Rizieq Shihab Haramkan Calon dari Partai Pendukung Penista Agama, PKB: Biarin

Reuni 212 di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Minggu (2/12 - 2018). (Instagram/@sandiuno)
03 Desember 2018 15:00 WIB Muhammad Ridwan, Jaffry Prabu P Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Ucapan Rizieq Shihab yang diperdengarkan di Reuni 212, Minggu (2/12/2018), agar massa tak memilih calon dari partai pendukung penista agama, ditanggapi santai. Salah satu partai dari koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), enggan bereaksi.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB Abdul Kadir Karding mengaku tidak terlalu mempersalahkan ucapan Rizieq itu. Pada Pilkada Jakarta 2017 putaran kedua lalu, PKB menjadi salah satu partai yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sedangkan Ahok kini mendekam di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, karena kasus penistaan agama.

“Kami [PKB] disebut penista agama tentu, biar aja, toh pendukung PKB terus meningkat,” ujarnya kepada wartawan, Senin (3/12/2018).

Menurutnya, dalam kesehariannya, PKB terus melakukan kegiatan-kegiatan yang pro-Islam, seperti membangun pesantren, madrasah, mendorong kebijakan-kebijakan yang menjunjung tinggi nilai keislaman. Dengan begitu, dia yakin seruan Rizieq Shihab itu tidak memberikan dampak yang besar bagi elektoral PKB.

“Oleh karena itu orang menilai bahwa PKB ini adalah partai yang tidak perlu koar-koar tetapi telah berbuat, berusaha, untuk membantu mengembangkan masyarakat, institusi Muslim, paling tidak khususnya Nahdlatul Ulama [NU] dan umat muslim secara keseluruhan,” kata Karding.

Tak hanya seruan agar tidak memilih partai tertentu, lagu dengan lirik 2019 Ganti Presiden juga menggema di kawasan Monas saat Reuni 212 berlansung.  Lagu itu terdengar setelah rekaman ceramah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut diputar. Lagu ini berbeda dengan musik yang dipopulerkan Sang Alang dan berjudul 2019 Ganti Presiden.

“2019, ganti presiden yang tidak cerdas. 2019, ganti presiden yang tidak jelas," bunyi penggalan lagu tersebut.

Kemudian, lagu itu menyebut bahwa Indonesia memiliki presiden tukang bohong. Tidak disebutkan nama Presiden siapa dalam lagu itu. Padahal, sebelumnya anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah memperingatkan agar tidak ada kegiatan ataupun unsur politik di Reuni 212. Abhan menjelaskan bahwa seruan 2019 ganti presiden juga tidak boleh diucapkan karena masuk dalam kategori kampanye.

“Nanti diharapkan itu tidak kampanye. Memang mereka kan izinnya adalah izin menyampaikan pendapat ya, bukan izin buat kampanye,” katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (29/11/2018).

Reuni 212 dihadiri tokoh-tokoh kubu pengusung Prabowo-Sandi, yaitu Prabowo Subianto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketua Dewan Pengarah PAN Amien Rais, dan Fadli Zon. Selain itu, ada pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

Di sisi lain pasangan petahana Jokowi-Ma'ruf Amin dan tim kampanyenya tidak diundang. Panitia beralasan mereka tak diundang karena menyeru agar reuni tak diadakan.

Sumber : Bisnis/JIBI

Kolom 6 hours ago

Jelalatan