Awal Gerakan Islam Progresif Solo

Mohamad Ali - Dokumen Solopos
26 November 2018 08:01 WIB Mohamad Ali Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (17/11/2018). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Pimpinan PusatMuhammadiyah menetapkan Jawa Tengah sebagai tuan rumah dan Kota Solo sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar ke-48 pada 2020. Sebagai pemanasan menuju muktamar, puncak resepsi milad ke-106 Muhammadiyah secara nasional pada 18 November 2018 dilangsungkan di Solo, bertempat di Pura Mangkunegaran.

Pemilihan Pura Mangkunegaran sangat tepat karena memiliki jejak sejarah sekaligus kontribusi besar dalam proses awal pertumbuhan Muhammadiyah di kota ini. Sedikit menengok ke belakang, Kota Solo telah dua kali menjadi tuan rumah muktamar Muhammadiyah, yaitu kongres ke-18 pada 1929 dan muktamar ke-41 pada 1985.

Dengan demikian, penyelenggaraan muktamar ke-48 mendatang adalah kali ketiga. Muktamar ke-41 pada 1985 awalnya diprediksi berlangsung alot karena akan membicarakan isu politik panas, yaitu asas tunggal. Ternyata prediksi itu meleset, suasana muktamar berjalan sejuk dan muktamirin memutuskan menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

Diteropong dari sudut paralelisme sejarah, situasi menjelang muktamar ke-41 dan ke-48 ada kemiripan, yaitu suhu politik bangsa tengah memanas. Saat ini dan puncaknya pada 2019 adalah tahun politik yang rumit dan kompleks. Muhammadiyah sebagai tenda bangsa harus memainkan politik kebangsaan, bukan politik partisan. Peran demikian tidak mudah. Para kritikus akan buru-buru menilai bahwa sikap politik Muhammadiyah ambivalen.

Untuk memahami proses pergumulan Islam dengan aktualitas kehidupan sosial politik, suatu tinjauan selintas tentang ihwal kelahiran Muhammadiyah Solo beserta liku-liku yang menyertainya dapat menjadi cermin dan pelajaran berharga untuk generasi saat ini. Berikut ini direkonstruksi sejarah gerakan sosial Islam progresif di Solo di perguliran abad ke-20.    

Sejarah pergerakan Islam di Solo pada perguliran abad ke-20 merupakan laboratorim sosial yang amat kaya. Meskipun telah diteliti oleh analis sosial maupun sejarawan, tetap saja ada sisi-sisi yang belum terungkap secara jelas. Untuk menyebut beberapa karya terpenting antara lain George D. Larson (1990), Hermanu Joebagio (2010), dan Darsiti Soeratman (1989) yang mengangkat pergolakan sosial dan kehidupan keraton.

Adapun tema gerakan sosial Islam dikaji oleh Takashi Shiraisi (2005) dan A.P.E. Korver (1985).  Gerakan reformasi Islam yang meluas ke Kota Solo ternyata menampilkan gejala unik dan berbeda dengan daerah lain. Secara umum, ketika gerakan reformasi Islam hadir di suatu daerah, segera muncul gerakan perlawanan dari kaum Islam tradisional.

Aksi melahirkan reaksi sehingga di mana-mana terjadi pertentangan antara kaum reformis (kaum muda) berhadapan dengan kaum tradisionalis (kaum tua). Pola umum itu tidak berlaku di Solo. Perluasan gerakan reformasi Islam justru bertatapan dengan golongan kiri dan kaum mistik Islam kejawen.

Tiga Poros Gerakan

Persyarikatan Muhammadiyah didirikan K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) di Yogyakarta pada 18 November 1912 dengan tujuan pertama memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam dan tujuan kedua memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam. Dari awal kelahiran hingga 1917, ruang gerak Muhammadiyah masih terbatas di Yogyakarta.

