Tradisi Ini Kata Mendikbud yang Bikin Anak Selalu Minder

Mendikbud Muhadjir Effendy (Dokumen - Antara)
28 November 2018 15:26 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan ada banyak tradisi yang menyebabkan anak Indonesia selalu tak percaya diri alias minder. Salah satunya anak tidak boleh nimbrung saat orang tua menerima tamu.

Muhadjir mengatakan pembentukan karakter anak agar percaya diri dimulai dari pendidikan keluarga. “Kita punya problem sebetulnya di Indonesia ini. Pembentukan karakter percaya dirinya yang kurang, jadi banyak tradisi yang kita warisi itu membuat kita kurang percaya diri," ungkap Mendikbud saat memberikan arahan kepada kontingen Indonesia untuk World Skills Asia 2018 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (23/11/2018), seperti dilansir laman kemdikbud.go.id, Senin (27/11/2018).

Menurut Mendikbud, banyak tradisi budaya dalam keluarga yang justru berperan menumbuhkan rasa tidak percaya diri dalam diri anak. Bahkan dia mengaku hal tersebut pernah dialaminya saat kecil.

“Misalnya ada tamu saya ikut nimbrung. Ketika tamunya pulang saya dicubit ibu saya karena tidak sopan. Kemudian makan juga gitu. Kalau diajak pergi makanan saya habis, itu enggak boleh. Kata ibu saya itu tidak menunjukkan bentuk keperwiraan. Jadi harus disisakan sedikit. Hal-hal seperti ini sangat terkontrol yang menurut saja kadang-kadang membuat kita menjadi kurang percaya diri," tutur dia.

Mendikbud selalu menekankan ada 5C yang harus dibangun untuk membentuk karakter anak bangsa, yakni critical thinking, creativity and innovation, communication skill, collaboration, dan confidence.

"Confidence ini tidak kalah penting dari 4C yang ada," jelas dia. Confidence inilah yang kemudian menumbuhkan self efficacy atau afikasi. Self efficacy mendorong seseorang bekerja keras, dari orang yang belum mampu merasa dirinya mampu. Rasa mampu ini penting, itu namanya self efficacy,” kata Mendikbud.

Banyak orang yang mampu, tapi tidak percaya diri bahwa ia mampu. “Lebih baik percaya diri mampu walaupun sebenarnya tidak mampu, daripada sebetulnya mampu, tapi kita tidak percaya kalau kita mampu,” kata dia.

Menurut sejumlah riset, self efficacy pada siswa kurang. Jadi sebetulnya mereka mampu, tapi tidak merasa bisa. Karena tidak merasa bisa, tersugesti tidak ada keberanian untuk melakukan. "Jadi antara kemampuan dan perasaan mampu itu harus sinkron," kata Mendikbud.