Ekoteologi Profetik

Abdul Gaffar - Istimewa
29 November 2018 10:45 WIB Abdul Gaffar Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (26/11/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyan Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Musibah datang tidak diundang. Ketika alam mulai tidak bersahabat barulah kita sadar bahwa alam sudah tidak lagi bersinergi dengan kehidupan manusia.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat selama 2018, hingga akhir November ini, terjadi 1.999 bencana di Indonesia.

Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Akhir 2018 dan awal 2019 diperkirakan musim hujan. Pada saat ini yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung yang mengancam hingga musim penghujan berakhir.

Di antara beberapa daerah langganan banjir adalah Bima, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang tidak luput dari langganan banjir dan tanah longsor.

Pencegahan bencana alam tidak bisa dilakukan secara parsial, namun harus melibatkan beragam pendekatan yang tepat guna dan tepat sasaran. Persoalan yang sering kali menjadi penyebab bencana alam adalah penghuni planet ini masih belum sadar bahwa kerusakan alam akibat ulah diri sendiri, lebih tepatnya krisis spritual ekoteologi.

Emil Salim berpendapat sedikitnya 10 jenis kerusakan bumi akibat bergesernya gaya hidup manusia dari needs ke wants, yakni dari hidup berdasarkan kebutuhan menjadi hidup berdasarkan keinginan.

Timpang

Kondisi demikian ini menyebabkan ada pihak yang hidup berlebihan, namun tidak sedikit pula yang hidup di bawah garis kemiskinan. Faktor motif (keinginan) manusia sangat berpengaruh terhadap kerusakan alam semesta, seperti motif ekonomi dan politik.

Salah satu kerusakan alam akibat ulah manusia adalah kenaikan suhu bumi yang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Kenaikan suhu bumi sangat memengaruhi iklim global yang kondisinya semakin tidak menentu.

Musim hujan melebihi batas waktu dan musim kering jauh lebih kering daripada biasanya. Salah satu upaya mencegah dan mengendalikan penyebab bencana alam adalah menggalakkan etika profetik ekoteologis.

Menciptakan lingkungan hidup dalam kehidupan yang seimbang sangat tergantung dari kegiatan manusia. Diakui atau tidak, manusia belum jera berbuat kezaliman terhadap alam lingkungan yang membuat manusia kering dari kesadaran spiritual ekoteologi.

Al Gore mengatakan, dakam karyanya Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit, semakin dalam menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia maka semakin mantap berkeyakinan bahwa krisis ini tidak lain merupakan manifestasi nyata dari krisis spritual kita sendiri.

Pendidikan di sekolahan memiliki posisi strategis untuk mengembangkan sikap yang benar menghadapi masalah lingkungan hidup dengan orentasi agar siswa memiliki  kecerdasan spiritual ekoteologi yang sangat kuat.

Dengan kesadaran ini diharapkan memberikan keseimbangan pola pikir bahwa lingkungan yang baik, berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikan Tuhan kepada manusia, tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak ada campur tangan manusia.

Para peserta didik bagaikan tatanan moral, yakni seperangkat tuntunan normatif lebih ideal daripada kenyataan material yang terdapat dalam kesadaran individu walaupun secara tertentu berada di luar individu.

Tuntunan normatif tersebut berbentuk sentimen-sentimen kolektif atau nilai-nilai sosial yang pada hakikatnya menjadi dasar bagi kohesi dan integrasi sosial. Hal ini yang dimaksud Emile Durkheim sebagai transendensi hubungan material yang terjadi secara riil dalam kehidupan masyarakat.

Tiga Pilar Utama

Ada dua hal yang menjadi dasar terbentuknya perilaku siswa terhadap lingkungan. Pertama,  subjective norms atau norma-norma subjektif yang didapatkan individu dari nilai-nilai agama, pemikiran-pemikiran, dan ide-ide dari lingkungan sekitarnya.

Kedua, attitude toward environment atau sikap individu terhadap lingkungan yang dibangun dari pengalaman-pengalaman langsung dalam menghadapi lingkungan yang terakumulasi selama perjalanan hidup individu berinteraksi dengan lingkungan (Ajzen dan Fishben, 1980).

Subjactive norms dihubungkan dengan posisi hubungan Tuhan, alam, dan manusia yang menggambarkan worldview ekoteologi yang menjadikan teologi sebagai jantung kehidupan yang menyadarkan manusia bahwa  alam berasal dari Tuhan (Mohammad Ali, 2007).

Kontowijoyo (2006) membagi tiga pilar utama dalam nalar etika profetik,  yaitu amar makruf (humanisasi) yang mengandung pengertian memanusiakan manusia, nahi mungkar (liberasi) yang mengandung pengertian pembebasan, dan tu’minuna bilah (transendensi) sebagai dimensi keimanan manusia.

Dalam realisasi makna prinsip ekoteologi profetik, kehidupan manusia dengan berbuat apa pun di alam semesta harus sesuai dengan kehendak Tuhan yang memberi ruang bagi berbagai keragaman (mutiplicity) dalam bingkai kesatuan (unity).

Siswa wajib dibekali kecerdasan ekoteologi profetik sehingga akan terus menjadikan agama sebagai semangat moral dalam  menjaga lingkungan dan menjadikan nilai-nilai agama tidak bersifat subjektif melainkan menjadi suatu gejala objektif yang diarahkan pada transendensi melalui pendekatan humanisasi dan liberasi.

Sebeneranya pendidikan sebagai media kesadaran pelestarian lingkungan tidak dapat ditawar lagi oleh siapa pun, baik pemerintah, guru, siswa dan orang tua siswa. Menjaga lingkungan  sebaik mungkin mau tidak mau harus dilakukan oleh manusia-manusia terdidik.

Sekolahan sebagai miniatur masyarakat yang sampai saat ini masih dianggap mampu menamankan keyakinan kepada siswa agar mau peduli terhadap fenomena alam yang semakin rapuh.