Efek Politik Genderuwo Bagi Elektabilitas Prabowo Versi LSI

Calon Presiden dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (kanan) dan Capres Prabowo Subianto memperlihatkan nomor urut masing-masing, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9 - 2018). (Reuters/Darren Whiteside)
27 November 2018 22:00 WIB Muhammad Ridwan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Selama masa kampanye telah berlangsung dua bulan, narasi-narasi yang membuat takut masyarakat belum terlihat efektif meningkatkan elektoral. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat mengistilahkan fonomena menyebar ketakutan itu dengan politik genderuwo.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, menilai apa yang dilakukan Prabowo-Sandi sebagai penantang petahana berusaha membuat masyarakat menilai pemerintahaan saat ini gagal.

“Sehingga apa yang dia lakukan adalah dalam terminologi di mana menciptakan pandangan bahwa apa yang dikerjakan Pak Jokowi gagal. Sehingga memang politic of fear itu yang dimunculkan, masyarakat susah, Indonesia terancam bubar, dan lain sebagainya,” ujarnya di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Meski demikian, selama dua bulan masa kampanye, efek yang ditimbulkan dari hal tersebut belum menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap elektoral Prabowo-SandiLebih jauh, dijelaskannya, ada dua hal yang membuat hal tersebut belum memberikan pengaruh yang besar terhadap elektoral pasangan nomor urut 02.

“Pertama adalah sejauh mana isu ini bisa terdengar oleh masyarakat. Jadi ketika misalnya belum masyarakat yang dengar ya otomatis ini kan percuma,” jelasnya.

Selain itu, yang kedua, Prabowo-Sandi harus mengetahui seberapa banyak masyarakat yang suka diberikan narasi-narasi yang menakutkan tersebut. Berdasar survei LSI, masyarakat tidak menyukai narasi-narasi kampanye yang tergolong terhadap kampanye negatif.

Menurutnya masyarakat lebih menyukai kampanye yang menawarkan program dan gagasan. “Dan kalau dilihat selama 2 bulan belakangan ini, pola kampanye seperti itu tidak terlalu efektif,” ungkapnya.

Sumber : Bisnis/JIBI