Matematika

Setyaningsih - Istimewa
27 November 2018 10:15 WIB Setyaningsih Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/11/2018). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penulis cerita Hantu Sampah (Konferensi Musim Sejagat, 2018). Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Setelah prestasi membaca yang buruk, Indonesia harus menanggung aib juga soal kejeblokkan berilmu matematika. Harian Solopos, 15 November 2016, mengabarkan suaka yang akan diberikan salah satu negara di Eropa, Denmark, sebagai negara paling berilmu matematika dan sains.

Di Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018, banyak siswa memprotes betapa sulit soal matematika yang menggunakan satandar higher order thinking skill (HOTS), berstandar dunia. Kerja sama keilmuan dengan Denmark harus memastikan 51 juta pelajar dan tiga juta guru di Indonesia segera lepas dari persepsi bahwa selama ini matematika memang “momok” mutlak yang tidak cukup dibereskan dengan doa serta bimbingan belajar.

Kita sebenarnya sudah cukup lama dibawa pada kontroversi matematika sering diajarkan jauh dari konteks sehari-hari. Hal ini membuat matematika jadi ilmu mahatinggi yang terjangkau hanya oleh orang-orang terpilih. Masih di Harian Solopos, Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada, Widodo, mengajukan tiga hal yang cenderung membuat matematika ditakuti; buku, guru, dan personal siswa.

Buku matematika sering langsung mengajukan rumus, bukan narasi atau gambar berkondisi lingkungan sekitar. Mengingat pada biografi setiap kita, guru matematika menempati dua penentuan: diingat karena pengajaran menyenangkan berangka atau mending dilupakan saja selama-lamanya karena begitu menyeramkan, bahkan sejak terdengar langkah sepatunya.

Konteks sehari-hari matematika pernah jadi perbincangan kocak kakak beradik di buku Si Samin (2007) garapan Mohammad Kasim yang terbit kali pertama pada 1924. Diceritakan saat Samin menjadi murid, adik Samin bernama Ramlah begitu penasaran dengan peristiwa bercakap dan berhitung yang dilakukan abangnya di sekolah.

Samin bercerita, “Satu lidi ditambah satu lidi jadi dua lidi. Dua pisang ditambah satu pisang jadi tiga pisang. Satu lupis ditambah dua lupis jadi tiga lupis.” Ramlah pun menanggapi, “Jadi abang makan pisang dan lupis di sekolah? Mengapa tidak abang bawakan aku?”

Dalam pikir kanak Ramlah, bukan angka atau ilmu hitung yang penting, tapi pisang dan kue lupis yang menjangkar pada imajinasi bermatematika. Dengan cara ini, bisa saja Samin akan cepat mengamalkan saat harus membantu orang tua dengan hal-hal sederhana seperti menghitung panenan durian atau memastikan uang kembalian.

Namun, cara-cara ini biasanya hanya berlaku pada masa-masa dasar belajar berhitung. Kita tentu akan kesulitan bertemu guru yang mengajarkan matriks, logaritma, atau trigonometri berawal dari hal-hal manusiawi keseharian sebelum rumus-rumus.

Penalaran

Anak imajiner dari Swedia ciptaan Astrid Lindgren bernama Pippi (Pippi Si Kaus Kaki Panjang, 2014) memiliki cara menegasi yang revolusioner untuk mengaitkan matematika dengan kondisi biografis anak. Di sini, nalar membolak-balikkan konteks sangat kentara membuktikan matematika semacam sia-sia saja diajarkan. Setiap kali guru menguji Pippi dengan soal matematika bercerita, jawaban yang muncul bukan angka. Pippi selalu “membantah” angka dengan logika bersebab-berakibat.

Seperti saat guru mengajukan pertanyaan, “Gustav pergi piknik bersama teman-teman sekelasnya. Sewaktu berangkat, dia memiliki 1 krona [100 ore] dan saat pulang dia memiliki 7 ore. Berapa banyak uang yang ia habiskan?”

Pippi menjawab, “Aku juga ingin tahu kenapa dia boros sekali, dan apakah dia membeli limun dengan uangnya dan apakah dia membersihkan telinganya sampai bersih sebelum pergi?” Guru menginginkan hasil, Pippi lebih ingin mempermasalahkan kelogisan angka (uang) dalam transasksi ekonomi. Atau secara naif, Pippi semacam menggunakan pertimbangan moral bagaimana seorang anak bisa menghabiskan banyak uang untuk jajan.

Kita barangkali tidak pernah diajari berlogika bahasa dalam matematika dengan sedemikian radikal karena matematika seolah terpisah jauh dari hal-hal bersifat sosial. Namun, kita bisa mengingat kolaborasi penulis dan ilustrator Korea dalam buku Seri Genius Matematika diterbitkan Gramedia.

Serial buku cerita matematika bergambar ini digarap ala buku bacaan, bukan buku pelajaran. Anak-anak diajak belajar tentang penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian, faktor, volume dalam bingkai cerita kerajaan, detektif, seni rupa, keramaian pasar.

Patokan Kapasitas

Salah satu seri tentang kapasitas berjudul Negeri Filly Cekcok (Hye-Kyung Choi dan Hyun-Ji Lee, 2011), bercerita tentang percekcokan penduduk Filly karena ukuran wadah untuk urusan jual beli hasil panen dan minyak berbeda. Penduduk meminta raja membuat wadah ajaib yang dijadikan patokan kapasitas.

Dalam ilustrasi, Negeri Filly menyerupai negeri-negeri di Asia Timur yang subur, luas, dan makmur. Buku memuat matematika bercerita dengan gambar warna yang menawan. Anak-anak sekaligus belajar tentang tata pemerintahan, kebijaksanaan raja dan rakyat, kehidupan pasar, dan aneka profesi.

Melihat “ketidakformalan” penyajian, buku semacam ini memang cenderung masuk di keluarga dengan kesadaran literasi tertentu. Bersama angka, anak-anak diajak memasuki kehidupan sosial, membayangkan tata ruang kota, sistem pemerintahan, berlogika bahasa, atau membayangkan kemajuan teknologi transportasi.

Di Indonesia, buku semacam ini mungkin akan susah masuk sekolah atau diadopsi pemerintah sebagai percontohan. Pakem buku matematika sering harus berbentuk diktat akademis atau buku saku kumpulan rumus yang semakin praktis dan laris di pasaran.

Matematika masih akan menjadi ujian berat berilmu, mengingatkan pada keinginan manusia di persimpangan menjadi genius atau bodoh. Para pembelajar matematika memang harus tabah, merekonsiliasi pada diri ilmu tidak selalu berguna dalam wadah sakralnya. Ilmu matematika yang dipuja sekaligus dikutuk di pelbagai peradaban besar, juga bisa sia-sia.