Menabung Oksigen untuk Generasi Penerus

Kiswanto - Istimewa
27 November 2018 18:46 WIB Kiswanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (21/11/2018). Esai ini karya Kiswanto, dosen di Universitas Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang. Alamat e-mail penulis adalah kiswantoanto5@gmail.com.

Solopos.com SOLO -- Hari Pohon Sedunia diperingati setiap 21 November. Momentum ini mengingatkan kesadaran seluruh negara akan pentingnya faktor lingkungan demi keberlangsungaan kehidupan di muka bumi. Perhatian yang lebih terhadap lingkungan, khususnya pohon, menjadi krusial terkait keberadaan  pohon yang semakin hari semakin menipis akibat ulah manusia.

Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia karena hutan hijau yang membentang luas. Ini slogan yang tak akan pernah dilupakan bangsa lain tentang Indonesia. Apakah slogan ini masih relevan dilekatkan pada Indonesia melihat kondisi terkini? Kalimantan yang disebut sebagai paru-paru dunia mulai berkurang  luas hutannya.

Berdasarkan data World Wide Fund for Nature (WWF), pada 2010  luas hutan di Borneo tinggal 44,4% saja. Kondisi ini menjelaskan Indonesia sebagai negara hijau telah melakukan eksplorasi besar-besaran terhadap hutan yang akhirnya menimbulkan berbagai masalah. Hal ini diperparah dengan pembalakan liar yang dilakukan orang-orang untuk kepentingan sendiri.

Sejak 1970 penggundulan hutan mulai marak di Indonesia. Pada 1997-2000, laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektare/tahun. Pada 2005, konsumsi kertas khusus di Indonesia sebanyak 5,6 juta ton. Dibutuhkan 22,4 juta meter kubik kayu untuk memproduksinya. Menurut World Resource Institute, untuk negara berkembang kenaikan konsumsi kertas rata-rata sekitar 7% per tahun, maka diperoleh jumlah konsumsi kertas Indonesia pada 2006 adalah 5,96 juta ton. Jumlahnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2015, sebanyak 72% hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektare menjadi 98 juta hektare. Hingga 30 September 2015, ada data yang menyebutkan kebakaran hutan telah  menghanguskan 1,5 juta hektare lahan di Sumatra dan tiga juta hektare hutan di Kalimantan.

Hal ini merupakan faktor utama terkikisnya  hutan di Indonesia. Hutan lindung, hutan hujan tropis, dan hutan-hutan yang lain disulap menjadi deretan gedung-gedung megah dan pabrik-pabrik industri yang menghasilkan jutaan ton limbah dan polusi udara. Meningkatnya suhu tanpa  filter udara yang disediakan pohon membuat bumi menjadi hitam, pengap, dan sesak.

Cadangan

Generesai penerus, seperti anak cucu kita, akan merasakan betapa panasnya bumi tanpa cadangan oksigen yang cukup. Bagaimana reaksi generasi kita ketika melihat bumi menjadi gersang, air menjadi mahal, dan udara diperjualbelikan dalam tabung-tabung oksigen? Apakah kita membiarkan generasi yang tidak berdosa menanggung akibatnya?

Pemerintah harus segera melakukan konservasi dan reklamasi  pohon sedini mungkin. Hal ini untuk menabung oksigen sebanyak mungkin bagi masa depan bumi dan generasi penerus. Program penanaman sejuta pohon harus terus dilakukan. Walaupun globalisasi kian gencar, masalah lingkungan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Program konkret yang dapat dilakukan adalah menggerakkan orang menanam  dua batang pohon untuk tiap seorang anak/generasi penerus. Bentuknya bisa donasi uang untuk membeli dua batang pohon dan ditanam di rumah sendiri atau di daerah rawan kekeringan dan banjir (level dusun) atau langsung menanamnya sebagai gerakan community to community.

Menurut pakarlingkungan hidup, untuk menumbuhkan setengah kilogram kayu, pohon muda menghirup 665 gram CO2 (karbon dioksida) dan mengeluarkan 485 gram oksigen. Satu orang membutuhkan 165,3 kilogram oksigen setahun. Jadi, pohon tersebut perlu menumbuhkan setengah kilogram kayu setiap hari untuk memenuhi kebutuhan manusia bernapas.

