Taman Sriwedari (Makin) Babak Belur

Heri Priyatmoko - Dokumen Solopos
29 November 2018 20:21 WIB Heri Priyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (27/11/2018). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen di Program Studi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pemrakarsa Solo Societeit. Alamat e-mail penulis adalah heripriyatmoko@usd.aci.id.

Solopos.com, SOLO -- Ibarat pawon, asap tebal makin muleg di Taman Sriwedari. Eksekusi kepemilihan lahan Taman Sriwedari di depan mata (Solopos, 26 November 2018). Hal ini terjadi setelah Pengadilan Negeri (PN) Solo menerbitkan Surat Penetapan Sita Eksekusi Lahan Taman Sriwedari pada 26 September lalu.

Surat ini berisi perintah kepada panitera PN Solo agar melaksanakan sita eksekusi terhadap tanah dan bangunan yang menjadi objek sengketa. Salah satu pertimbangan pengadilan menyita adalah Pemerintah Kota Solo tidak kooperatif dan tidak menaati hukum.

Aanmaning/teguran dari Ketua PN Solo sebanyak 13 kali tidak diindahkan. Hal ini menggenapi blunder Pemerintah Kota Solo sebagai pihak yang paling bertanggung jawab merawat warisan Paku Buwono X itu malah kukuh mendirikan masjid raya di kawasan seni budaya tersebut.

Ide nyleneh ini susah dicerna akal sehat. Orang Jawa bilang ora tinemu nalar. Ruang publik legendaris yang sarat kebebasan berekspreasi, kreativitas, dan ingar-bingar seni ini akan dibenturkan dengan tempat ibadah megah yang mensyaratkan keheningan, monoton, dan ketenangan.

Bau kemenyan atau kembang setaman dari tradisi sesajen Kyai Rajamala di Museum Radyapustaka rawan dituding musyrik. Demikian pula baju tradisional yang dikenakan pemain wayang orang Sriwedari yang tak menutupi seluruh tubuh dikhawatirkan mengundang masalah.

Dalam panggung sejarah Nusantara, kebudayaan dan agama (bukan religi atau kepercayaan) tidak selalu karib. Kita maklum ketika Bre Redana sebagai pencinta hiburan wayang wong Sriwedari dalam esai berjudul Sriwedari Ora Sare (22/4) membagikan kegelisahan sekaligus gugatan mengapa lembaga pelat merah getol membangun tempat sembahyang tanpa mengubris suara publik dan mengabaikan aspek sejarah dan budaya.

Bila Taman Balekambang yang semula mangkrak serta kumuh berhasil dipoles cantik oleh Joko Widodo tatkala menjabat Wali Kota Solo, kenapa Kebon Raja alias Taman Sriwedari yang mengadopsi taman indah dalam jagat pewayangan dan ruang interaksi masyarakat lintas kelas itu malah dibiarkan babak belur?

Gudang Pengetahuan

Mari kita bentangkan atlas sejarah lokal. Selain sarana rekreasi, taman kebanggaan warga Soloraya yang dibangun dengan candrasengkala Janma Guna Ngesti Gusti (1831 tahun Jawa) ini memuat pengetahuan beraneka ragam.

Untuk melindungi kepala dari sengatan sinar mentari sekaligus menguatkan tali hubungan manusia terhadap flora, Paku Buwono X menitahkan petugas istana menanam berbagai jenis tumbuhan di area itu.

Di tengah taman didirikan papan palereman (bukan masjid atau musala) agar para pengunjung dapat beristirahat seraya menikmati keindahan taman yang asri dan merasakan pipi dibelai angin sepoi-sepoi yang meniup ranting pepohonan.

Rumah kecil atau kupel yang dinamai Wimbayasa ini mengekalkan cerita pewayangan Taman Sriwedari yang dimiliki istri tercinta Prabu Harjunososrobahu di Kerajaan Maespati. Bermodal uang dan segenap kecerdasan, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat bersama pujangga istana diam-diam mengajari kawula berguru kepada tumbuhan yang memiliki sifat pertapa sejati.

Meski tidak bergerak laiknya seorang pertapa, tanaman di Kebon Raja Sriwedari sanggup menyediakan faedah untuk kehidupan makhluk lain. Melalui bunga, buah, batang, serta oksigen yang dihasilkan, tetumbuhan membantu manusia dan hewan tanpa mengharap imbalan.

Semua itu disediakan dengan begitu tulus tanpa memperkarakan asal-usul dan agama yang dianut makhluk yang ditolong. Filosofi kehidupan tumbuhan tersebut menjadi cermin bagi pandangan hidup orang Jawa tempo doeloe untuk menjaga harmoni dengan alam semesta.

Sadar atau tidak sadar mereka telah menjadikan tumbuhan sedulur sinarawedi sekaligus perlambang dari kekuatan, kesabaran, kejujuran, keikhlasan, kesetiaan yang dianut dan didambakan. Di taman di tengah kota tersebut, masyarakat kian dimanjakan dengan keberadaan kebun binatang tertua di pulau Jawa.