Setelah 1917, gerak dakwah Muhammadiyah mulai meluas dan menyebar ke luar Yogyakarta, salah satunya wilayah yang sejak awal bersentuhan dengan reformisme Islam Kiai Ahmad Dahlan adalah Kota Solo. Orang yang pertama memperkenalkan Kiai Dahlan ke depan publik Solo adalah Mohammad Misbach (1876-1924), dikenal dengan sebutan “haji merah”, melalui tablig akbar yang berlangsung pada 1917.

Paparan dan argumentasi Islam berkemajuan (baca: progresif) Kiai Ahmad Dahlan semakin memantapkan para inisiator pengajian dan akhirnya sepakat membentuk perkumpulan SATV (Sidiq Amanah Tabligh Vathanah).  Para inisiator pengajian inilah yang menjadi motor penggerak perkumpulan SATV. Misbach sebagai pemimpin dan diperkuat oleh Harsolumekso, Sontohartono, Parikrangkungan, Muchtar Buchori, Abu Toyib, Martodiharjo, Mangkutaruno, Wiryosanjoyo, Kusen, Darsosasmito, Ahmad Dasuki, dan Partowinoto.

Terbentuknya perkumpulan SATV menambah semarak dan semakin memperkuat gerakan Islam progresif di Solo. Yang dimaksud Islam progresif adalah suatu corak pemahaman dan gerakan Islam yang berhaluan progresif, berkemajuan dalam memperbaiki keadaan umat Islam yang terbelakang, baik melalui pendidikan, ekonomi, ataupun politik.

Sebelum SATV berdiri, setidaknya ada dua poros Islam progresif, yaitu poros Islam Kauman yang digerakkan abdi dalem Pangulon Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (baca: santri priayi) beserta pimpinan Pesantren Jamsaren, dan poros Islam Laweyan yang dipelopori saudagar batik santri. Kelahiran SATV melahirkan poros baru karena pusat kegiatannya di Keprabon yaitu rumah Sontohartono dan Madrasah Ibtidaiah Suniyah, maka bisa disebut poros Islam Keprabon.

Dengan demikian gerakan Islam progresif di Solo pada awal abad ke-20 terdiri atas tiga poros, yaitu poros gerakan Islam Kauman, poros gerakan Islam Laweyan, dan poros gerakan Islam Keprabon. Poros Islam Kauman dipelopori Kiai Bagus Arfah, Kiai Idris, Kiai M. Adnan, Kiai Abu Amar, Kiai Abdil Jalil dan lain-lain yang pada 1905 berhasil meyakinkan Paku Buwono X untuk mendirikan sekolah Islam tinggi yang dinamai madrasah Mamba’ul Ulum, artinya sumber ilmu pengetahuan.

Maksud didirikannya sekolah Islam tinggi ini untuk membentuk kader ulama berkemajuan yang saat itu sangat dibutuhkan untuk mengisi formasi pegawai keagamaan di wilayah Hindia Belanda. Ciri kemodernan Mamba’ul Ulum terletak pada proses pembelajaran yang diselenggarakan secara klasikal dan dilakukan secara berjenjang.

Terdiri atas 11 jenjang yang masing-masing jenjang ditempuh setahun, mulai dari ibtidaiah, tsanawiah, dan aliah. Keunggulannya, lulusan mampu membaca kitab kuning dalam bidang fikih, tafsir, hadis, dan disiplin keislaman lainnya. Sebagaimana disebut di atas, pengajarnya adalah ulama-ulama yang mumpuni di bidangnya, dan masing-masing memiliki perpustakaan pribadi yang lengkap.   

Sarekat Dagang Islam

Di sebelah lain, poros Islam Laweyan dipelopori Haji Samanhudi, M. Asmodimejo, M. Kertotaruno, M. Sumowerdoyo, dan M. Abdul Rajak yang pada 1911 mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai usaha memperkuat ekonomi dan politik kaum pribumi. Tujuan berdirinya SDI untuk memajukan kaum muslimin dan mencapai saling bantu membantu. SDI kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI).