Orang-orang di negara maju memiliki kesadaran terhadap lingkungan yang sangat tinggi dibanding orang-orang di negara berkembang. Di beberapa negara maju sudah diterapkan program maintenance lingkungan hidup sebagai penyangga ekologi di tiap-tiap kota setiap tahun. Inggris mengampanyekan gerakan menanam pohon beech sebagai pemasok oksigen di daerah perkotaan.

Pohon beech yang berumur lima tahun dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk 10 orang. Pohon beech juga membantu membersihkan udara yang kita hirup. Satu hektare lahan pertanaman pohon beech bisa menyerap sampai lima ton debu setiap tahun. Daun-daunnya yang lebar dan lebat dapat menangkap partikel debu di udara dan akan jatuh ke tanah ketika hujan.

Sebatang pohon dewasa sehat dapat memproduksi 130 kilogram oksigen per tahun. Dengan demikian, dua batang pohon dapat mencukupi kebutuhan oksigen satu orang per tahun. Apabila kita mengendarai mobil sejauh 20.000 kilometer per tahun, berarti kita membutuhkan 500 batang pohon yang cukup besar untuk menyerap karbon dioksida yang keluar dari knalpot mobil tersebut.

Kesimpulan yang bisa didapat, punya seorang anak berarti harus menanam dua batang pohon. Kalau punya satu unit mobil harus menanam 500 batang pohon. Polusi udara yang terjadi saat ini jika tidak diatasi dengan daya dukung lingkungan yang baik akan membuat bumi menjadi sakit. Apabila tidak ada tindakan segera untuk menanggulangi, tinggal tunggu saja kehancuran bumi ini.

Penghijauan masih menjadi hal yang perlu diperhatikan secara serius. Di wilayah Jakarta  Pusat, sekitar  21,84% luas wilayah yang mencapai 48,19 km persegi masih tergolong lahan kritis. Idealnya, 30% dari luas wilayah berupa lahan terbuka hijau. Kenyataanya yang berhasil dihijaukan baru 8,16%. Penghijauan ini pernah dilakukan melalui program penanaman sejuta pohon namun kepentingan bisnis dan politik menghambat program tersebut.

Realitas “pemanasan bumi” merupakan hasil eksploitasi manusia atas lingkungannya. Efek pemanasan suhu ini adalah meningkatnya suhu bumi. Bumi makin panas. Diperkirakan dalam kurun waktu seperempat abad ke depan, suhu bumi naik satu hingga empat derajat Celsius. Konon, satu abad mendatang naik enam derajat Celsius.

Green Generation

Pembukaan lahan hutan secara besar-besaran melalui penebangan liar dan pembakaran hutan menimbulkan erosi tanah, polusi udara, kenaikan suhu udara, dan sebagainya. Semakin tipisnya hutan sebagai paru-paru bumi berakibat  naiknya suhu bumi dan perubahan cuaca.

Kenaikan suhu bumi tidak hanya dialami satu pulau, tapi akan merembet ke pulau-pulau lain, bahkan ke mancanegara. Mexico City mengalami  polusi udara terburuk setiap hari dibanding kota mana pun di dunia akibat kurangnya pemanfaatan lahan hijau.

Green generation  punya peran penting  menyangga kehidupan di muka bumi ini. Green generation adalah generasi muda yang menyadari bahwa menjaga lingkungan, terutama pohon, menjadi faktor penting keberlangsungan kehidupan. Generasi ini melakukan upaya-upaya pelestarian lingkungan demi masa depan.

Mereka inilah yang bisa dijadikan figur panutan. Aksi kecil tapi nyata  untuk melestarikan lingkungan merupakan hal yang seharusnya dibiasakan oleh kaum muda sekarang, seperti tidak menebang dan membakar hutan atau turut serta dalam  penanaman kembali pohon di daerah kritis dan gundul.

Generasi pemuda peduli lingkungan merupakan tonggak perubahan zaman. Negara dengan pemuda yang kuat dan tangguh serta berbudi pekerti yang luhur akan mampu melaju melesat menuju  dinamika peradaban yang maju dan beradab.

Refleksi Hari  Pohon Sedunia yang jatuh pada 21 November adalah perlugerakan menabung oksigen untuk generasi penerus. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan lingkungan pada anak usia dini. Kerja sama pemerintah dengan pihak-pihak terkait dan masyarakat dalam gerakan penghijauan perlu digalakkan lagi. Bumi yang hijau akan menciptakan kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan yang semakin baik.