Mengadopsi konsep zoologi, raja yang terkenal dermawan ini menghadirkan kidang, menjangan, buaya, bulus, mliwis, gajah, harimau, ayam alas, kera, dan lainnya. Dari sekian banyak hewan itu yang paling memukau dan menerbitkan kekaguman publik ialah gajah.

Paku Buwonio X meniru ayahnya, Paku Buwono IX (1861-1893), yang dikenal gemar memelihara gajah. Lantaran badan yang besar, gajah sengaja dipelihara raja sebagai simbol kekuasaan yang megah mengingat kuatnya intervensi pemerintah kolonial Belanda kala itu.

Lokasi kandang hewan di bagian barat alun-alun selatan. Kita maklum kawasan itu dinamai Kampung Gajahan sesuai toponimnya. Majalah Djawa (1931) memberitakan kawanan gajah setiap hari diberi makan rumput dan kelapa oleh srati, pekerja yang bermukim di sebelah barat Kampung Kratonan.

Saking senangnya dengan binatang yang satu ini, ia mengangkat abdi dalem dari bangsa India yang dikenal jago melatih gajah seperti dalam sirkus. Lewat kebun binatang, kesadaran pengujung digugah bahwa manusia berhasil menjinakkan dan menaklukkan binatang. Ini merupakan simbol peradaban modern.

Hewan tidak lagi liar layaknya hidup di hutan belantara. Sedangkan dari perspektif pewayangan, penguasa keraton pewaris tertua dinasti Mataram Islam itu hendak membenihkan kecintaan dan rasa sayang manusia terhadap hewan sebagai sesama makhluk Tuhan.

Binatang sering membantu manusia dalam aktivitas sehari-hari maupun saat diterpa masalah. Ambillah contoh dalam cerita Ramayana. Seluruh balatentara Rama yang menyerang Kerajaan Alengka adalah kera kecuali Laksmana. Tatkala memindahkan batu-batu dan gunung untuk membuat jembatan ke Alengka, dijumpai berbagai jenis satwa.

Ruang pelesiran ini semakin komplit dan membikin pengunjung krasan, betah berlama-lama, berkat segaran yang dikonsep seperti taman sari. Raja menyisipkan pesan mulia di sini. Masyarakat diajak menghargai air sebagaimana orang Jawa zaman dulu.

Mereka memandang air begitu sakral sampai muncul istilah banyu panguripan. Sedangkan dalam alam pemikiran Barat, air dijuluki fons vitae (sumber hidup), dan penduduk Yunani menamainya nectar (minuman para dewa).

Menimba Kearifan Lokal

Untuk membuktikan vitalnya banyu panguripan dalam semesta Jawa dapat dilacak dari aneka termiologi. Contohnya, tirta, tirta nirmala, toya pawira, toya marta, tirta kamandalu, banyu bening pawitra sari, dan banyu mahapawitra.

Dalam kehidupan Jawa kuno, air yang diambil dari kolam candi patirtan dianggap sebagai air suci. Contoh candi patirtan yaitu Balekambang (Semarang), Kunti, Lerep, Semboja, Kalitelon, Pengging (semua di Boyolali), serta Payak (Yogyakarta).

Dari sinilah Taman Sriwedari sejatinya bukan sekadar tempat tamasya sekaligus belajar literasi (Museum Radyapustaka), kesenian (Gedung Wayang Orang Sriwedari), tontonan modern (bioskop), serta keplek ilat alias memanjakan lidah (restoran), namun juga ruang menimba kearifan lokal persahabatan manusia bersama alam.

Segala unsur alam yang tersaji di Kebon Raja Sriwedari merupakan bukti betapa Paku Buwono X bersama rakyat hampir tidak berjarak dengan alam sekelilingnya. Flora, fauna, dan air adalah gudang inspirasi, bukan sesuatu yang dijauhi.

Kebon Raja Sriwedari mewadahi persahabatan manusia dan alam sebab pada dasarnya mereka bersatu. Cerita historis manunggaling manusia dengan alam dan tercipta hubungan yang harmonis di taman kota itu haruskah digilas oleh pembangunan masjid raya yang menyalahi misi agung Paku Buwaono X?

Kisah manis yang terangkai di taman bersejarah ini akan tinggal mitos. Kini, rencana sita eksekusi terhadap tanah dan bangunan di Taman Sriwedari sudah di depan mata. Kita lihat saja, sebelum masyarakat turun jalan dan bertindak, Pemerintah Kota Solo bersama segenap panitia pembangunan masjid di Taman Sriwedari silakan memperjuangkan kawasan itu.

Saya teringat pitutur kawan saya, seorang dosen, Benni Setiawan, yang aktif menjadi imam di musala dia kampungnya, di Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Dia berkata,”Apa pun alasannya, membangun ruang ibadah di tanah yang masih jadi sengketa itu tidak baik, bisa kuwalat.”