Ketiga poros gerakan Islam di Solo ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Mamba’ul Ulum mampu melahirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh secara nasional, sebut saja Saifuddin Zuhri dan Munawir Sjadzali yang pernah menjadi Menteri Agama. Demikian pula gerakan SI yang mampu menyadarkan kaum bumiputra untuk beremansipasi.

Sementara itu, pertumbuhan poros Islam Keprabon sedikit terganggu karena muncul pergolakan internal. Misbach menginginkan SATV menjadi gerakan politik untuk melawan kolonialis dan kapitalisme melalui pemogokan maupun agitasi. Keinginan Misbach ditolak sebagian besar pimpinan, akhirnya dia mundur dari kursi ketua dan pada 1919 diganti oleh seorang kiai muda progresif, Mukhtar Bukhari (1899-1926).

Perlu ditambahkan, meski mundur dari ketua, Misbach tetap menjadi anggota dan mubalig SATV yang tangguh. Pergolakan internal di atas bisa disebut godaan pertama untuk menarik pendulum SATV sebagai perkumpulan pra-Muhammadiyah ke haluan politik. Percobaan itu berhasil diatasi. Di bawah nakhoda Kiai Muchtar Buchari, SATV tetap memilih jalan nonpolitik dan moderasi Islam.

Setelah terkonsolidasi, pada 25 Januari 1922 Kiai Ahmad Dahlan meresmikan berdirinya Muhammadiyah Afdeling (Cabang) Solo. Surat resmi penetapan berdirinya Muhammadiyah Cabang Solo baru terbit pada 1 Juli 1928 yang ditandatangani Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah saat itu K.H. Ibrahim (1875-1934).

Hizbul Wathan

Demikian rekonstruksi sejarah tentang gerakan Islam progresif di Solo. Meskipun Kiai Ahmad Dahlan berupaya keras menembus poros Islam Kauman melalui jalinan komunikasi dengan Kiai Bagus Arfah, pamannya, dan Kiai M. Adnan, namun tidak ada satu pun abdi dalem Pangulon Keraton Solo yang tertarik bergabung dengan Muhammadiyah.

Jejak-jejak kedekatan Muhammadiyah awal justru terjalin erat dengan Pura Mangkunegaran. Jejak pertama, inspirasi kelahiran Hizbul Wathan (pandu Muhammadiyah) berawal dari pengamatan Kiai Ahmad Dahlan terhadap aktivitas kepanduan di Lapangan Pamedan Mangkunegaran. Kegiatan kepanduan di sana digambarkannya sebagai suatu pembelajaran di tanah lapang yang mengajarkan kedisiplinan dengan penuh kegembiraan. Hal ini senapas dengan tujuan Muhammadiyah.

Jejak kedua dapat dilihat dari dua sekolah Muhammadiyah yang sampai saat ini berdiri megah, yaitu SD Muhammadiyah 1 Ketelan dan SMA Muhammadiyah 1 Solo, Tanahnya merupakan hibah atau wakaf dari Pura Mangkunegaran. Sejak 1920 tanah itu ditempati sekolah Muhammadiyah, tapi tidak seluas sekarang.

Perluasan tanah sebagaimana saat ini baru terjadi pada 1941 yang diawali surat permohonan dari Muhammadiyah Solo pada Juli 1941 dan nota persetujuan dari Mangkunegaran tertanggal 26 Agustus 1941. Data sejarah ini menunjukkan sejak awal Pura Mangkunegaran memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas Muhammadiyah.

Oleh karena itu, resepsi milad ke-106 Muhammadiyah di Pura Mangkunegaran sangat bersejarah dan harus menjadi momentum untuk merenungkan kembali identitas persyarikatan Muhammadiyah sebagai benteng Islam progresif-berkemajuan.