Tembak dan Tahan 3 Kapal Ukraina, Rusia Dikutuk NATO & Negara-Negara Barat

Kapal Ukraina yang ditahan Rusia terlihat di Pelabuhan Kerch, Krimea, Senin (26/11 - 2018). (Reuters/Pavel Rebrov)
28 November 2018 00:00 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, KIEV — Rusia menembaki dan menahan tiga kapal milik Angkatan Laut Ukraina beserta 24 awak kapalnya di Laut Hitam, Minggu (25/11/2018). Badan Keamanan Rusia menuding tiga kapal Angkatan Laut Ukraina yang melintasi Laut Azov, dekat Kriema telah memasuki wilayah kekuasaan Rusia tanpa izin.

Atas kejadian itu, negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara mengutuk tindakan Rusia. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan dia tidak suka dengan apa yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Ia mengaku sedang berembuk dengan para pemimpin negara di Eropa mengenai krisis Rusia-Ukraina.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyebut penahanan Rusia atas kapal Ukraina sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional. Ia juga menyerukan agar kedua negara tersebut menahan diri untuk tak memicu konflik yang lebih besar.

"Amerika Serikat mengutuk tindakan agresif Rusia ini. Kami menyerukan kepada Rusia untuk mengembalikan kapa Ukraina beserta awaknya yang ditahan serta [mengimbau Rusia] untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters, Selasa (27/11/2018).

Sementara itu, parlemen Ukraina setuju untuk memberlakukan status darurat militer setelah Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, berhasil meyakinkan beberapa anggota parlemen. Sebelumnya, beberapa anggota parlemen khawatir status darurat militer akan akan mengekang kebebasan sipil dan menunda pemilihan umum yang dijadwalkan untuk tahun depan.

Presiden Ukraina itu menyatakan Rusia telah melancarkan agresi militer dengan menyergap kapal milik Angkatan Laut Ukraina. "Rusia telah mengobarkan perang melawan negara kami untuk tahun kelima. Namun dengan serangan terhadap kapal militer Ukraina, mereka bergerak ke tahap agresi baru," kata Poroshenko.

Dalam perbincangan melalui sambungan telepon dengan Poroshenko, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menawarkan dukungan penuh untuk integritas teritorial dan kedaulatan teritorial Ukraina. Ukraina memang bukan anggota NATO, namun negara tersebut memang sangat ingin bergabung.

Utusan AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan tindakan Rusia adalah pelanggaran yang sudah keterlaluan terhadap wilayah Ukraina yang berdaulat. Ia juga berharap akan ada sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia.

Bukan hanya NATO, namun kutukan terhadap Rusia itu juga diutarakan Uni Eropa, Inggris, Prancis, Polandia, Denmark, dan Kanada. Kanselir Jerman, Angela Merkel, menekankan perlunya dialog terkait krisis Rusia-Ukraina.

Reuters menyebut penembakan dan penahanan tiga kapal Angkatan Laut Ukraina itu akan lebih rawan memicu konflikl yang lebih besar dibanding konflik-konflik sebelumnya yang melibatkan Rusia dan Ukraina. Bukan tanpa sebab, Ukraina diduga sudah menyiapkan pasukannya secara matang dalam melawan Rusia dibanding pada konflik sebelumnya.

Kolom 6 hours ago

Jelalatan