Demo Tolak Reuni 212, Tuding Kepanjangan dari HTI

Aksi menolak Reuni 212. (Suara.com)
29 November 2018 19:38 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Puluhan orang yang tergabung dalam Gerakan Jaga Indonesia melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2018). Mereka melakukan aksi unjuk rasa menolak Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat.

Massa penolak aksi 212 itu menduga Reuni 212 pada 2 Desember 2018 mendatang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi tersebut sudah dilarang di Indonesia karena dinilai anti-Pancasila.

Koordinator Lapangan aksi Gerakan Jaga Indonesia Budi Djarot menuding aksi Reuni 212 merupakan bentuk perpanjangan dari HTI. Ia menduga, aksi 212 memiliki tujuan buruk untuk menggulingkan Pancasila dan menggantinya dengan sistem kekhilafan.

"Ini aksi kepanjangan dari HTI. Mereka bukan organisasi agama tapi partai yang membawa agenda politik, yaitu paham khilafah yang bertentangan dengan Pancasila," kata Budi saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2018).

Budi menjelaskan, Reuni 212 tidak seharusnya diberikan izin. Ia pun menyayangkan sikap Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang justru mengizinkan Reuni 212 di Monas. "Mereka akan berdakwah tentang khilafah dan gubernur malah memberikan izin. Ini tidak ada urgensinya," keluh Budi.

Saat beraksi, puluhan orang yang tergabung dalam Gerakan Jaga Indonesia itu menduduki pagar depan Kantor Balai Kota. Mereka menuntut agar Anies mau keluar menemui mereka dan membatalkan izin lokasi.

Para pedemo ini mendesak agar Anies Baswedan membatalkan izin lokasi Monumen Nasional untuk digunakan dalam acara Reuni Akbar 212 yang akan digelar pada Minggu (2/12/2018) mendatang. Selain itu, mereka mengkritik Reuni 212 yang akan diwarnai jutaan bendera bertuliskan kalimat tauhid. Mereka menolak bendera tauhid dikibarkan di Indonesia.

"Bendara kita merah putih, bukan hitam! Enggak ada bendera tauhid, tauhid itu adanya di dalam hati, bukan di bendera!" teriak massa aksi.

Sejumlah polisi masih tetap berjaga di depan Gedung Balai Kota. Para massa aksi yang duduk di atas pagar masih terus berusaha merangsek masuk menuju lingkungan Balai Kota agar bisa bertemu dengan Anies.

Sebelumnya, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif mengatakan panitia reuni 212 sedang mempertimbangkan untuk mengundang calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Dia menuturkan pihaknya sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kelancaran aksi 212 pada 2 Desember 2018 di kawasan Monumen Nasional, Jakarta. Slamet mengatakan rencananya akan ada ceramah dari Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang diperdengarkan kepada massa.

Selanjutnya, tausyiah akan disampaikan oleh Arifin Ilham dan ada penampilan Nissa Sabyan. "Sedang dipersiapkan untuk 212, Insya Allah tidak jauh beda dengan 212 di tahun 2016. Dari berbagai provinsi sudah siap, sudah ada yang sewa beberapa gerbong kereta, sudah ada beberapa beli tiket pesawat. Insya Allah kita silahturahmi lagi, kita tausiyah, zikir sekaligus memperingati Maulid Nabi di hari Ahad 2 Desember nanti," tuturnya.

Sumber : Suara.com, Antara