Kebutuhan Listrik Soloraya Tertinggi Se-Jateng

Ilustrasi jaringan listrik. (Stuff.co.nz)
29 November 2018 01:00 WIB Bayu Jatmiko Adi Nasional Share :
Solopos.com, SOLO -- Dunia industri di wilayah Soloraya masih memungkinkan berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di sektor industri, PLN pun terus melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah guna memetakan arah pengembangan jaringan. 
Berdasarkan data dari PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Surakarta, jumlah pelanggan tegangan menengah (TM) pada tahun 2018 mencapai 554 pelanggan. Jumlah tersebut mencakup Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Surakarta Kota, Manahan, Grogol, Sukoharjo, Kartasura, Karanganyar, Palur, Sragen, Sumberlawang, Wonogiri dan Jatisrono.
Dari jumlah tersebut ada pelanggan baru yang mencapai 29 pelanggan. Untuk pelanggan baru di wilayah Solo ada delapan pelanggan, Sukoharjo ada empat pelanggan, Karanganyar ada 15 pelanggan dan Sragen ada dua pelanggan. 
Manajer UP3 Surakarta, Mundhakir, mengatakan beban puncak untuk Soloraya saat ini rata-rata sudah mencapai 680 mega volt. Dia mengatakan wilayah Soloraya merupakan wilayah yang memiliki kebutuhan listrik terbesar di area Jawa Tengah dan DIY. Dari kebutuhan listrik tersebut, 52% di antaranya merupakan kebutuhan untuk industri. 
Di sisi lain saat ini PLN juga tengah aktif untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengetahui kebutuhan listrik ke depan. "Tujuannya, kami ingin mendapatkan informasi terkait pelanggan beaar atau investor yang mau masuk di suatu daerah. Kami juga mulai mendata daerah-daerah industri di wilayah Solo dan sekitarnya," kata dia saat ditemui di kantornya, Senin (26/11/2018). 
Menurut Mundhakir, melalui pendataan tersebut diharapkan bisa menjadi acuan untuk pemetaan wilayah dalam rangka memperkuat jaringan listrik di semua daerah. "Kami juga rutin mendatangi pelanggan besar untuk menanyakan rencana pengembangan mereka. Hal itu untuk memastikan saat mereka butuh listrik, kami sudah siap," terangnya. 
Mundhakir mengatakan tahun ini pihaknya juga sedang menyiapkan 15 jaringan besar yang baru. "Ada beberapa di antaranya sudah selesai seperti di wilayah Jajar, Solo Baru, Nguter dan Sragen. Beberapa daerah itu yang akan kami kembangkan, yang menurut perhitungan kami memang saat ini pertumbuhannya cukup besar," kata dia.
Menurut asumsinya tahun ini akan ada pertumbuhan sekitar 6%. Dia berharap dengan kebutuhan listrik yang mencukupi akan bisa mendorong tumbuhnya investasi. 
Sementara itu Wakil Ketua Kadin Solo, Wahyu Haryanto yang juga Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, mengatakan listrik menjadi kebutuhan yang vital untuk sektor industri.
"Kemarin sempat ada infornasi pasokan listrik di Jawa Tengah surplus. Tentu ini membuka peluang untuk perusahaan meningkatkan dayanya. Selain itu juga untuk menjadi daya tarik investasi di Solo dan sekitarnya," kata dia saat ditemui di acara Rapimnas Kadin di Solo, Selasa (27/11). 
Menurut Wahyu, kepastian pasokan listrik di wilayah Jawa Tengah khususnya Soloraya itu penting. Sebab dengan begitu, pengusaha tidak perlu takut kesulitan memenuhi kebutuhan listriknya. "Saya kira, pemerintah melalui PLN mestinya memang harus memenuhi kebutuhan listrik tersebut [untuk perusahaan].  
Terkait dengan potensi Soloraya sebagai pengembangan sektor industri, Wahyu mengatakan sesuai blueprint Apindo Pusat, ke depan investasi di Jawa Tengah khususnya Soloraya akan menjadi daya tarik tersendiri. Dengan masih adanya lahan serta tenaga kerja, akan menjadi daya tarik untuk pengembangan usaha terutama di sektor industri.
"Dari Apindo sudah ada beberapa informasi tentang akan adanya pembukaan. Kemudian ada juga PMA di Boyolali. Kalau Sukoharjo dan Karanganyar kemungkinan untuk pengembangan perusahaan," kata dia. Wahyu menilai dengan adanya beberapa daerah yang telah mencanangkan ramah investasi tentu harus mendapat dukungan dari semua stakeholder.