Guru dan Kelas Google

Muhammad Khambali - Istimewa
01 Desember 2018 16:17 WIB Muhammad Khambali Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (28/11/2018). Esai ini karya Muhammad Khambali, esais dan pengajar di Sekolah YPD Rawinala, Jakarta. Alamat e-mail penulis adalah aang.tirta@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Ada catatan penting yang layak diperbincangkan dalam peringatan Hari Guru pada 25 November lalu. Zaman tidak berhenti bergerak dan pemaknaan terhadap guru telah jauh berubah dan bergeser dari apa yang kita lakukan pada masa lalu.

Tidak mungkin lagi guru dibayangkan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan seperti pada masa ketika sistem persekolahan yang kini kita kenal lahir kali pertama di Yunani kuno atau kehendak guru untuk mendidik elit dan priayi pada tahun-tahun kehadiran sekolah-sekolah Belanda di masa kolonialisme sebagai awal pendidikan modern di Indonesia.

Kini para guru kiwari atau mutakhir telah berada di era ketika Internet dan raksasa teknologi Google bukan saja telah mengubah gaya dan cara hidup umat manusia, melainkan juga bagaimana kita belajar di ruang kelas.

Sekalipun ironis, arah perubahan radikal ini tidak dapat dielakkan setelah begitu masifnya perkembangan teknologi. Google melakukan apa yang telah dilakukan pada bidang-bidang lain. Pendidikan harus siap memasuki era big data ketika posisi guru sebagai pusat pengetahuan di ruang kelas, sangat mungkin untuk digoyang, bahkan digantikan oleh Google.

Sulit dimungkiri pada saat ini nyaris tidak ada yang tidak dapat ditelusuri oleh ”mesin pengetahuan” Google. Seorang murid tak perlu lagi harus bertanya apa yang dirinya tidak tahu kepada gurunya. Segala yang ingin dicari atau diketahui, dapat diperoleh hanya dengan mengetikkan kata kunci ke mesin pencari Google.

Tidak sekadar menjadi mesin pencarian, Google telah membuka ruang kelas baru berupa layanan yang dinamakan Google Classroom. Ini sebuah layanan kelas digital yang membuat siapa pun bisa bergabung dan mengikuti pelajaran yang disukai, hanya dengan menggunakan perangkat yang terkoneksi dengan Internet.

Di kelas Google belajar bisa dilakukan di mana pun. Layanan Google Classroom memiliki kelas-kelas dengan mata pelajaran yang mirip seperti di sekolahan dan dapat diikuti oleh para pelajar dari berbagai kot di dunia.

Tak Butuh Kertas

Natasha Singer dalam sebuah artikel di The New York Times yang berjudul How Google Took Over the Classrom (2017) mengutarakan Google telah mengubah sekolah-sekolah di Amerika Serikat melalui kehadiran laptop murah, Chromebooks, dan layanan aplikasi gratisnya.

Dengan laptop Chromebooks, para pelajar di sana membuka aplikasi Google Classroom, tempat para guru memberi tugas. Mereka kemudian mengklik Google Docs, program penulisan, dan mulai menulis sebuah esai. Mereka tidak lagi butuh lembar kertas ujian. Mereka cukup mengerjakannya di Google Docs.

Hanya dalam waktu lima tahun, sejak kali pertama diluncurkan, Google Classroom telah dipakai lebih dari setengah siswa sekolah dasar dan sekolah menengah di Amerika Serikat. Guru-guru bahkan mulai ikut mempromosikan Google Classroom.

Google akan menempatkan segala produk mereka di ruang kelas. Natasha Singer menyebut apa yang terjadi pada persekolahan di Amerika Serikat hari ini sebagai ”Googlifikasi ruang kelas”. Di Indonesia, kita tinggal menunggu waktu, dan tentu pada akhirnya tidak dapat ditolak.

Lantas, di manakah posisi tawar guru dalam pendidikan abad ini dan pada tahun-tahun mendatang? Pada abad ke 20 begitu banyak peran yang disematkan pada seorang guru. Guru berperan memberi tahu para murid cara mendapatkan pengetahuan.

Tahu cara menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menyimpulkan, berkreasi, dan mengingat sesuatu yang penting. Lebih dari itu, guru berperan membantu mereka mengembangkan keterampilan bersosialisasi, kreativitas, rasa ingin tahu, bekerja sama dengan orang lain, kepercayaan diri, harga diri, dan perasaan mereka tentang apa yang salah dan apa yang benar.

Juga kemampuan mereka untuk menghadapi kesulitan dan masalah, pemahaman mereka tentang peran dirinya sebagai warga dunia. Dengan kata lain, semua hal yang saat itu belum bisa dilakukan oleh komputer, Internet, dan Google.

 Demokratisasi Pengetahuan

Sementara pada abad ke-21 ini, para guru kiwari dapat menyadari setumpuk peran tersebut telah dimudahkan oleh kehadiran teknologi. Pekerjaan guru tidak menjadi ringan, tapi teknologi dapat disikapi untuk membantu para guru dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan atraktif di ruang kelas.

Kehadiran Internet dan Google juga memungkinkan ada akses pengetahuan yang begitu melimpah dan mudah. Guru tidak lagi menjadi sumber pengetahuan satu-satunya. Apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh abad ini, seperti yang diutarakan Ian Gilbert dalam buku Why I Do Need a Teacher When I’ve Got Google (2014), adalah demokratisasi pengetahuan.

Guru dapat menciptakan dialog-dialog pengetahuan yang demokratis di ruang kelas. Pembelajaran demokratis di ruang kelas hanya mungkin terjadi ketika guru memiliki kerendahatian sebagai seorang intelektual. Guru bukan seorang penceramah di mimbar yang mesti didengarkan dan dipatuhi segala yang dikatakan.

Guru adalah seorang pemantik diskusi bagi para murid. Mereka dibantu, dipancing, dan digoda untuk mengungkapkan pendapat, gagasan, dan pengetahuan yang telah dimiliki. Pengetahuan tidak dibayangkan sebagai sesuatu yang tetap dan selesai seperti pada masa lalu, apalagi sesuatu yang mesti ditabung oleh guru ke dalam setiap isi kepala para murid.

Pengetahuan dipertanyakan, diragukan, ditemukan, dan diciptakan kembali bersama-sama (guru dan murid) di ruang kelas. Pada abad demokratis ini tidak ada seorang murid yang senang diceramahi di kelas selama berjam-jam.

Adanya kemudahan akses pengetahuan yang diberikan Internet dan Google membuat guru mau tidak mau menyadari seorang murid sangat mungkin memiliki pengetahuan yang dirinya belum tahu atau miliki. Misalnya, seorang murid yang menonton serial populer Cosmos: A Spacetime Odyssey (2014)  di Youtube.

Murid yang demikian ini barangkali lebih tahu perihal jagat raya ketimbang guru sains yang belum menonton. Dengan begitu, pengetahuan dapat menjadi pertukaran dua arah, timpal-menimpal dari guru dan murid. Pada titik itulah, pengetahuan bukan lagi untuk menindas murid, melainkan pengetahuan untuk kebebasan.

Pengetahuan adalah dialog. Zaman berlalu, tapi guru dapat mengambil kearifan yang diutarakan Socrates pada masa lalu. Bagi Socrates, guru selayaknya bidan yang hanya berperan untuk membantu murid-muridnya melahirkan pengetahuan mereka sendiri.

Suatu pengetahuan yang tidak hanya membeo, dihafal, atau cukup disalin-tempel dari mesin pencarian Google, tetapi dialog yang tumbuh dan autentik, penuh kesadaran kritis.