Pengamat: Relawan Prabowo-Sandiaga Militan, Jokowi Kehilangan Banyak Relawan

Tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno memperkenalkan seragam baru berupa rompi berbahan jins - Instagram@Dahnil_Anzar_ Simanjuntak,
04 Desember 2018 17:30 WIB Lingga Sukatma Wiangga Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membandingkan militansi relawan pendukung dua pasangan calon presiden-calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dia menilai relawan Prabowo lebih militan daripada relawan Jokowi.

Menurut Hendri, yang juga pendiri lembaga survei Kedaikopi, saat ini calon petahana Jokowi kehilangan banyak relawan yang berhasil mengantarkannya pada kursi RI-1 pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2014.

Hendri menilai, banyak relawan Jokowi yang cukup berpengaruh namun sudah diangkat menjadi komisaris di beberapa perusahaan pelat merah. Sedangkan relawan Prabowo kian kuat militansinya. Hendri beralasan kesimpulannya berdasarkan massa aksi reuni 212 pada Minggu (2/12/2018).

“Panggung 2014 dan 2019 beda. Pada 2014 Pak Jokowi memiliki relawan yang sedemikian banyak yang bisa diandalkan meraih suara. Nah kalau 2019 relawannya banyak yang sudah menjadi komisaris jadi sulit mengharapkan relawan itu. Sementara Pak Prabowo, misalnya [alumni] 212 dan sebagainya yang sangat militan. Jadi menarik,” ujarnya, Selasa (4/12/2018).

Hal itu diungkapkan Hendri dalam diskusi bertajuk Carut Marut Komunikasi Kebijakan Jokowi: Konsistensi, Inkonsistensi dan Ambivalensi di Sekretariat Nasional Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat.

Hendri menganalisis, pengaruh relawan tersebut sangat kuat untuk meraup suara. Oleh karena itu, jika calon petahana ingin mempertahankan dan meningkatkan elektabilitas, basis relawan itu perlu dibenahi dan diperkuat kembali.

Jika tidak, kata dia, elektabilitas Jokowi bisa tergerus. Bahkan dia memperkirakan persentasenya bisa berimbang pada awal tahun depan.

“Kalau di 2014 kan Pak Jokowi dibantu oleh para relawan-relawan. Sekarang relawan itu sudah jadi komisaris. Ya udah  tinggalkan dulu kursi empuknya, turun lagi ke lapangan, bantu lagi Pak Jokowi. Kalau enggak ya seperti yang saya perkirakan di Maret, Februari bisa fifty-fifty nanti,” ujarnya.

Hendri menilai, relawan pendukung Jokowi pada 2014 saat ini seharusnya menyaksikan dan mengikuti perkembangan elektabilitas calon presiden nomor urut satu. Pada September-Oktober 2018 memang rerata disparitas elektabilitas kedua calon presiden dan wakilnya memang masih 20%.

Namun tentunya pihak oposisi tidak akan diam saja. Terlebih, pemilu presiden 2019 memiliki waktu kampanye yang lebih panjang dibandingkan kontestasi serupa sebelumnya. Apa lagi, lanjut Hendri, masyarakat belum puas dengan kondisi ekonomi dan masalah penegakan hukum pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Dengan kondisi ekonomi seperti ini, kemudian dengan hukum yang belum bisa terlalu dibanggakan oleh Pak Jokowi maka disparitas ini makin lama makin kecil. Lagi-lagi Pak Prabowo punya militansi 212, seharusnya sekarang yang bisa mengimbangi itu siapa, ya relawan-relawan Pak Jokowi. Kecuali kalau relawannya cuma ingin menjadi komisaris 5 tahun. Jadi ya enggak usah turun ke lapangan,” tuturnya sambil tertawa.

Sumber : Bisnis/JIBI