Dolar AS Melemah, Rupiah Melejit Hingga 69 Poin

Uang rupiah (Bisnis/Abdullah Azzam)
26 November 2018 20:30 WIB Mutiara Nabila Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Rupiah melejit pada perdagangan Senin (26/11/2018) mendekati target pemerintah ke kisaran Rp14.400-an per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan disebabkan pelemahan dolar AS akibat komentar dovish dari Federal Reserve AS terkait dengan kenaikan suku bunga.

Pada penutupan perdagangan Senin (26/11/2018) rupiah mengalami penguatan 69 poin atau 0,47% menjadi Rp14.475 per dolar AS. Secara year-to-date (ytd), rupiah mengalami melemah hingga 6,35% terhadap dolar AS.

Adapun, indeks dolar AS, yang menjadi tolok ukur pergerakan dolar AS di hadapan mata uang utama lainnya, mengalami pelemahan 0,16% menjadi 96,75 poin. Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, selain komentar dovish dari The Fed pada FOMC, pelemahan dolar AS itu ditambah perkembangan Brexit yang positif.

“Faktor utama yang mendorong rupiah saat ini adalah Konferensi Tingkat Tinggi [KTT] Brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang cukup bagus dan Uni Eropa memberikan suatu kepastian kesepakatan yang cukup bagus ke Inggris, sehingga ini sedikit memberikan gairah bagi perdana Menteri Theresa May untuk membawa hasil KTT tersebut ke parlemen pada 13-14 Desember,” ujarnya saat dihubungi Bisnis/JIBI, Senin (26/11/2018).

Dalam pertemuan Parlemen Inggris, kemungkinan besar hasil KTT Uni Eropa akan menjadi bahasan utama. Hal itu cukup positif, menegaskan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada April 2019 kemungkinan akan mendapat suatu keputusan yang pasti dan akan sangat didukung oleh pasar.

Kedua, pada 30 November di Brasil akan diadakan pertemuan G20 di mana Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu untuk membahas masalah perang dagang. Apabila dalam pertemuan tesebut tidak ada kesepakatan, kemungkinan besar AS akan melanjutkan pemberlakuan tarif senilai US$257 miliar kepada China.

“Artinya [rupiah] masih dalam tahap adem ayem untuk pekan ini, dan pembicaraan perang dagang baru akan memberikan gejolak pada pekan depan. Kemungkinan baru akan ada keputusannya pada Sabtu, jadi gejolaknya baru pekan depan apakan akan ada kesepakatan atau tidak,” lanjut Ibrahim.

Namun, saat ini fokus pasar lebih besar ke pergerakan politik di Uni Eropa dan Inggris dan Italia. Masalah di Italia dengan Uni Eropa yang sudah bertemu dengan sejumlah Menteri Italia dan akan merevisi anggaran belanja. Hal ini memberikan efek positif bagi mata uang Italia dan membuat dolar AS--yang menjadi lawan euro--mengalami pelemahan.

Di sisi lain ECB pekan ini juga akan melakukan pertemuan dan kemungkinan besar akan terus melakukan pelonggaran kuantitatif karena perlambatan ekonomi global. Hal ini akan membawa gejolak khusunya pada pekan depan.

“Kemudian, harga minyak mentah dunia, ini juga ikut mendukung pelemahan dolar AS dari segi eksternal. Kondisi Indonesia dengan harga minyak mentah yang turun membuat anggaran impor menjadi mereda, walaupun masih cukup besar. Tapi dengan penguatan rupiah ya cukup memberi keuntungan,” ungkapnya.

Dari internal, kenaikan suku bunga acuan hingga 6%, ditambah pemerintah yang melakukan peluncuran paket kebijakan ekonomi ke 16. Hal itum menjadi cerminan bahwa pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan masih terus mengawasi fundamental pergerakan ekonomi Indonesia. Sehingga pelaku pasar sedikit lebih percaya diri terhadap perekonomian Indonesia dan membawa penguatan yang cukup bagus.

Dalam perdagangan di pekan ini atau besok Ibrahim memproyeksikan mata uang Garuda bisa menguat ke Rp14.410 per dolar AS dan melemah karena antisipasi pernyataan tentang The Fed dan perang dagang di Rp14.551 per dolar AS.

“Kami melihat bahwa rupiah di pekan ini cukup kokoh jadi kemungkinan target pemerintah di Rp14.400 per dolar AS bisa tercapai di November ini,” ujarnya.

Sumber : Bisnis/JIBI