Bertutur Sejuk pada Tahun Panas

Manati I. Zega - Istimewa
26 November 2018 21:07 WIB Manati I. Zega Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/11/2018). Esai ini karya Manati I. Zega, dosen Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Agape Indonesia Misi Internasional di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah manatizega2015@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kata dan kalimat menyejukkan berdampak postif. Kata dan kalimat yang tepat bagaikan apel di pinggan perak. Pasti mahal dan dirindukan. Semoga perkataan kita dan kalimat-kalimat yang terucap meneduhkan rasa yang galau.

Menjelang pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden 2019, semua kandindat dan kekuatan politik berebut simpati masyarakat. Tebar pesona dilakukan dengan beragam cara untuk meraih dukungan Masing-masing kandidat dan tim suskses mengeksploitasi habis kekuatan sang calon.

Tentu saja tidak ada salahnya menonjolkan keunggulan diri jika memang faktanya demikian, namun menjadi sangat berbahaya ketika lawan di seberang sana dijatuhkan dengan hal-hal yang menipu. Kultur Indonesia adalah kultur yang menjunjung kesantunan bertutur dan berkomunikasi. Kesantunan dalam bertindak dan bertutur telah diajarkan oleh pendahulu kita.

Memang harus diakui budaya yang indah itu semakin tergerus oleh zaman, namun dalam masyarakat tradisional hal ini masih mendapat perhatian serius. Oleh sebab itu, para orang tua terus berjuang menuntun anak-anak agar tidak tercabut dari akar budaya yang selama ini dijunjung tinggi.

Bukankah identitas budaya merupakan kekuatan suatu suku dan komunitas tertentu? Manusia adalah makhluk berpikir dan multitafsir. Tatkala seseorang mengungkapkan sesuatu belum tentu maksud dan makna dapat dipahami seperti itu. Bisa saja di tengah jalan terjadi ”noise” sehingga maksud yang disampaikan tidak dapat diterima sebagaimana seharusnya.

Pada tahun politik yang kian panas, bertutur, berkata-kata, mengkritik tanpa data bisa jadi senjata makan tuan. Kita sering mendengar istilah mati hidup dikuasai oleh lidah. Prinsip itu berlaku dalam segala hal dan segala keadaan.

Santun dan Menyejukkan

Perkataan yang disampaikan harus difilter dengan ketat sehingga tidak menimbulkan problem yang merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Pada tahun politik para pengamat dan pakar komunikasi politik senantiasa menganjurkan para kandidat untuk menggunakan cara tutur yang santun dan menyejukkan.

Kata-kata yang menyejukkan dan tidak terus-menerus memojokkan pihak lain sejatinya dinantikan masyarakat. Masyarakat pada era digital bukan masyarakat yang bodoh. Mereka dengan cepat memverifikasi informasi yang betul atau menyesatkan.

Orang tinggal membaca media mainstream, melihat dan mendengar berita televisi atau radio, dengan cepat mengetahui ini benar atau hoaks. Rasanya untuk berbohong pada masa kini bisa dengan cepat diketahui oleh mereka yang melek tekhnologi.

Sekali Anda berbohong hal itu berarti membunuh diri Anda sendiri. Orang kemungkinan besar tidak mau memercayai perkataan yang keluar dari mulut Anda. Orang zaman dulu mengatakan bertutur yang menyejukkan ibarat buah apel yang ditaruh di pinggan perak.

Artinya perkataan itu tinggi nilainya. Perkataan itu merupakan perkataan yang dinanti-nanti. Orang pada zaman dahulu, apalagi pemimpin, tidak sembarangan berbicara. Sangat awas dan menjaga setiap perkataan yang diucapkan.

Mengapa demikian? Karena perkataan pemimpin atau calon pemimpin menjadi rujukan bagi masyarakat yang mengikuti. Bayangkan kalau pemimpin mencla-mencle. Pengikut pun menjadi bingung. Para pemburu berita mungkin berada dalam posisi ragu-ragu untuk mengutip pernyataan. Pemimpin jangan suka mengumbar omongan, apalagi omongan pinggir jalan yang tak berdata.

 Tampang Boyolali

Di banyak media telah beredar secara viral istilah ”tampang Boyolali.” Pada Minggu 4 November 2018 ribuan masyarakat Boyolali turun ke jalan dengan membawa spanduk. Mereka merasa terhina atas pernyataan ”tampang Boyolali”.

Mungkin saja maksud pembicara bukan menghina, namun dalam konteks budaya tertentu istilah itu begitu menyinggung. Dalam hal ini telah terjadi kegagalan mengambil ilustrasi untuk menggambarkan sesuatu kepada audience atau pembicara menganggap tidak jadi masalah, toh mereka orang daerah.

Multitafsir dan multipaham atas semua itu dapat terjadi. Perhatian saya adalah, apa pun alasannya, perkataan demikian dianggap kurang menyejukkan, bahkan memanaskan situasi di tingkat akar rumput.

Orang memberikan alasan apa pun, tetapi fakta menunjukkan pernyataan demikian menimbulkan hawa panas yang membuat ribuan orang turun ke jalan memprotes pernyataan itu. Ini fakta. Ini situasi faktual yang menunjukkan kegagalan berkomunikasi.

Pada tahun politik menyinggung identitas itu sangat berbahaya. Kemampuan masing-masing orang untuk menangkap makna bisa beragam. Tergantung siapa yang paling banyak menangkap: apakah mereka yang bernalar positif atau bernalar negatif.

Politik Identitas

Bagi yang bernalar negatif tidak boleh menyudutkan mereka sebab itulah pesan dan olah rasa yang diterima. Orang yang berada di lokasi kejadian tentu mereka yang sungguh-sungguh merasakan peristiwa itu. Dalam kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, misalnya, tidak sedikit orang menyatakan ia tidak menistakan agama.

Fakta menunjukkan ada orang-orang yang merasa terganggu dan dengan tegas memberi stempel penista agama kepada dia. Terlepas dari unsur politik atau bukan politik, nyatanya kini Basuki Tjahaja Purnama berada di penjara karena kurang awas dalam berkata-kata.

Pada tahun politik ini alangkah bijaksana kalau para kandindat menjaga betul setiap kata, istilah, dan kalimat yang keluar dari mulut. Kiranya hanya kalimat dan kata yang menyejukkan yang keluar, bukan sebaliknya. Kiranya kalimat dan kata yang meneduhkan hati warga menjadi hal yang utama.

Politik identitas ibarat paku yang tertancap. Tatkala hal itu dipaksakan, tetap menyisakan luka yang butuh waktu dan obat yang tepat untuk menyembuhkan. Mungkin saja kegembiraan pesta demokrasi telah berlalu, tetapi bekas paku yang tertancap itu perlu obat untuk sembuh.

Kata dan kalimat menyejukkan menjadi alat komunikasi yang efektif pada tahun politik. Kata-kata yang sejuk, kalimat-kalimat yang mendinginkan, menjadi penting pada tahun panas. Mari berujar yang santun dan berkata yang meneduhkan. Selamat mempraktikkan.