini, dan jurnalistik itu, Radhar seolah-olah menjadi saksi bagaimana kaum urban seperti menyiksa diri untuk mengubah nasib dan citra hidup mereka.

Zaman Berubah

Pada suatu percakapan sore di Blok M, dua dasawarsa setelah pernyataan Radhar, Donny Anggoro bilang,”Sekarang mah enak di Blok M, sudah ada AC, sudah standar mal.” Anak Blok M hari ini agaknya tak benar-benar menyiksa diri.

Zaman berubah, ruang pun ikut berubah. Tokoh dan peristiwa penanda ruang sudah menjelma jadi masa silam. Identitas, meski sekadar ”identitas”, tetap terwariskan: setidak-tidaknya, sebutan ”anak Senen” dan ”anak Blok M” masih terbayangkan.

Identitas yang berbasis tempat nongkrong Jakarta masa kini, atau tempat cari duit seperti Jakarta masa silam, rasanya tidak saya rasakan sepanjang lebih dari dua dasawarsa saya tinggal di Solo. Ada ruang-ruang masa silam yang mendefinisikan identitas manusia urban di Solo.

Di novel Student Hidjo (1918) garapan Mas Marco Kartodikromo, Kebon Raja alias Taman Sriwedari menjadi ruang perayaan kelas menengah Solo masa silam. Di novel lain, Solo Diwaktu Malam (1950) garapan Kamadjaja, hadir ruang yang lain: Tirtonadi.

Ruang itu masih jadi tempat perayaan kelas menengah, seperti Sriwedari, tapi lebih banal. Tirtonadi menjadi ruang sahih untuk menjalani gaya hidup royal di Solo masa silam. Ruang itu sampai-sampai terabadikan dalam nyanyian.

Tirtonadi jang permai/ ditepi sungai/ suatu kebun jang permai/ riuh dan ramai// itu suaranja air/ mendesir-desir/ dari pintu air/ terdjun mengalir// pun disana tempatnja/ beristirahat/ melepaskan lelahnja/ hibur hatinja// sepandjang lembah sungai/ teratur rapi/ sungguh elok dan permai/ di Tirtonadi.

Bersama Jurug, Tirtonadi pun tersenandungkan di lagu berjudul persis novel Kamadjaja, Solo Diwaktu Malam. Tirtonadi sudah berubah dan Sriwedari sedang dihancurkan. Kita susah mencari identitas di ruang Kota Solo.

Misalkan kita menyebut seseorang cah Gandekan, cah Jagalan, atau cah Banyuanyar, sebutan itu senantiasa merujuk tempat tinggal, alih-alih tempat berperistiwa di luar lingkungan tempat tinggal.

Meski setiap hari mahasiswa Universitas Sebelas Maret berperistiwa di kampus dan sekitarnya, mereka tetap susah disebut cah Kentingan, selain para anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan.

Kentingan merujuk kepada unit kegiatan mahasiswa LPM Kentingan, bukan ruang berperistiwa yang melibatkan sekian banyak mahasiswa kampus itu Ruang-ruang kota di Solo seakan-akan belum punya kuasa menegaskan identitas.

Oh, tunggu dulu, mungkin kita masih bisa membayangkan identitas macam apa yang termiliki orang-orang punya hobi ”main ke belakang RRI” bukan?